panel header


panel menu
panel news ticker
SUARAMERDEKA.com - Semata-mata Fakta
panel iklan Hosrizon
panel main 1

29 Juli 2010 | 13:48 wib

Idola Adalah Pesaing Kita

  • Oleh Intan Pratiwi Ningsih

Melihat perilaku remaja belakangan ini - di kota maupun daerah - tampak nyata bahwa mereka adalah kelompok yang memiliki karakter spesial. Cara mereka dandan, bersikap, komunikasi, bahkan gaya hidup, sebagian besar remaja seperti tak jauh dari tipikal idola yang memenuhi obsesi mereka. Masalahnya, perilaku remaja yang cenderung "mbebekisme" ini aman atau tidak bagi eksistensinya? Bagaimana pula seharusnya remaja menempatkan idola ini dalam kerangka obsesinya?

Secara umum, idola sering dikenal sebagai sosok yang dikagumi, yang dianggap hebat, yang dalam skala tertentu bisa "memperkosa" inspirasi seseorang untuk menjadi sama dengan tokoh yang diidolakan. Seorang remaja misalnya, dia mengidolakan Harry Potter, karena menganggap tokoh Harry Potter sebagai hero pembasmi kejahatan dengan cara magisnya yang unik. Dia terkagum - kagum, dia terpaku dengan sosok Harry Potter, yang pada ujung - ujungnya bisa jadi dia meniru Harry Potter lengkap dengan gaya dan atributnya.
Dalam kasus lain, seorang remaja SMA begitu tergila - gila dengan Krisdayanti, Sammy Kerispatih, Ariel Peterpan, atau Anjie Drive. Kegilaan itu merambah ke segenap darahnya sampai si remaja memosisikan diri untuk mengikuti apapun yang dilakukan bintang - bintang tersebut. Lalu, apa yang terjadi ? Tentu bisa ditebak, remaja tersebut sedang berada di tepi jurang, dia akan jatuh hancur atau dia tersadar menepi dan selamat. Sebab, sebenarnya tokoh - tokoh yang diidolakan tersebut punya dua sisi - positif dan negatif - yang jika ditelan mentah - mentah, maka remaja tadi mungkin bernasib lebih buruk dan menyedihkan.

Menengok dua kasus di atas, ada beberapa hal yang dapat dikupas lebih dalam lagi. Pertama, idola bisa berupa tokoh fiktif dan juga tokoh riil. Idola fiktif cenderung lebih tinggi kredibilitasnya karena dia selalu tampil dengan format yang positif dan "safety". Sehingga idola fiktif ini cenderung tidak meracuni perilaku para penggandrungnya. Dengan kata lain, "mbebek" pada idola fikif jauh lebih aman sifatnya dibanding idola riil.

Dalam idola riil, citra tokoh tidak bisa direkayasa menjadi tokoh serba benar dan serba bersih. Idola riil kadang harus terpuruk pada tindak amoral, mesum, bahkan menjurus kriminal. Di sinilah letak bahayanya, sehingga pengidolaan tokoh riil lebih membutuhkan pemikiran "njlimet" untuk menyikapinya. Sebab, kecerobohan sedikit saja pengidolaan itu, akibatnya bisa fatal dan memalukan bagi eksistensi diri sendiri.
Kedua, idola bisa menembus batas ruang dan waktu tanpa memedulikan siapa dan di mana keberadaannya. Artinya idola bisa muncul pada tokoh masa lalu, tokoh di luar daerah kita, atau tokoh yang kurang terkenal sekalipun. Idola bisa tumbuh pada orang yang dekat dengan kita, seperti ayah, ibu, kakak, pacar, atau guru kita.

Nilai lebih dari idola dekat seperti ini adalah bahwa kita bisa merasakan langsung kehebatan - kehebatan sang idola tanpa media perantara. Misalnya, kita bisa belajar, bisa meminta saran, menimba ilmu dan pengalamannya secara langsung, sehingga kita lebih tegas dan jelas dalam proses penyerapannya.

Mengidolakan orang dekat seperti ini memang lebih bersifat humanistik, sebab kita bisa memahami nilai - nilai manusia secara utuh; tidak terpenggal-penggal seperti dalam berita media atau dalam cerita yang tidak jelas sumber kebenarannya.

KADAR SAING
Menempatkan idola dalam obsesi kita harus benar - benar akurat dan tidak terpicu oleh emosi semata. Sering terlihat seorang remaja mengidolakan musisi rock secara tak wajar. Sampai - sampai, dia menjiplak tuntas gaya hidup dan perilaku musisi tersebut, tanpa peduli yang dijiplak itu benar atau tidak, rasional atau tidak. Misalnya, dia meniru gaya rambut, gaya tato, aksesori, bahkan mungkin aksi nge-drug dan cabulnya juga ikut di jiplak. Ini jelas pengidolaan yang sangat berbahaya karena akhirnya menjerumuskan kita dalam dunia tanpa moral dan tanpa norma agama.

Ada lagi pengidolaan yang kelihatan bagus tapi tidak edukatif. Disebut bagus karena mengidolakannya tidak meniru hal - hal negatif, tetapi cara memujinya secara berlebihan dan di luar batas. Hal ini bisa menimbulkan sikap fanatik, "ngeyel", dan irasional. Atau bisa juga sebaliknya, pemujaan yang berlebihan tersebut justru menempatkan kita pada perasaan minder, perasaan kalah, dan merasa tak berarti apa - apa di depan sosok idola. Pengidolaan yang demikian ini menjadikan individu tidak kreatif, semakin bodoh, dan terpenjara dalam bayang - bayang kebesaran tokoh idola.

Sikap lebih akurat adalah kalau kita menjadikan idola itu sebagai pesaing kita. Walau kedengaran narsis, lebih baik kita jaga rasa percaya diri. Idola tetap idola, kelebihan dan kepiawaiannya tetap kita jadikan acuan, bahkan boleh kita lampaui. Tetapi kita harus yakin, idola belum tentu serba hebat dibanding kita. Seorang Taufik Hidayat adalah jago bulutangkis, namun dia belum tentu lebih pintar daripada kita di bidang olah vokal, nge-band, atau dibanding nilai - nilai pelajaran kita di sekolah.

Dengan cara pandang demikian, kita mengidolakan tetapi tetap terkontrol, tidak ngawur, tidak minder, malah bisa jadi kita lebih terpuji dibanding idola kita. Yang terpenting, jangan dudukkan idola sebagai dewa, tetapi jadikan dia sebagai pesaing kita, yang sewaktu - waktu bisa menang dan bisa kalah melawan kompetensi kita. Semakin tinggi kadar saing, semakin hati - hati pula kita memilih idola.

ORISINALITAS
Walau sebagai idola, bukan berarti semua kelebihannya kita tiru dan diterapkan sepenuhnya. Alangkah lebih bagus jika kita tetap mempertahankan karakter - karakter kita yang spesial, karena itulah yang jadi ciri pembeda antara kita dengan idola. Kita tentu tidak ingin disebut "ekor" dari seorang idola gara - gara kita menjiplak kehebatannya secara utuh. Kita harus malu disebut plagiat sejati.
Banyak memang orang terkenal punya idola. Tetapi mereka tetep menjaga orisinalitas diri demi kredibilitas. Banyak penyanyi kita yang memfavoritkan Celine Dion atau Whitney Houston, tetapi penyanyi kita tetap memegang nilai asli yang menjadikan penyanyi Indonesia tidak dicap pengekor Celine Dion atau Whitrey Houston.

NILAI PLUS
Hal tak kalah penting dalam menempatkan idola adalah mengapresiasi nilai lebih atau nilai plus dalam diri idola tersebut. Kita boleh memiliki idola lebih dari satu orang, tinggal kita sesuaikan berapa nilai plus yang kita butuhkan. Misal, Agnes Monica menjadi idola karena keistimewaannya mengolah vokal untuk ukuran penyanyi muda usia. Di sisi lain, kita membutuhkan rasa naturalis seperti yang ditampilkan penyanyi Opie Andaresta misalnya, maka sah - sah saja kalau kita mengidolakan dua penyanyi sekaligus, karena kebetulan kita membutuhkan nilai plus yang berbeda sifatnya.

Unsur nilai plus ini hendaknya bisa dijadikan cambuk agar kita dapat meniru, bahkan melebihi dari yang dimiliki oleh idola kita. Mari berpikir positif saja. Jangan menyerah sebelum mencoba. Manusia dihargai dari nilai plusnya, maka ayo kita cari contoh - contoh nilai plus dalam idola kita, lalu kita pelajari, kita tekuni. Siapa tahu, esok kemudian hari kita justru menjadi idola dengan gaya dan warna tersendiri.

*Intan Pratiwi Ningsih - SMA NEGERI 1 KEDUNGWUNI KAB. PEKALONGAN

( - /CN19 )

Powered by Telkomsel Blackberry


Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad

Bookmark and Share

          Berita Pendidikan

08 Februari 2012 | 14:53 wib

MITI Fokus Pendidikan Technopreunership image

BANDUNG, suaramerdeka.com - Aula Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Sabtu pekan lalu (4/2) demikian meriah. Ribuan mahasiswa ITB dan beberapa kampus lain…

16 Agustus 2011 | 17:30 wib

UMS Berikan Beasiswa Bagi 165 Mahasiswa Baru

Solo, CyberNews. Universitas Muhamamdiyah Surakarta (UMS) memberikan beasiswa bagi 165 mahasiswa baru. Ada tiga macam beasiswa yang dibagikan pada mereka,…

16 Agustus 2011 | 17:22 wib

10.261 Calon Mahasiswa Serbu UMS

Solo, CyberNews. Menjelang penutupan pendaftaran pada 20 Agustus mendatang, saat ini jumlah calon mahasiswa yang mendaftar One Day Service (ODS) Universitas…

15 Agustus 2011 | 22:51 wib

Perlu Penetapan Teori yang Tepat Menetukan Arah Kiblat

Semarang, CyberNews. Saat ini ada tiga teori yang dapat digunakan dalam perhitungan arah kiblat dari permukaan bumi, yaitu trigonometri bola, geodesi…

15 Agustus 2011 | 21:22 wib

Jamaludin Darwis Jabat Rektor Unimus image

Semarang, CyberNews. Prof Dr Jamaludin Darwis MA ditetapkan sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) periode 2011-2015 menggantikan Prof…

15 Agustus 2011 | 21:10 wib

Akan Targetkan Kebun 1.000 Toga
SMA 7 Semarang Juara I Lomba Sekolah Sehat Provinsi image

Semarang, CyberNews. Setelah melewati tahapan Lomba Sekolah Sehat (LSS) dari tingkat kota dan karesidenan, akhirnya SMA 7 Semarang berhasil meraih Juara…

21 Juli 2011 | 22:35 wib

Kemenpora Akan Sebar 1.000 Sarjana ke Pedesaan

JAKARTA, CyberNews. Tahun 2011 pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan perguruan tinggi di 33 provinsi akan mengirimkan…

14 Juli 2011 | 16:12 wib

Suarakan Kritik, Hampir Berakibat Dikeluarkan dari Sekolah image

SEORANG orang tua yang berusaha mengkritik sistem pendidikan di Sekolah anaknya, harus menanggung akibat anaknya dikeluarkan dari sekolah. Hal ini dialami…

FOOTER