
14 Juli 2011 | 16:12 wib
SEORANG orang tua yang berusaha mengkritik sistem pendidikan di Sekolah anaknya, harus menanggung akibat anaknya dikeluarkan dari sekolah. Hal ini dialami oleh Lilis Setyowati, anaknya, Yoga dan Yogi harus dikeluarkan dari sekolah gara-gara ia membuat surat pengaduan dan laporan ketidakwajaran proses belajar-mengajar serta manajemen (administrasi) sekolah.
Yoga dan Yogi merupakan dua bocah kembar yang bersekolah di SDN Sitirejo IV, Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lilis, sang ibu merasa kecewa dengan tempat kedua anaknya bersekolah dan berusaha menyampaikan kritiknya. Dia mengirim pengaduannya tersebut dan membuat laporan ketidakwajaran proses belajar-mengajar serta manajemen (administrasi) sekolah yang amburadul kepada Bupati Malang, Rendra Kresna.
"Kami hanya membuat laporan tersurat. Surat pengaduan ini juga ditandatangani oleh 39 orang wali murid lainnya. Namun, kalau yang dikeluarkan hanya kedua anak saya, itu tidak adil," tegas orangtua Yoga dan Yogi, Lilis Setyowati, di pendapa Pemkab Malang
Surat pengaduan kepada bupati, wali murid kelas I (saat itu) juga membuat tembusan kepada Kepala Dinas Pendidikan, Bawasda, dan Kepala UPT Pendidikan TK, SD, dan PLS Kecamatan Wagir.
Tindakan tersebut rupanya berbuah kemarahan dari pihak sekolah, dan bahkan memancing permusuhan wali murid lainnya. Lilis mengancam pernah diancam oleh pihak sekolah, yang berencana akan menuntutnya.
Lilis mengadukan pihak sekolah dengan harapan untuk perbaikan kualitas sekolah, dan ia mengaku bahwa hal tersebut juga telah disetujui oleh beberapa wali murid yang lain. Tetapi, kini wali murid yang lain justru berbalik menyerangnya.
Hal tesebut terlihat, saat mediasi yang kemudian dilakukan disekolah,untuk mendamaikan kedua belah pihak. Yoga Prakoso dan Yogi Prakoso, menangis Rabu (13/7) mendengar cemoohan dari wali murid lain hadir dalam mediasi tersebut. Para wali murid tersebut menolak Yoga-Yogi kembali bersekolah di SDN Sitirejo 04.
"Pokoknya saya enggak mau kalau Yoga dan Yogi sekolah di sini lagi," teriak Nursiah, seorang wali murid di halaman SD tersebut.
Usai mediasi tersebut, akhirnya pihak sekolah meminta maaf kepada orangtua Yoga-Yogi atas kebijakan yang telah dikeluarkannya. Yoga dan Yogi bisa bersekolah lagi. Kejadian yang baru dialami Yoga dan Yogi diharap tidak menimbulkan trauma, walau pihak sekolah telah berjanji akan memperlakukan keduanya sama seperti murid-murid lainnya.
( Tiko Septianto /CN32 )
Powered by Telkomsel Blackberry
BANDUNG, suaramerdeka.com - Aula Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Sabtu pekan lalu (4/2) demikian meriah. Ribuan…
Solo, CyberNews. Universitas Muhamamdiyah Surakarta (UMS) memberikan beasiswa bagi 165 mahasiswa baru. Ada tiga…
Solo, CyberNews. Menjelang penutupan pendaftaran pada 20 Agustus mendatang, saat ini jumlah calon mahasiswa yang…
Semarang, CyberNews. Saat ini ada tiga teori yang dapat digunakan dalam perhitungan arah kiblat dari permukaan…
Semarang, CyberNews. Prof Dr Jamaludin Darwis MA ditetapkan sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus)…
Semarang, CyberNews. Setelah melewati tahapan Lomba Sekolah Sehat (LSS) dari tingkat kota dan karesidenan, akhirnya…
JAKARTA, CyberNews. Tahun 2011 pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan perguruan…
SEORANG orang tua yang berusaha mengkritik sistem pendidikan di Sekolah anaknya, harus menanggung akibat anaknya…