panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
09 September 2008
Wisata Alternatif Nusakambangan
  • Oleh Chusmeru
NUSAKAMBANGAN lebih dikenal sebagai penjara atau lembaga pemasyarakatan (lapas). Nama-nama besar pernah tercatat sebagai ’’penghuni’’ pulau kecil di selatan Kota Cilacap itu. Misalnya Jhony Indo, konglomerat Bob Hasan, Tommy Soeharto, pelaku sodomi/pembunuh berantai Robot Gedeg, trio teroris bom Bali (Amrozi, Imam Samudra, Ali Gufron), serta Rio Alex Bulo yang dieksekusi 8 Agustus lalu.

Saat ini wisatawan yang berkunjung ke Cilacap dapat menikmati pantai Teluk Penyu, Benteng Pendem, dan wisata bahari dari dermaga Seleko menyusuri Segara Anakan di pinggiran Nusakambangan. Sesungguhnya Nusakambangan dapat dikembangkan sebagai objek dan daya tarik wisata (ODTW) alternatif. Potensi flora dan fauna di pulau ini layak dijadikan wisata alternatif (alternative tourism) maupun wisata minat khusus (special interest tourism).

Pariwisata alternatif selalu berorientasi pada kualitas wisatawan dan kesinambungan objek wisata. Orientasi kualitas menjadi penting untuk menjaga kelestarian lingkungan ekologis dan keamanan lapas. Pariwisata yang berkualitas (quality tourism) tidak memerlukan wisatawan dalam jumlah banyak (mass tourist). Namun lebih mengutamakan wisatawan individual atau kelompok yang memiliki minat khusus studi atau meneliti, seperti para pelajar, mahasiswa, dan lembaga penelitian. Bisa juga wisatawan atau masyarakat umum yang berminat terhadap flora-fauna di Nusakambangan.

Jaminan kelestarian dan kesinambungan lingkungan mutlak diperlukan. Nusakambangan memiliki hamparan pasir yang indah di pantai bagian selatan. Jika dikembangkan menjadi mass tourism, dikhawatirkan akan bernasib sama dengan pantai Kuta di Bali. Abrasi dan pencemaran lingkungan di Kuta terjadi setiap hari. Pantai Kuta kini kelihatan begitu kotor oleh sampah.

Berbagai jenis burung khas, kalong, celeng, dan harimau juga terdapat di Nusakambangan. Populasinya kini nyaris punah, karena tak jelas konsep konservasinya. Nusakambangan juga memiliki tumbuhan langka yang perlu dijaga kelestariannya. Menurut Prof Rubiyanto Misman (2008), di pulau ini terdapat tumbuhan endemik Dipterocarpus litoralis dan Shorea javanica yang memiliki kualitas bagus.

Jenis tanaman tersebut tentu menarik untuk diamati para pelajar, mahasiswa, dan peneliti. Namun menurut mantan rektor Unsoed ini, Botanical Garden New York sempat menyayangkan pembalakan liar terhadap tanaman ini. Padahal spesies kayu tersebut termasuk yang langka di dunia.

Rambu-rambu

Nusakambangan hanya mungkin untuk dikembangkan sebagai wisata alternatif dan minat khusus. Sambil mengamati tumbuhan langka, wisatawan juga dapat menyaksikan beberapa penjara yang ada di Nusakambangan. Tentunya hanya dapat melihat bagian luar penjara serta tidak dimaksudkan untuk mencibir para tahanan.
Dengan menyaksikan penjara, para wisatawan selalu diingatkan lebih berhati-hati dalam berperilaku agar tak mendekam di Nusakambangan. Lebih menarik jika dibuatkan daftar nama napi yang pernah menghuni penjara, berikut tindak kejahatan yang dilakukan. Bangunan kuno penjara juga perlu dipertahankan arsitekturnya, sehingga tampak menjadi Alkatras-nya Indonesia. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, jika dapat berfoto di depan penjara Nusakambangan.

Mengingat hingga kini Nusakambangan masih dipertahankan fungsinya sebagai lapas, maka wisatawan yang berkunjung perlu dibuatkan rambu-rambu sebagai berikut:
Pertama, izin berkunjung dari Menteri Hukum dan HAM atau Kanwil Departemen Hukum dan HAM Jawa Tengah. Ini perlu diketahui biro perjalanan wisata untuk mengurus prosedur dan birokrasi perizinan. Penghuni Lapas Nusakambangan adalah tahanan yang ’’berkelas’’, seperti koruptor kakap, pembunuh sadis, jaringan narkoba dunia, dan teroris. Diperlukan pengawasan dan pejagaan ketat terhadap tahanan, dan diperlukan syarat khusus bagi pengunjung Nusakambangan.

Kedua, tujuan atau motif berwisata ke Nusakambangan benar-benar hanya untuk studi, mengamati, serta meneliti keindahan potensi dan penjara yang ada. Jadi wisatawan yang berkunjung memang mempunyai minat khusus sesuai dengan konsep pariwisata alternatif.

Penetapan motif wisatawan penting untuk membuat batas tempat-tempat yang tak boleh dilanggar wisatawan (forbidden area zoning). Wisata alternatif Nusakambangan bisa dipadukan dengan wisata Kampung Laut, wisata sejarah Benteng Pendem, dan wisata memancing di pinggiran Nusakambangan.

Ketiga, diperlukan batas waktu kunjungan. Wisatawan tidak mungkin menginap di Nusakambangan. Sebaiknya juga tidak dibangun hotel atau penginapan, karena akan membuat Nusakambangan semrawut di masa depan. Wisatawan bisa menginap, berbelanja, dan menikmati atraksi kesenian di Kota Cilacap.

Hasil karya para napi, seperti batu akik, anyaman atau hasil kebun bisa dipasarkan di kios cenderamata yang dibuat di dermaga penyeberangan Wijaya Pura. Dibutuhkan kajian dan perencanaan lebih matang jika gagasan wisata alternatif itu hendak direalisasi. Banyak kasus pulau kecil di Indonesia mengalami kerusakan ketika dikembangkan menjadi kawasan wisata. Perizinan dan rambu-rambu untuk wisatawan bukan bermaksud menambah kesan seram pulau Nusakambangan.

Pariwisata alternatif memang mengutamakan kualitas wisatawan dan kelestarian ODTW. Justru kesan menyeramkan bisa berkurang dengan dikembangkannya pariwisata alternatif di Nusakambangan. (32)    

— Chusmeru, dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed, Purwokerto.

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER