image

Foto: sportourism

11 September 2017 | 11:20 WIB | Seni dan Budaya

Perayaan Karo Suku Tengger Bromo Jadi Magnet Tersendiri Para Wisman

TOSARI, suaramerdeka.com – Perayaan Karo atau sebutan Hari Raya kedua itu, kini tengah diperingati masyarakat suku Tengger, Gunung Bromo. Sampai dengan 10 September nanti, berbagai aktivitas dilakukan masyarakat Tengger.

Hari raya kedua atau Karo, yang dirayakan setiap tanggal 15 bulan kedua menurut penanggalan Suku Tengger ini, tentu saja menjadi magnit tersendiri baik bagi para wisatawan lokal maupun asing. Lantaran pada hari raya Karo ini juga ditampilkan berbagai bentuk kesenian lokal suku Tengger yang menyertai ritual hari raya Karo. Sebenarnya upacara Hari Raya Karo telah dimulai sejak Selasa lalu (6/9) puncaknya pada hari Minggu (10/9). Perayaan Karo hari Raya suku Tengger setelah Kesadha, merupakan wujud rasa syukur warga Tengger terhadap leluhur.

Pada Selasa lalu, puncak pembukaan upacara tradisi itu, diawali dengan ritual Tari Sodoran. Tari Sodoran sendiri merupakan ritual tradisi sakral, yang melambangkan pertemuan dua bibit manusia. Yakni, laki-laki dan perempuan. Dari keduanya, dimulailah kehidupan alam semesta. “Pertemuan antara laki dan perempuan, ini yang menjadikan manusia pertama,” kata Eko Warnoto, Dukun Pandita Suku Tengger.

Sebelumnya, para temanten itu mengikuti ritual memohon pangestu punden atau restu pemilik makam. Setelah itu, temanten diarak menuju balai Desa Tosari. Dalam tarian itu, masingmasing penari membawa sebuah tongkat bambu berserabut kelapa yang didalamnya terdapat biji-bijian dari palawija.

Bagi kalangan masyarakat suku Tengger, biji-bijian yang dipecahkan dari dalam tongkat itu, dipercaya akan memberikan kelestarian keturunan bagi setiap pasangan. Sedikitnya, ada 13 kelompok temanten Sodoran dalam ritual tersebut. Belasan kelompok itu berasal dari Kecamatan Tosari, Kecamatan Puspo, dan Kecamatan Tutur. Menurut Warnoto, tradisi Karo itu memang telah menjadi agenda keagamaan setiap tahun. Dari masa ke masa, jalannya tradisi tersebut memang tak ada perbedaan.

Perbedaan yang tampak, lanjut Warnoto, lebih kepada personel penari Sodoran saja. Tidak ada yang berbeda terkait esensi ritual. Kami menjalankan dari tahun ke tahun seperti ini, hanya penarinya yang beda. Ada regenerasi,” ungkapnya.

Tahapan

Sejak dimulainya upacara tradisi Hari Raya Karo Selasa lalu ada beberapa tahapan rangkaian ritual dengan ditampilkannya Tari Sodoran sebagai puncak acara pembukaan itu. Pada acara pembukaan Karo diawali dengan ritual Walagara dan Kayapan Agung. Ritual ini dimaksudkan untuk menyucikan alam semesta. ‘’Setelah itu, rangkaian ritual juga ditujukan untuk menurunkan leluhur di Tengger. Kami memohon doa restu agar alam semesta senantiasa tenteram dan damai,”  kata Warnoto.

Prosesi ritual keagamaan berlanjut dengan pembukaan jimat klontong, yaitu pusaka masyarakat suku Tengger. Pembukaan jimat ini dilakukan setahun sekali setiap hari raya Karo. Di dalam jimat klontong itu berisi uang satak, pakaian kuno, mantra dan sebagainya.

Selanjutnya sampai Minggu (10/9) nanti secara individu penganut Hindu Tengger melanjutkan prosesi ritual upacara santi. Yakni, sebuah ritual yang mempunyai makna memuliakan para leluhur suku tengger yaitu Joko Seger dan Roro Anteng dan seluruh kerabat dalam suku Tengger yang telah meninggal. Ritual santi ini dilakukan secara masal Kamis (7/9)  baru kemudian dilanjutkan upacara santi di rumah masing-masing hingga Minggu.

Selama pelaksanaan Hari Raya Karo itu, sejumlah pementasan kesenian budaya lokal yang merupakan dari prosesi ritual cukup mengundang para wisman yang memang sudah menjadualkan untuk menyaksikan tradisi hari Raya Karo.

Selain bisa menyaksikan Tari Sodoran pada pembukaan Hari Raya Karo, pada Kamis (7/9) para wisatawan lokal dan mancanegara mendapat suguhan Wayang Topeng Tengger  dan ujungan berlokasi di balai Desa Tosari. Akhir dari Hari Raya Karo pada Minggu (10/9) akan ditampilkan jaran kepang Dor. Menpar Arief Yahya mengapresiasi kegiatan budaya itu. Kekuatan pariwisata Indonesia salah satunya adalah budaya. "Jadi kembangkan terus kekayaan budaya Nusantara," papar Arief Yahya.

(Andika Primasiwi /SMNetwork /CN26 )