panel header


DHUWUR WEKASANE, ENDHEK WIWITANE
Akhirnya Mulia, yang semula sederhana
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Suara Muria
16 September 2008
Ingin Bunyi Keras, Harus Didoakan Dulu
  • Oleh Budi Cahyono
DI setiap sudut masjid di nusantara ini, sebagian besar masih menggunakan beduk untuk memberikan tanda waktu masuknya shalat. Berbagai macam bentuk dan ukuran memang tergantung dari besar kecilnya masjid.  Tetapi apa pun bentuk dan besar ukurannya, fungsi beduk dari dulu hingga sekarang masih tetap sama.

Membuat beduk sebenarnya tidak terlintas di benak H Maskun (55). Pekerjaannya  semula hanyalah seperti pada umumnya warga Jepara yang setia pada bidang permebelan. Awalnya, Ma’un begitu dia disapa adalah pembuat lemari, meja, dan kursi. Tetapi 10 tahun terakhir ini, bisnisnya berubah dengan menekuni pembuatan beduk. “Ceritanya panjang sebelum saya menekuni pembuatan beduk ini,” katanya, di bengkelnya Raja Beduk Jalan Raya Senenan RT 2 RW 1, Senin (15/9).

Mulanya dirinya sering berziarah ke Makam Sunan Kalijaga. Di lokasi sekitar makam melihat ornamen-ornamen yang bertuliskan huruf Arab dengan kaligrafinya. Lama kelamaan, niatnya untuk membuat ornamen dengan hiasan di lingkungan masjid semakin menggumpal. Akhirnya, dirinya berputar haluan dengan memilih membuat beduk. “Beduk itu kan juga merupakan bagian dari masjid, jadi saya mencoba untuk membuat beduk dengan suara yang nyaring. Itu bukti syiar saya,” katanya.

Dengan bantuan delapan karyawannya, Ma’un mampu membuat beduk dalam sebulan empat buah dengan diameter dari  paling terkecil 90 cm hingga 160 meter dengan panjang 180 cm - 2 meter sesuai dengan pesanan. Harga yang dipatok dari Rp 15 juta- Rp 30 juta dengan bahan kayu jati.

“Untuk membuat beduk agar nyaring ada rahasianya. Kalau saya pribadi dengan berdoa mengucapkan asma Allah dan memohon kepada-Nya, itu saja,” ungkapnya sembari menyervis sebuah beduk milik masjid di Kalinyamatan.

Diberi Doa-doa

Beduk yang diperbaikinya itu diservis, karena kulitnya sudah rusak dan suaranya tidak nyaring lagi dan dibalik semuanya itu, beduk itu tidak diberi doa-doa dengan kemuliaan Allah oleh pemiliknya terdahulu. “Ini salahnya. Beduk kan untuk menyiarkan ajaran dengan mengingatkan waktu shalat kan harus diberi doa untuk kemuliaan Allah,” katanya, dengan mimik muka serius.

Namun usahanya ini mendapat kendala yakni penyediaan kulit kerbau yang sangat sulit didapat. Pasokan kulit itu didapat dari Kudus. Pernah dirinya mencoba mendatangkan dari luar Jawa, namun hasilnya tidak memuaskan.  “Ketika dijemur lama keringnya, karena kulit itu mengandung banyak garam. Jadi, saya yang rugi. Kulit kerbau ini kebanyakan dipasok dari pera penjagal hewan, mereka datang sendiri ke bengkel saya,” tandasnya.

Beduk yang tergeletak di bengkelnya sudah pesanan dari Bangka Belitung dan luar daerah Jepara lainnya. Bahkan hasil kerajinannya telah menggapai Brunei Darussalam, Malaysia, dan Bangladesh. Tidak hanya membuat beduk saja, Mu’in mengerjakan mimbar untuk masjid yang dhiasi dengan ornamen serta tulisan kaligrafi yang indah. “Kalau mimbar ini saya benderol dengan harga Rp 7 juta- Rp 15 juta tergantung dari besar kecilnya ukuran dan ornamennya,” ujarnya. (36) (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER