panel header


panel menu
panel news ticker
SUARAMERDEKA.com - Semata-mata Fakta
panel iklan Hosrizon
panel main 1

29 Juli 2010 | 12:29 wib

AKU UMUMKAN, NARAZAKU "OSAMU" NAOKI, MANGAKA PALING REVOLUSIONER!

  • Oleh Nabila Nailatus Sakina

 

Namaku Nabila Nailatus Sakina. Jujur kukatakan aku sendiri tidak mengerti apa yang akan kutulis. Pada koran lokal dicantumkan pengumuman sayembara menulis bertemakan idolaku adalah motivasiku. Aku hanya mencoba untuk berbagi kisah mengenai idolaku yang memacuku untuk mencapai cita - citaku.
Aku lahir 17 tahun yang lalu, itu artinya aku sudah remaja sekarang. Sejak kecil, aku sangat suka menonton film kartun di TV dan membaca cerita bergambar pada majalah latihan TK-ku. Menurutku gambar kartun adalah sesuatu yang lucu dan menyenangkan, selalu membuatku tertawa. Aku tidak pernah merasa sedih karenanya, sehingga aku sangat terobsesi dengan gambar kartun.
Aku pun mulai mencoret - coret gambar kartun. Aku sangat senang melakukan kegiatan ini. Bahkan aku selalu merengek meminta kertas dan pensil, sampai - sampai menangis jika barang yang kuminta itu tidak ada. Diceritakan oleh ayahku, saat berusia 3 tahun aku sudah bisa menggambar bentuk manusia utuh yang berpenampilan menarik, meskipun kartun. Tidak seperti kebanyakan orang, yang hanya menggambar orang dengan kaki dan tangan dengan satu garis seperti sebatang sapu lidi. Aku mampu menggambar tangan dan kakinya dengan lengkap, bahkan aksesoris seperti baju dan sepatu yang terlihat keren ikut tergambar.
Kegiatan yang kucintai ini terus berlanjut sampai aku besar. Awalnya, aku tidak mengenal apa itu komik. Aku baru tahu saat kelas 2 SD, kalau gambar yang punya balon dialog itu bernama ‘komik'. Ayah membelikanku komik Doraemon dan pamanku membelikanku komik Detective Conan. Aku menyimpannya sebagai harta karunku saat itu. Lantas, aku bertanya pada Ayah " Terus, siapa yang menggambar komik? Apa sebutan untuk mereka?". "Komikus.", jawabnya.
Saat menginjak usia kelas 4 SD, banyak teman bertukar data pribadi untuk dimasukkan binder mereka sebagai kenangan. Aku pun juga dimintai mengisi data pribadiku untuk disimpan dalam binder mereka. Tak hanya data - data diri yang wajib ditulis, tapi juga cita - cita. Dengan mantap aku menulis cita - citaku di situ, yaitu MENJADI SEORANG KOMIKUS.
Sebenarnya, saat menonton film kartun dan membaca komik, aku selalu penasaran. Ini karena semua tokohnya memiliki nama berbau asing, seperti nama Jepang, seperti Usagi atau Mamoru dalam film Sailor Moon dan Amerika seperti Bruce Wayne dalam Batman. Tidak ada yang bernama sangat Indonesia, seperti Ira ataupun Ayu.
Kelas 5 SD, aku menemukan suatu kenyataan yang sangat menyakitkan. TAK ADA KOMIK INDONESIA, KOMIK INDONESIA TELAH MATI. Aku menyusuri beberapa rak buku di toko buku. Aku tak menemukan komik Indonesia yang berasa sangat Indonesia. Kata orang - orang, komik Indonesia sudah mati. Komik Jepang dan Amerika-lah yang berkuasa di pasaran.
Bagaimana aku bisa jadi komikus kalau komik Indonesia saja tidak ada?
Aku menonton acara TV yang memiliki kegiatan berkunjung ke rumah yang keren - keren. Aku terkesan dengan rumah yang ditampilkan acara itu. Dari situ aku mengetahui bahwa yang mendesain dan menggambarnya ‘bertitel' arsitek. Aku ingin menjadi arsitek, kuputuskan. Impian menjadi komikus masih tersisa, tapi aku tak melihat harapan untuk menjadi komikus. Aku benar - benar kecewa dan menggantinya dengan cita - cita untuk menjadi arsitek.
Masa - masa SMP adalah dimana aku semakin mengenal beragam jenis komik. Terjawab sudah semua pertanyaanku sewaktu SD soal komik dan film kartun. Komik Jepang khusus bernama ‘manga' dan film animasi kartun Jepang bernama ‘anime'. Aku semakin menyadari tenggelamnya komik - komik Indonesia oleh lautan ‘manga' dan komik Amerika. Aku semakin menggandrungi manga dan anime saat itu, karena ceritanya yang beragam dan seru. Akupun jadi mengerti kalau di Negeri Matahari Terbit sana seorang komikus disebut ‘mangaka'. Akupun kemudian mengetahui orang yang membuat film animasi disebut animator. Aku menambah cita - citaku yaitu mangaka (komikus), animator dan arsitek. Saat SMP akupun masih aktif menggambar kartun, bukan, lebih tepatnya manga, karena corak gambarku yang khas dengan komik Negeri Sakura itu. Tapi sekali lagi, aku masih belum melihat harapan untuk komik Indonesia, sehingga aku berketetapan untuk menjadi arsitek.
