panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Suara Pantura
06 Mei 2008
Timur Coba Ubah Kegetiran lewat ”Rindu Hamidah”
PENYAIR dari Semarang, Timur Sinar Suprabana memukau saat tampil di Gedung Kesenian Kota Tegal, Minggu malam (4/5). Ketegasan pelafalan, sikap gerak tubuh, bahkan sampai cara dia menyampaikan pesan-pesan pun sangat menarik untuk ditonton. Begitu banyak istilah-istilah bermuara pada titik ketidakberdayaan tersimpan di dalamnya.

Kata-kata seperti ketakutan, kecemasan, kematian atau kehilangan harapan, banyak tersirat pada susunan larik. Bahkan untuk ungkapan cinta sekali pun, yang muncul adalah bahasa yang perih dan amat getir.

Melalui puisi-puisinya ia mencoba menggugah para pekerja seni Kota Tegal dan sekitarnya yang hadir dalam pertunjukan seni baca puisi berlabel ”Rindu Hamidah” yang diselenggarakan Akademi Budaya Kota Tegal.

Pasalnya, sudah terlalu banyak konflik atau persoalan yang terjadi di Indonesia, karena bangsa ini mulai kehabisan kepedulian dan cinta. Terbukti, hampir setiap hari selalu ada berita-berita tentang perselisihan atau kekerasan di berbagai surat kabar.

Pria berambut gondrong yang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 4 Mei 1963 dari pasangan Bolo Soetiman dan Moenasijah Mu itu, merasa prihatin dengan kondisi tersebut.

Kurang Berpihak

Karena itu, melalui karyanya berusaha mengubah dan memberikan masukan terhadap kebijakan pemerintah yang selama ini dinilai kurang berpihak dengan rakyat kecil.

Untuk mengomunikasikan karya-karyanya ke publik melalui pembacaan puisi ” Rindu Hamidah” ia berkeliling di banyak kota di Indonesia, termasuk Kota Tegal.

Malam itu, Timur usai membacakan sejumlah puisinya, menggelar dialog dengan para penonton. Nampak hadir dalam kegiatan tersebut, Bupati Tegal Agus Riyanto, Atmo Tan Sidik, Tambari Gustam, Anton Surono dan Suriali Andi Kustomo. Di antara mereka ada yang mengulas tentang puisi-puisi yang dibacakan Timur, termasuk ”Rindu Hamidah” yang dimaksud.

Menurut timur, Hamidah hanyalah sebuah simbol atau sebutan bagi seorang wanita yang berjuang dalam kesetaraan gender. Semangat dan kegigihan mereka perlu didukung untuk memberikan warna dalam berbagai bidang kehidupan.(Wawan Hudiyanto-17)   
(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER