
31 Mei 2011 | 23:42 wib
SEMANGAT: Peserta SNMPTN Jalur Tertulis, Adhi Swandaru semangat mengerjakan soal-soal dibimbing anggota Menwa dan Racana Pramuka Undip di selasar gedung A FE Undip Tembalang, meski memiliki keterbatasan fisik.
Semarang, CyberNews. Kursi perguruan tinggi negeri (PTN) masih menjadi buruan utama para lulusan SMA. Betapa tidak, meski mengalami tuna netra, Adhi Swandaru (18), tetap terpantik semangatnya mendaftar seleksi nasional mahasiswa perguruan tinggi negeri (SNMPTN) hingga mengikuti ujian yang berlangsung dua hari mulai Selasa (31/5).
Baginya, keterbatasan bukanlah penghalang menggapai cita dan asa. Hal itu membuat iba orang-orang di sekitarnya. Panitia SNMPTN di Undip pun mengerahkan seorang anggota Menwa dan Racana Pramuka Undip untuk membacakan serta membulati lembar jawaban komputer SNMPTN di selasar gedung A FE Undip Tembalang.
Meski mengalami tuna netra sejak usia 9 tahun, lulusan SMA Negeri 2 Kendal itu bergairah menjawab soal-soal SNMPTN sebagai jembatan menggapai cita-cita menjadi guru.
Harapan Adhi memang tak mudah digapai. Namun, dengan bekal kemampuan akademik dan persiapan ketat sebelumnya yakni belajar dari buku maupun bahan-bahan dari internet, peluang itu menjadi setara dengan peserta normal lain. Ya, meski pandangannya serba gelap, di saat bersamaan, dia justru tekun belajar. Tak ada sama sekali rasa putus asa di raut wajahnya.
Soal-soal SNMPTN yang disodorkan kepada Adhi memiliki bobot serupa dengan peserta lain. "Selama beberapa bulan terakhir pra-SNMPTN, waktu belajar Adhi memang ditambah dengan bimbingan dari saya dan ibu. Kami berupaya keras untuk membimbingnya," kata Novika, kakak Adhi yang mengantar dan menunggui hingga selesai ujian.
Dikatakan Novika, sejak kecil, adik kesayangannya itu memang sangat ingin menjadi guru. Namun, dia bersama orang tua, berpikir lebih matang, guru bidang atau tingkat apa yang cocok bagi Adhi yang notabene memiliki kecacatan fisik.
"Akhirnya, kami sarankan dia mendaftar di jurusan pendidikan guru sekolah dasar (PGSD) Unnes. Itu pilihan pertama, sedangkan pilihan kedua kami arahkan ke PPKN," ujar dia.
Dia mengakui, meski memiliki kelainan saraf optik dan tak bisa disembuhkan, adiknya itu memiliki motivasi tinggi untuk menyelesaikan sekolah dari tingkat dasar hingga tuntas. "Puji syukur, dia selalu naik kelas, meski amat jarang meraih ranking 10 besar," imbuhnya.
Adhi merupakan salah seorang peserta ujian SNMPTN jalur tertulis yang memiliki cacat fisik. Panitia Lokal 42 SNMPTN Semarang mencatat tujuh peserta berkebutuhan khusus, yakni satu peserta tunarungu, tiga peserta tunanetra, dua peserta tunadaksa, dan satu peserta tunawicara yang tersebar di 45 lokasi di Kota Semarang.
Salah satu peserta tunadaksa yang mengerjakan ujian di Fakultas Teknik Lingkungan Undip yakni Slamet Widodo, sedangkan penyandang tunawicara yang melaksanakan tes di Fakultas Peternakan atas nama Armando Albensani.
Selain itu, ada 46 peserta yang buta warna sebagian dan keseluruhan. Meski begitu, mereka tidak perlu mendapat layanan khusus karena soal dicetak hitam putih.
Hadziq Jauhary
( Hadziq Jauhary /CN32 )
Powered by Telkomsel Blackberry
Baca Juga
BANDUNG, suaramerdeka.com - Aula Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Sabtu pekan lalu (4/2) demikian meriah. Ribuan…
Solo, CyberNews. Universitas Muhamamdiyah Surakarta (UMS) memberikan beasiswa bagi 165 mahasiswa baru. Ada tiga…
Solo, CyberNews. Menjelang penutupan pendaftaran pada 20 Agustus mendatang, saat ini jumlah calon mahasiswa yang…
Semarang, CyberNews. Saat ini ada tiga teori yang dapat digunakan dalam perhitungan arah kiblat dari permukaan…
Semarang, CyberNews. Prof Dr Jamaludin Darwis MA ditetapkan sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus)…
Semarang, CyberNews. Setelah melewati tahapan Lomba Sekolah Sehat (LSS) dari tingkat kota dan karesidenan, akhirnya…
JAKARTA, CyberNews. Tahun 2011 pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan perguruan…
SEORANG orang tua yang berusaha mengkritik sistem pendidikan di Sekolah anaknya, harus menanggung akibat anaknya…