Tiba waktunya pendaftaran siswa baru pada tahun ajaran baru. Selepas SMP aku mendaftar di sebuah Sekolah Teknik Menengah ternama di kawasan Semarang, STM Pembangunan. Kupilih jurusan Teknik Gambar Bangunan sebagai pilihan utama, meneruskan visiku untuk menjadi arsitek. Sebenarnya, sebelum menetapkan hatiku di sekolah itu, aku hendak mendaftar di STM Grafika, jurusan Multimedia Animasi. Kuakui hasratku untuk menjadi mangaka dan animator masih ada. Namun, kuurungkan niatku karena aku tak mau merepotkan orang tuaku. Letaknya terlalu jauh dari rumah, dan akan mengharuskanku kos dengan biaya rutin yang tidak sedikit tentunya.
Di sekolah inilah impianku sebagai mangaka itu kembali. Seutuhnya.
Aku diterima di jurusan yang aku pilih. Aku menjadi ‘anak baru' STM Pembangunan. Jujur tidak sulit untuk menembus jurusan ini, karena dengan rata - rata nilai tertinggi di jurusan itu (9,35) akulah satu - satunya yang berminat. Semua yang memiliki rata - rata nilai bagus mendaftar ke jurusan lain yang dianggap bergengsi seperti Otomotif dan Elektronika Industri.
Bisa dibilang rasanya seperti bunuh diri ketika memasuki sekolah ini, karena aku membenci pelajaran Matematika yang harusnya dikuasai anak - anak STM. Aku justru hanya tertarik pada pelajaran menggambar gedung dan membenci pelajaran mekanika, yaitu penghitungan konstruksi bangunan. Bahkan, belakangan aku agak bosan dengan menggambar gedung, karena kaku dan tidak bebas. Aku harus memakai penggaris dan alat - alat khusus serta penghitungan untuk menggambarnya.
Aku merasa sedikit tersiksa dengan jurusanku ini.
Di sinilah aku bertemu Arifin, salah satu teman yang menginspirasiku untuk menggambar.
Selama kelas 1, aktivitas sekolah yang padat membuatku vakum menggambar selama 1 tahun. Aku sama sekali tidak menggambar apapun kecuali tugas sekolah pada waktu itu. Saat kelas 2, Arifin, teman sekelasku, menunjukkan beberapa gambar ala manga-nya pada teman - teman. Aku pun ikut melihatnya.
Gambarnya sangat bagus.
Tiba - tiba aku menyadari. Apa yang sudah aku lakukan selama ini? Seorang Arifin masih bisa menggambar sebagus ini meski tak ada harapan untuknya bisa melanjutkan karya - karya komiknya sehingga meneruskan ke jurusan ini. Sementara aku menyerah begitu saja dengan kenyataan yang ada. Tanpa berusaha mencari solusi atas keputusasaanku? Betapa bodohnya aku saat itu.
Malam itu juga, aku menyiapkan selembar kertas putih, pensil dan penghapus. Aku menggoreskan beberapa garis di atas kertas putih itu, dan rasanya SANGAT MENYENANGKAN. Aku semakin bersemangat dan menyelesaikannya. Gambar seorang cowok. Tidak sebagus Arifin ketika menggambarnya, memang. Tapi aku sangat bahagia saat bisa menggunakan tanganku lagi untuk menggambar ‘manga'.
Ketika di kelas 2 pulalah, aku menggandrungi segala sesuatu berbau Jepang, mulai dari musik, anime, manga hingga kebudayaan. Aku selalu mendengarkan acara radio yang berbau Jepang karena sedang dilanda ‘demam Jepang'. Bahkan aku juga mengikuti ekstrakurikuler bahasa Jepang. Teman - temanku menganggapku aneh karena hal ini. Sampai - sampai aku membuat nama samaran mangaka-ku, yaitu Narazaku Naoki, yang kuambil dari inisial namaku, NN.
Minggu siang seperti biasanya aku mendengarkan siaran radio favoritku itu. Saat itu penyiar membacakan kisah hidup seorang Tezuka Osamu, The Father of Manga. Beliau adalah pelopor manga pertama kalinya. Manga disebut - sebut memiliki seni sinematografi yang menghancurkan pakem sebuah komik asli Amerika. Tezuka Osamu menciptakan tren tersendiri pada ‘manga' yang dibuatnya. Karyanya yang sangat terkenal salah satunya adalah Astro Boy. Tezuka Osamu awalnya menjalani pendidikan sebagai calon dokter. Tapi ketika lulus dari sekolah dokternya itu, beliau memutuskan menjadi mangaka karena lebih senang menggambar. Akhirnya beliau menciptakan manga seperti sekarang dan sangat berjasa memperkenalkan Jepang sebagai negara industri komik. Bahkan manga telah mempengaruhi gaya komik Amerika dan negara lainnya. Hebat!
Indonesia sebagai negara industri komik? Aku yakin itu bisa dilakukan!
Aku akan jadi pelopornya!
Akan kubuktikan pada dunia, bahwa aku bisa!
Semangatku muncul lagi!
Tak lama setelah itu, sebulan kemudian aku mendengar mengenai sebuah kelompok studio komik, PAPILLON STUDIO. Aku mengajak teman - temanku ke sana. Hanya 2 orang yang mau ikut, Arifin dan Septi. Aku banyak bertanya soal komik di sana. Komikus Indonesia belum mati. Mereka terus berkreasi, tapi yang kusayangkan mereka menjual komiknya ke pihak asing, seperti Amerika. Karena studio komik ini berorientasi bisnis, mereka hanya menerima skenario yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk komik, dan setelah itu dibayar. Adapun karya original mereka yang berasa Indonesia dijual secara ‘indie' melalui pameran dan komunitas. Aku menyadari bahwa komikus Indonesia sedang menderita sekarang ini, terhimpit di antara gelombang komik impor yang tak henti - hentinya masuk. Apalagi penerbit besar yang memilih menjual komik impor, membentuk opini orang bahwa komik Indonesia tak bermutu.
Dunia animasi Indonesia pun bisa dibilang terpuruk, hanya 1 film animasi bahkan kurang yang terbit tiap tahunnya.
Mereka tak berdaya melawan, begitu pula aku yang baru tahu sedikit tentang bidang perkomikan dan animasi.
Tapi aku punya tekad, Indonesia harus bangkit.
Meskipun aku tak pernah mengenal banyak komik Indonesia, dan aku hanya mengetahuinya dari cerita Ayah seperti Gundala Putra Petir ataupun Godam.
Setelah kunjunganku itu aku berkeputusan membuat sebuah studio komik. Aku menghubungi beberapa teman di lain jurusan yang bisa menggambar komik. Mereka setuju untuk bekerjasama, begitu juga Arifin. Kami tak punya modal uang untuk menjalankannya, yang kami punya hanyalah keahlian dan kenekatan. Aku rasa itu cukup. Sekarang ini aku masih berusaha bagaimana melakukannya dan sedang dalam tahap mendirikannya.
Aku putuskan untuk membuang visiku menjadi arsitek. Aku hanya akan menjalani sisa pendidikanku di STM dengan baik, setelah itu melupakannya.
Aku akan jadi komikus dan animator yang merevolusi Indonesia.
Hanya itu yang aku inginkan.
Menjadi "Tezuka Osamu" Indonesia.
Aku membuat target untuk diriku, suatu hari nanti, aku ingin pergi ke Jepang dan Amerika untuk melanjutkan studi animasi dan menjadi animator juga mangaka di sana. Kemudian aku akan mempelajari, bagaimana perkomikan dan dunia animasi mereka bisa berkembang sebesar sekarang. Jika aku sudah dapatkan, aku akan menjadi pelopor bangkitnya animasi dan komik Indonesia. Jika penerbit besar tidak mau, maka aku akan dirikan sendiri yang sekelas DC ataupun SHUEISHA! Jika production house Indonesia tidak bisa membuat film animasi yang bagus dan produktif, maka aku akan mendirikan studio animasi sendiri sekelas PIXAR! Aku akan merevolusinya!
Aku berjanji akan belajar lebih baik lagi dalam menggambar manga! Aku berjanji memperbaiki keterampilanku membuat cerita supaya bisa membuat pembaca karyaku terhibur! Tak hanya jadi mangaka hebat, tapi juga perevolusi! Aku ingin membantu semua komikus dan animator Indonesia supaya karyanya bisa lebih dihargai di negeri sendiri!
Akan kubuktikan pada dunia, bahwa aku bisa!
Tezuka Osamu-sensei, aku pasti bisa sepertimu!
Aku akan berjuang sekuat tenaga memajukan komik dan animasi Indonesia! Dan membawa nama Indonesia ke dunia komik dan animasi Internasional!
Sampai saatnya nanti, pada acara penghargaan komikus, seorang MC akan menyebut namaku, "AKU UMUMKAN, NARAZAKU "OSAMU" NAOKI, MANGAKA PALING REVOLUSIONER!".

 

( - /CN19 )

Powered by Telkomsel Blackberry


Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad

Bookmark and Share

          Berita Pendidikan

08 Februari 2012 | 14:53 wib

MITI Fokus Pendidikan Technopreunership image

BANDUNG, suaramerdeka.com - Aula Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Sabtu pekan lalu (4/2) demikian meriah. Ribuan mahasiswa ITB dan beberapa kampus lain…

16 Agustus 2011 | 17:30 wib

UMS Berikan Beasiswa Bagi 165 Mahasiswa Baru

Solo, CyberNews. Universitas Muhamamdiyah Surakarta (UMS) memberikan beasiswa bagi 165 mahasiswa baru. Ada tiga macam beasiswa yang dibagikan pada mereka,…

16 Agustus 2011 | 17:22 wib

10.261 Calon Mahasiswa Serbu UMS

Solo, CyberNews. Menjelang penutupan pendaftaran pada 20 Agustus mendatang, saat ini jumlah calon mahasiswa yang mendaftar One Day Service (ODS) Universitas…

15 Agustus 2011 | 22:51 wib

Perlu Penetapan Teori yang Tepat Menetukan Arah Kiblat

Semarang, CyberNews. Saat ini ada tiga teori yang dapat digunakan dalam perhitungan arah kiblat dari permukaan bumi, yaitu trigonometri bola, geodesi…

15 Agustus 2011 | 21:22 wib

Jamaludin Darwis Jabat Rektor Unimus image

Semarang, CyberNews. Prof Dr Jamaludin Darwis MA ditetapkan sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) periode 2011-2015 menggantikan Prof…

15 Agustus 2011 | 21:10 wib

Akan Targetkan Kebun 1.000 Toga
SMA 7 Semarang Juara I Lomba Sekolah Sehat Provinsi image

Semarang, CyberNews. Setelah melewati tahapan Lomba Sekolah Sehat (LSS) dari tingkat kota dan karesidenan, akhirnya SMA 7 Semarang berhasil meraih Juara…

21 Juli 2011 | 22:35 wib

Kemenpora Akan Sebar 1.000 Sarjana ke Pedesaan

JAKARTA, CyberNews. Tahun 2011 pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan perguruan tinggi di 33 provinsi akan mengirimkan…

14 Juli 2011 | 16:12 wib

Suarakan Kritik, Hampir Berakibat Dikeluarkan dari Sekolah image

SEORANG orang tua yang berusaha mengkritik sistem pendidikan di Sekolah anaknya, harus menanggung akibat anaknya dikeluarkan dari sekolah. Hal ini dialami…

FOOTER