Berita Aktual  SM Cetak  Suara Warga  Entertainmen  Gaya  Kejawen  Layar  Lelaki  Sehat  Sport  Wanita  Surat Pembaca
 
 
HIBURAN & SENI

18 April 2008
Perlawanan dalam Album Puisi-Musik

ANIS Sholeh Baasyin melantunkan bait-bait ”Suluk Mabuk Segala Jurusan” itu di sesela irama blues yang memabukkan. Kata-kata dalam puisinya menjelma mantra yang mengutuki para penjahat, pembabat hutan, atau koruptor yang memanfaatkan jabatan.

”Karena tiap kata kamu rampok maknanya/karena tiap bahasa kamu preteli pengertiannya/karena tiap tanda kamu kubur isyaratnya/maka kami memilih lupa!”

Tentu saja suaranya tak melengking tinggi seperti Robert Plant menyanyikan ”Stairway to Heaven” atau ”Kashmir” dalam lagu-lagu Led Zeppelin. Juga tidak mendayu seperti ”Still Got the Blues” yang melambungkan nama Gary Moore. Sebab, irama blues yang mengiringinya adalah blues Jawa, istilah yang dia gunakan untuk menyebut balutan etnik yang kental.

Puisi itu, atau tepatnya lagu ”Suluk Mabuk... ”, merupakan satu dari sepuluh lagu yang direkam Orkes Puisi Sampak Gusuran. Proses perekaman dilakukan di Studio Ababil, Solo, beberapa waktu lalu. Saat ini, album Bersama Kita Gila: Wis Ngedan Ora Keduman itu sedang dalam proses mixing.

Pada ”Suluk Mabuk...”, Dedy Taufiq Jetho sebagai penata musik memberikan sentuhan etnik, mulai dari Jawa, Aceh, hingga Kalimantan. Tentu saja sebagai ”identitas, rebana dan marawis tak ketinggalan.

Maka, kian kuatlah daya dobrak puisi Anis. ”Karena tiap pikiran kamu perdayai bentuknya/karena tiap mimpi kamu kurung batasnya/karena tiap langkah kamu hadang arahnya/maka kami memilih lupa!”

Tak cuma blues, Orkes Puisi Sampak Gusuran pun menjelajah warna musik lain untuk memperkaya album itu. Puisi ”Kecelik”, misalnya, dihadirkan dengan sentuhan musik dangdut sementara ”Kiamat”’ hadir dengan balutan musik cadas yang keras. ”Warna rock kami pandang tepat untuk menggambarkan suasana kiamat,” kata Anis.

Proses Panjang

Proses Anis dalam menghadirkan puisi dalam format puisi-musik terbilang panjang. Sejak 1980-an, dia sudah memulai dengan komunitas musik Warung Pinggir Jalan dan Cucakrowo, yang berkeliling mementaskan puisi di kampus-kampus dan kota-kota di Jawa Tengah pada 1982-1989.

Pada 2005, ketika kembali diminta mementaskan puisi musik, dia membentuk Orkes Puisi Sampak Gusuran. Nama sampak dia ambil dari jenis irama musik dalam pergelaran wayang, yang biasanya dipakai mengiringi adegan perang. Gusuran, sering ditulis GusUran, sebenarnya hanya permainan bentuk penulisan dari kata gusuran atau penggusuran.

Album Bersama Kita Gila, kata Anis, rencananya diluncurkan pertengahan Mei mendatang di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) dan Bundaran HI Jakarta dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional. Di luar itu, dia merancang ”promo album” di beberapa kota, antara lain menggandeng Walhi, Lesbumi, serta organisasi sosial lain. (Achiar M Permana-53)
© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved
Groups