panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Suara Muria
16 September 2008
Sabet Beraksi Potong Dana BLT
  • Pembagian Nomor Ricuh
REMBANG - Pelaksanaan pembagian bantuan langsung tunai (BLT) di Kantor Pos Kota ricuh, kemarin. Pasalnya, warga yang sebagian besar berasal dari Desa Pulo, Kecamatan Kota itu, saling berebut dan berdesakan karena tidak sabar antre pembagian nomor urut. Akibatnya beberapa warga lanjut usia (lansia) terjengkang saat rebutan.

Edi Legiman, salah satu warga mengatakan, warga desa saling berdesakan karena takut tidak dapat nomor urut. ”Namanya juga orang desa. Biar sudah dikasih penjelasan nomor urut tidak akan habis, mereka tetap saja takut kehabisan nomor urut. Jadinya ya desak-desakan seperti ini,” jelasnya.

Atas kejadian itu, petugas kantor pos terus berupaya memberikan penjelasan kepada warga Desa Pulo untuk bisa tertib dalam mengantre. Petugas juga meminta kepada warga yang lebih muda untuk mengalah kepada warga lansia.

“Kami sudah upayakan maksimal memberikan sosialisasi kepada warga untuk antre secara tertib. Kami sangat menyayangkan warga yang tidak mematuhi sosialisasi yang kami berikan dan masih saja berdesakan saat mengambil nomor antre,” tutur Kepala Kantor Pos Salamun.  

Sabet

Pembagian BLT di Kantor Pos Kota juga masih diwarnai dengan sabet. Mereka yang biasanya orang kepercayaan perangkat desa itu, meminta sebagian uang milik warga penerima BLT.

Uang itu kemudian dibagikan rata kepada warga desa lain yang tidak menerima BLT. Atas adanya para sabet yang beroperasi di luar loket ini, pihak kantor pos tidak bisa berbuat banyak, sedangkan dari warga hanya mengaku pasrah. ”Karena sudah kesepakatan bersama di desa,” tutur seorang warga yang enggan untuk disebut namanya.

Terpisah, anggota DPRD Ahmad Cholid Suyono mengaku, fenomena sabet itu justru merajalela di desa-desa pelosok. Pemotongannya pun bervariasi antara Rp 50.000 hingga Rp 200.000 per warga.

”Pemotongan seperti ini sudah sangat jamak terjadi pada penerima BLT di desa pelosok. Kami hanya bisa mengetuk kesadaran semua pihak untuk tidak memotong hak dari warga yang miskin dan membutuhkan uang BLT,” tegasnya. (H19-76) (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER