panel header


panel menu
panel news ticker
SUARAMERDEKA.com - Semata-mata Fakta
panel iklan Hosrizon
panel main 1

29 Juli 2010 | 12:19 wib

Surat untuk Sang Motivator

  • Oleh Aisyah Aulia Wahida

Kadangkala untuk menjadi seseorang yang istimewa diperlukan pengorbanan dan kerja keras yang sedikit lebih berat dibanding orang lain.
Kadangkala untuk membuat kita menjadi termotivasi untuk berkorban dan bekerja lebih keras kita perlu merasa lebih istimewa dibanding orang lain.
Itulah hikmah yang aku ambil dari semua pengalaman hidupmu. Kerja keras itu lebih berarti dibanding hanya sekedar teori yang sempurna. Meskipun kadang, kerja keras itu menghasilkan sesuatu yang mungkin sangat tidak kita harapkan.
Idolaku, motivatorku. Idolaku bukanlah orang yang hidupnya dipenuhi dengan segala kecukupan. Kau bukanlah orang yang tanpa usaha keras sudah mendapatkan apapun yang kau inginkan. Kaulah orang yang mengajariku, segala sesuatu membutuhkan usaha untuk mendapatkannya.
Di surat ini, aku ingin mengucapkan terima kasih, karena semua hal yang telah kau tunjukkan padaku selama ini, bukanlah hal yang tanpa arti. Hidup di keluarga sederhana yang kadang kau pun bahkan merasa terseok-seok untuk memenuhi kebutuhan hidupmu bukanlah suatu musibah. Kau hanya berkata, "Kita ini istimewa, makanya kita harus berjuang lebih keras dari orang lain."
Ketika sumber penghasilanmu masih belum bisa menutupi segala kebutuhanmu dan keluargamu, kau tempuh semua pekerjaan halal yang bisa menunjang semua kebutuhan yang belum terpenuhi. Berkorban untuk bangun lebih pagi dari biasanya, dan menyiapkan bahan-bahan untuk kemudian membuat jajanan yang nantinya dijual ke kantin di sekolah. Perjuanganmu, yang kala itu kau sendiri yang melakukannya membuatku termotivasi, perjuangan yang lebih berat itu akan menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat juga.
Namun, perjuangan membutuhkan motivasi diri yang lebih besar. Niat dan kemauan yang besar, semangat juang yang besar, ikhtiar yang kuat, dan doa. Kau juga membangun hal itu kepada semua orang yang kau sayangi. Lakukanlah semuanya dengan keras, balasanmu juga akan lebih baik.
Kau juga selalu mengatakan,"Ketika kita berhasil, jangan pernah kau menyombong bahwa kau lebih baik dari orang lain. Yang sepatutnya kau rasakan adalah, rasa syukur yang besar, dan mewujudkannya dengan berusaha lebih keras lagi. Karena tidak selamanya kau akan berada di atas dan lebih baik dari sekarang."
Hal yang sangat kau terapkan di keluarga adalah kemandirian. Sangat kentara sekali bagaimana kau selalu menunjukkan dan menuntun orang-orang yang kau sayangi untuk menjadi pribadi yang mandiri. Meskipun, ketika segala sesuatunya bisa dicapai dengan mudah, kau tetap menuntun mereka untuk tetap berusaha dulu, sebelum mendapatkan keinginan mereka. Pernah suatu kali, anakmu menginginkan majalah anak-anak. Namun, kau tidak pernah memberinya uang untuk membelikan anak itu sebuah majalah yang sangat dia inginkan. Tanpa kau ketahui, anakmu mengumpulkan uang selama seminggu, yang kala itu anakmu hanya kau berikan uang jajan 500 rupiah per hari. Ternyata, dia mengumpulkan uang tersebut, dan kemudian digunakan untuk membeli majalah itu. Tahukah engkau akan hal itu?
Pernahkah kau tahu bahwa anakmu mengumpulkan uangnya untuk membeli kertas kado, yang kemudian ia buat untuk membuat tas jinjing yang ia jual ke teman-temannya seharga 2000 rupiah per buah? Yang kemudian uang itu ia gunakan untuk membeli segala kebutuhannya, yang kala itu, tidak kunjung kau penuhi. Itulah hal yang sudah dia terapkan atas segala sesuatu yang kau katakan dan tunjukkan kepadanya.
Ingatkah engkau ketika kau mengajari anakmu memasak? Mengajaknya untuk menjadi seseorang yang sesuai dengan kodratnya? Kau bilang, "Jadi orang janganlah cuma bermodalkan pintar saja, nak. Apalagi kamu perempuan. Ketrampilan juga perlu diasah. Percuma kamu pintar, tapi kamu nggak bisa masak, misalnya. Mau kamu kasih makan apa suamimu nanti? Kamu tetap harus menjalani kodratmu, nak." Meskipun kau sering memarahi anakmu, karena dia masih belum juga bisa membedakan bumbu masak dan bahan yang ia masak, bahkan ketika ia mulai duduk di bangku SMA.
Merantau. Kau berasal dari desa yang bisa dibilang jauh dari perkembangan teknologi. Sebagai anak perempuan terakhir dan satu-satunya di keluargamu, tak membuatmu menjadi pribadi yang manja. Untuk meneruskan SMA saja, kau harus pergi ke kota, dan hidup di sana sendiri. Mengatur segalanya sendiri. Sampai kuliah pun kau berani menginjakkan kakimu di kota yang lebih besar lagi, dan tentunya lebih kejam. Dicopetlah, sampai kehabisan uang bulanan. Bekerja sebagai SPG pun kau lakoni, asal kebutuhanmu bisa terpenuhi, tanpa harus meminta orang tua, yang tinggal nun jauh di desa.
Semua hal yang kau tunjukkan kepadaku menginspirasiku untuk berbuat hal yang sama ketika aku menghadapi persoalan yang sama. Bagaimana kau mendidik mereka untuk tak selalu bergantung kepada orang tua. Bagaimana kau membiarkan anak-anakmu berusaha sendiri, meski mereka harus menempuh jarak yang jauh dari tempat di mana mereka biasa berkumpul denganmu, orang yang mereka sayangi. Meskipun mereka harus merantau di usia yang sangat muda, sama sepertimu.
Kau juga mengajariku tentang akhlak yang baik. Tentang betapa pentingnya agama. Tentang bagaimana pentingnya merajut kedekatan dengan Tuhan kita. Tentang hal-hal yang membuat kita akan semakin dekat dengan Tuhan kita, dan dicintai olehNya. Kau terapkan nilai-nilai kejujuran di dalam hatiku. Ketika nilaiku anjlok, kau tak memarahiku. "Aku percaya, kau mengerjakan semuanya dengan usahamu sendiri. Lain kali, belajar lebih giat lagi ya." Kau hanya mengatakan itu. Aku merasa tenang sekali, dan aku merasa hatiku ini seperti disentuh oleh air es yang dingin nan menenangkan itu. Hanya dengan kata-kata itu, aku semakin menyayangimu.
Terima kasih sekali atas semuanya. Kau menunjukkan semuanya padaku, bukan sekedar menceritakannya. Karena itu lebih meninggalkan jejak kisahmu di hidupku selanjutnya. Karena semuanya lebih berarti, jika masih ada kau yang menunjukkanku baik buruknya dunia ini.
Sumber inspirasiku, motivatorku. Melihatmu saja, aku sudah sangat merasa bahagia. Garis wajahmu menggambarkan segala kerja kerasmu. Meskipun tanpa make up, kau terlihat lebih cantik dari artis-artis yang muncul di TV. Bakat aktingmu bahkan lebih baik dari mereka. Ketika kau sedang sedih atau merasakan suatu beban berat yang sedang kau hadapi, kau tak pernah menunjukkannya kepada orang yang kau sayangi. Itu menginspirasiku untuk jangan pernah merasa berat dengan segala masalah yang kita hadapi.
Tangisan bukanlah hal yang membuat kita terlihat lemah. Justru kita akan semakin kuat, karena ketika kita menangis, kita sedang mengumpulkan tenaga untuk menghadapi hal-hal berat selanjutnya. Kadang aku mendengar kau menangis diam-diam di tempat yang mungkin tidak akan pernah diketahui oleh orang yang kau sayangi. Tetapi, tak jarang juga kau menceritakan segala keluh kesahmu kepada orang yang kau sayangi. Meskipun mereka tak memberi suatu solusi atas keluh kesahmu itu, tetapi, hanya cukup merasa didengar kau sudah merasa sangat tenang. Jauh dari kondisi sebelumnya.
Terkadang aku merasa sebal dengan sikapmu. Yang kadang cuek padaku. Aku juga ingin didengar olehmu. Aku juga ingin kau mengerti aku. Terkadang, aku merasa kau cuek padaku. Sering tak mendengarkan apa yang aku katakan. Tapi, aku hanya berpikir, mungkin kau terlalu lelah untuk mendengar semua ceritaku.
Di surat ini juga, aku ingin minta maaf kepadamu. Aku belum bisa membuatmu bahagia. Seharusnya bisa, karena kau idolaku, karena kau inspirasiku. Tetapi, rasanya aku masih sangat kurang di depan matamu. Aku terlalu banyak menuntut. Meskipun begitu, kau tak pernah meminta lebih. Kau hanya meminta aku untuk lebih berjuang lagi, bukan menuntut. Karena tuntutan hanya akan membuatku membencimu. Tetapi, aku janji, aku tidak akan pernah membencimu, seumur hidupku. Apapun hal yang kau lakukan padaku, karena aku mencintaimu dan menyayangimu.
Surat ini tak akan pernah selesai jika aku menuturkan segala kebaikanmu. Juga segala sesuatu yang bisa saja membuatku benci sewaktu-waktu padamu. Karena, aku bangga menjadi bagian hidupmu. Karena aku bangga memilikimu. Karena aku bangga menjadi salah satu dari mereka yang kau sayangi. Karena aku bangga menjadi anakmu. Terima kasih ibu, atas segala kasih sayangmu dan cintamu. Meskipun lelah, kau tak pernah menyesal memiliki anak-anak seperti kami. Kami janji, kami bisa membahagiakanmu. Sekali lagi bu, kami mencintaimu ..
Semarang, 11 Juli 2010

 

( - /CN19 )

Powered by Telkomsel Blackberry


Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad

Bookmark and Share

          Berita Pendidikan

08 Februari 2012 | 14:53 wib

MITI Fokus Pendidikan Technopreunership image

BANDUNG, suaramerdeka.com - Aula Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Sabtu pekan lalu (4/2) demikian meriah. Ribuan mahasiswa ITB dan beberapa kampus lain…

16 Agustus 2011 | 17:30 wib

UMS Berikan Beasiswa Bagi 165 Mahasiswa Baru

Solo, CyberNews. Universitas Muhamamdiyah Surakarta (UMS) memberikan beasiswa bagi 165 mahasiswa baru. Ada tiga macam beasiswa yang dibagikan pada mereka,…

16 Agustus 2011 | 17:22 wib

10.261 Calon Mahasiswa Serbu UMS

Solo, CyberNews. Menjelang penutupan pendaftaran pada 20 Agustus mendatang, saat ini jumlah calon mahasiswa yang mendaftar One Day Service (ODS) Universitas…

15 Agustus 2011 | 22:51 wib

Perlu Penetapan Teori yang Tepat Menetukan Arah Kiblat

Semarang, CyberNews. Saat ini ada tiga teori yang dapat digunakan dalam perhitungan arah kiblat dari permukaan bumi, yaitu trigonometri bola, geodesi…

15 Agustus 2011 | 21:22 wib

Jamaludin Darwis Jabat Rektor Unimus image

Semarang, CyberNews. Prof Dr Jamaludin Darwis MA ditetapkan sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) periode 2011-2015 menggantikan Prof…

15 Agustus 2011 | 21:10 wib

Akan Targetkan Kebun 1.000 Toga
SMA 7 Semarang Juara I Lomba Sekolah Sehat Provinsi image

Semarang, CyberNews. Setelah melewati tahapan Lomba Sekolah Sehat (LSS) dari tingkat kota dan karesidenan, akhirnya SMA 7 Semarang berhasil meraih Juara…

21 Juli 2011 | 22:35 wib

Kemenpora Akan Sebar 1.000 Sarjana ke Pedesaan

JAKARTA, CyberNews. Tahun 2011 pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan perguruan tinggi di 33 provinsi akan mengirimkan…

14 Juli 2011 | 16:12 wib

Suarakan Kritik, Hampir Berakibat Dikeluarkan dari Sekolah image

SEORANG orang tua yang berusaha mengkritik sistem pendidikan di Sekolah anaknya, harus menanggung akibat anaknya dikeluarkan dari sekolah. Hal ini dialami…

FOOTER