
26 Mei 2011 | 19:40 wib
Semarang, CyberNews. Pendidikan Pancasila jangan dianggap sebagai bentuk indoktrinasi bagi para pelajar di tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pasalnya, Pendidikan Pancasila justru kaya muatan karakteristik dan moralitas bagi pelajar yang sifatnya akademis maupun intelektual.
"Anggapan bahwa Pendidikan Pancasila merupakan indoktrinasi yang dihembuskan penguasa Orde Baru dulu, tidaklah benar. Terbukti bahwa kini, Pendidikan Pancasila amat dibutuhkan sebagai pedoman para generasi muda dalam membangun negara dan
memiliki rasa nasionalisme tinggi sehingga dapat turut mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia," kata Mantan Meteri Pendidikan Nasioanal Prof Dr Wardiman Djojonegoro usai menjadi pembicara seminar di Semarang, Rabu (25/5).
Untuk itu, kini, masyarakat bersama pemerintah harus lebih memikirkan hal-hal penting lain dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional dan lulusan sehingga memiliki daya saing tinggi di dunia industri atau dengan negara lain. Dia
mengingatkan bahwa jumlah pengangguran masih banyak.
"Masih banyak yang harus dikejar, kita harus bekerja keras. Saat ini, kita harus berpikir keras bagaimana sebagian lulusan SMA bisa bekerja dan sebagian lain terus kuliah dan kelak dapat langsung bekerja yang layak. Jangan justru memikirkan asal-usul kenapa Pendidikan Pancasila muncul. Ini suatu kemunduran," ungkapnya.
Dikatakan, dihapuskannya Pendidikan Pancasila dalam kurikulum pendidikan nasional, merupakan blunder dari pemerintah pasca-Orde Baru. Tak heran jika kini, banyak pelajar yang mudah terpedaya budaya Barat seperti pergaulan bebas dan hidup mewah, hingga terpengaruh paham-paham sesat semacam kegiatan makar atau organisasi Negara Islam Indonesia.
Hal senada dikatakan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Prof Kacung Maridjan. Menurutnya, penerapan Pendidikan Pancasila selama ini tidaklah salah. Hanya saja, para pemimpinnya saat pendidikan itu masih diterapkan, tidak memberi teladan yang baik untuk para pelajar.
"Tak heran jika kemudian, gurulah yang jadi korban. Sebab, guru telah menanamkan nilai-nilai Pancasila yang tepat kepada siswa. Kalau para pemimpin di luar tidak menerapkan nilai-nilai Pancasila, kan percuma. Otomatis, para pelajar terutama yang berusia SD hingga SMA, meniru perilaku pemimpinnya yang bobrok itu. Kalau kondisinya begini terus, susah Indonesia bisa maju," ujar Kacung.
Tantangan terbesar bangsa saat ini, kata dia, yakni menanamkan nilai-nilai Pancasila secara penuh pada diri generasi muda. Meski pendidik menjadi penjaga pintu tersalurkannya Pendidikan Pancasila secara penuh kepada para pelajar, tetapi peran pemerintah untuk mengembalikan Pendidikan Pancasila dalam kurikulum pendidikan nasional justru lebih penting.
"Selain itu, menyempurnakan pendidikan tersebut sehingga bisa secara penuh dihayati untuk diterapkan secara benar," imbuhnya.
( Hadziq Jauhary /CN32 )
Powered by Telkomsel Blackberry
BANDUNG, suaramerdeka.com - Aula Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Sabtu pekan lalu (4/2) demikian meriah. Ribuan…
Solo, CyberNews. Universitas Muhamamdiyah Surakarta (UMS) memberikan beasiswa bagi 165 mahasiswa baru. Ada tiga…
Solo, CyberNews. Menjelang penutupan pendaftaran pada 20 Agustus mendatang, saat ini jumlah calon mahasiswa yang…
Semarang, CyberNews. Saat ini ada tiga teori yang dapat digunakan dalam perhitungan arah kiblat dari permukaan…
Semarang, CyberNews. Prof Dr Jamaludin Darwis MA ditetapkan sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus)…
Semarang, CyberNews. Setelah melewati tahapan Lomba Sekolah Sehat (LSS) dari tingkat kota dan karesidenan, akhirnya…
JAKARTA, CyberNews. Tahun 2011 pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan perguruan…
SEORANG orang tua yang berusaha mengkritik sistem pendidikan di Sekolah anaknya, harus menanggung akibat anaknya…