
22 Mei 2011 | 21:51 wib
ENERJIK: Para pemeran Sendtratari "Sandya Kalaning Majapahit" tampil enerjik dihadapan 600 mahasiswa, dosen, kepala sekolah se-Kota Semarang dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional dan Dies Natalis IKIP PGRI ke-30 di aula kampus
Semarang, CyberNews. Mengukur kemampuan diri menjadi hal penting dalam suatu peperangan. Itulah yang dilakukan pasukan Majapahit saat menghadapi Adipati Minakjingga yang dikenal sakti mandraguna, meski kemudian membuat Minakjingga tinggi hati. Karena merasa unggul, Minakjingga semakin sombong dan mbalela, termasuk memperistri Ratu Ayu Kencanawungu, istri Raja Majapahit Kencanawungu, yang cantik jelita.
Rakyat Majapahit pun makin takut kepada Minakjingga. Sementara Kencanawungu pasrah kepada Tuhan, salah satu bentuknya bersemedi. Pada semedi itulah, dia mendapat bisikan ghaib bahwa akan ada laki-laki bernama Damarwulan yang bangkit melawan dan mengalahkan Minakjingga. Kebetulan, lelaki dalam mimpi Kencanawungu tersebut merupakan abdi Patih Kerajaan Majapahit, Logender bahkan kemudian dikawinkan dengan Raden Ayu Anjasmara, putri Patih Logender.
Pada suatu ketika, Damarwulan mendapat tugas dari Ratu Ayu Kencawungu agar menuju sebuah taman di Blambangan, menemui dua selir Minakjingga (Wahita dan Puyengan). Tanpa pikir panjang, dia menuju lokasi yang dimaksud. Sesampai di Blambangan, dia justru menjadi tempat curhat dua selir raja. Dari situ, Damarwulan mengetahui, ternyata dua selir tersebut jengkel karena Minakjingga tidak mau diajak kawin. Mereka memutuskan ingin lari dari kerajaan.
Setelah mendengar curhat dua selir Minakjingga melalui Damarwulan, Ratu Kencanawungu menugaskan Layang Seta untuk berpura-pura bersekutu dengan Minakjingga hanya demi mengambil jimat Gada Wesi Kuning. Kencawungu tahu, hanya dengan jimat itu, Minakjingga bisa dibunuh guna menenteramkan kehidupan rakyat. Tak lama kemudian, keberhasilan pun tiba, Minakjingga berhasil dibunuh, Damarwulan diajak menikah oleh Kencawungu. Di tangan Damarwulan, Majapahit dan rakyatnya menjadi jaya.
Ya, cerita di atas diperagakan dalam lima bagian (babak) melalui Sendtratari "Sandya Kalaning Majapahit" yang diperankan oleh para dosen dan penari dari Persatuan Pelatih Tari Kota Semarang di gedung pertemuan lantai 7 IKIP PGRI Semarang Jl Lontar, Sabtu (22/5). Acara yang diadakan dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional dan Dies Natalis IKIP PGRI ke-30 itu dimainkan dihadapan 600 orang terdiri dari mahasiswa, dosen, kepala sekolah se-Kota Semarang, dan Ketua YPLP Perguruan Tinggi PGRI Jateng Dr Sudharto.
Rektor IKIP PGRI, Muhdi mengatakan, pihaknya ingin meningkatkan pendidikan karakter dan jatidiri yang berdasar kearifan lokal kepada para mahasiswa. Melalui sendratari, para mahasiswa diharapkan pula mencintai budaya Jawa, bahkan ikut nguri-nguri dengan bermain seni Jawa seperti karawitan. "Dalam Dies Natalis tahun ini, kami juga ingin meningkatkan karakter dan jatidiri mahasiswa melalui festival seni, drama, band, lomba sains, hingga ceramah agama dari Ustaz Yusuf Mansur dan Jeffry Al Buchori," imbuhnya.
( Hadziq Jauhary /CN32 )
Powered by Telkomsel Blackberry
BANDUNG, suaramerdeka.com - Aula Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Sabtu pekan lalu (4/2) demikian meriah. Ribuan…
Solo, CyberNews. Universitas Muhamamdiyah Surakarta (UMS) memberikan beasiswa bagi 165 mahasiswa baru. Ada tiga…
Solo, CyberNews. Menjelang penutupan pendaftaran pada 20 Agustus mendatang, saat ini jumlah calon mahasiswa yang…
Semarang, CyberNews. Saat ini ada tiga teori yang dapat digunakan dalam perhitungan arah kiblat dari permukaan…
Semarang, CyberNews. Prof Dr Jamaludin Darwis MA ditetapkan sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus)…
Semarang, CyberNews. Setelah melewati tahapan Lomba Sekolah Sehat (LSS) dari tingkat kota dan karesidenan, akhirnya…
JAKARTA, CyberNews. Tahun 2011 pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan perguruan…
SEORANG orang tua yang berusaha mengkritik sistem pendidikan di Sekolah anaknya, harus menanggung akibat anaknya…