panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
home > Bicara Fakta
05 Desember 2011 | 12:51 wib
Kepentingan Politik dalam Ajang Pemilihan Ketua KPK ?
image


KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI
(KPK) akhirnya mempunyai pimpinan-pimpinan baru periode 2011-2015. Para algojo korupsi baru tersebut sukses ditetaskan Komisi III DPR melalui mekanisme voting, Jumat (2/12). Sejumlah kasus besar yang selama ini menjadi sorotan publik dan menjadi pekerjaan rumah pemerintah langsung disodorkan. Pekerjaan rumah tersebut seolah menjadi tolak ukur, pantas tidaknya sejumlah nama memimpin KPK.

Mengapa Abraham Samad ?

Abraham Samad, advokat muda kelahiran Makassar ini sukses mendepak sejumlah nama lain yang dijagokan akan memperoleh kursi pimpinan KPK. Tak ayal kemudian Komisi III DPR dicurigai, sengaja mengerek nama tokoh muda ini karena "takut" pada sejumlah calon lain yang menonjol prestasinya selama ini dalam melawan korupsi. Panitia seleksi (Pansel) KPK bahkan kemudian menilai bahwa DPR lebih memilih berdasarkan pertimbangan politik.

Sejumlah kekecewaan bahkan "tak sengaja" terucap dari Komisi III DPR sendiri. Ketua Komisi III Benny K Harman kecewa ketika unggulan Partai Demokrat, Yunus Husein tidak terpilih. Benny bahkan menyindir partai-partai koalisi yang suka untuk "lompat-lompat pagar".

Padahal pada waktu seleksi, nama Abraham Samad seolah tenggelam dibalik nama-nama besar lain, seperti Abdullah Hehamahua, Yunus Husein dan Bambang Widjojanto. Namun begitu, agaknya kita perlu memandangnya dari kacamata lain.

Walau dikata masih "anak bawang" dibanding calon lainnya, sosok Abraham Samad dirasa dapat memberikan nuansa lain bagi KPK. 

Sosok yang dikenal sebagai "pemuda antikorupsi" di daerahnya ini selayaknya dapat dengan sepenuh tenaga didorong agar berhasil dan tidak pandang bulu dalam melibas korupsi. Usia yang masih 45 tahun dihararapkan dapat membawa angin segar di KPK. Semangat mudanya diharapkan, memberi nuansa spontanitas dan tidak pandang bulu di KPK, ketegasan, menghapus budaya ewuh pakewuh.

Ketidakterkenalan Samad justru dapat menjadi keunggulan baginya. Lawan-lawan KPK sulit melancarkan intervensi pada dirinya, karena mereka belum mengerti sosok Samad sebenarnya.

Ketegasan Samad bahkan telah nampak saat beberapa waktu lalu dia hadir dalam acara televisi. Dia minta maaf apabila kedepannya tidak terlalu memenuhi permintaan wawancara oleh media massa. KPK menurutnya harus lebih banyak bekerja daripada berbicara dan fokus kepada tugas utama yakni melakukan pemberantasan korupsi di tanah air.

Pekerjaan Rumah KPK Baru

Empat dari delapan calon pimpinan KPK terpilih yakni Abraham Samad, Bambang Widjojanto, Zulkarnain, Adnan Pandupraja, ditambah Busyro Muqqodas, diharap dapat merampungkan sejumlah kasus besar yang menjadi pekerjaan rumah negeri ini.

Beberapa kasus besar tersebut antara lain, skandal pemberian dana talangan Bank Century, keterlibatan petinggi Partai Demokrat dalam korupsi mantan bendahara umum Muhammad Nazaruddin, dan perburuan terhadap istri mantan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Adang Daradjatun, Nunun Nurbaeti.

Kasus-kasus tersebut dirasa menggantung, karena hingga kini masih belum terselesaikan. Seolah menunggu waktu terus berjalan, kemudian menguap begitu saja.

Baiknya KPK memiliki pemetaan atau road map agar tidak bekerja secara "acak-acakan". Selama ini kasus-kasus kecil yang selalu ditindak lanjuti sedangkan kasus besar dibiarkan lama, hingga menguap. Hal tersebutlah yang kemudia melandasi pemikiran bahwa KPK cenderung tebang pilih.

Tirulah KPK Hongkong, pimpinan baru KPK justru memulai gebrakan dengan membersihkan penegak hukum seperti kepolisian dan kejaksaan.

Profil Abraham Samad:

NAMA PROFIL KARIR VISI DAN MISI
Abraham Samad
Lahir Makassar, Sulawesi Selatan, 27 November 1966.
Menyelesaikan sarjana di Universitas Hasanuddin, kemudian melanjutkan studi hingga doktor di universitas yang sama pada 2010. Memulai karirnya di bidang hukum sebagai pengacara. Selain itu, dia pun berkiprah dan aktif di lembaga swadaya masyarakat (LSM) anti korupsi, Anti Corruption Committee (ACC) di Sulawesi Selatan. - Memprioritaskan penyidik yang berasal dari kalangan independen, bukan dari kepolisian atau kejaksaan. Tujuannya agar KPK lebih kuat.
- Memprioritas kasus korupsi kelas kakap. Sementara korupsi yang berskala kecil akan ditangani oleh kepolisian dan kejaksaan.
- Membuat pemetaan kerja KPK, agar tak lagi bekerja secara serampangan.


( Tiko Septianto / CN32 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga
Komentar dari FB


Panel menu
17 Mei 2012 | 08:25 wib
Dibaca: 29
17 Mei 2012 | 08:13 wib
Dibaca: 78
17 Mei 2012 | 08:02 wib
Dibaca: 126
17 Mei 2012 | 07:50 wib
Dibaca: 125
17 Mei 2012 | 07:40 wib
Dibaca: 177
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER