|
|
|
|
| |
|
|
|
YOGYAKARTA
14 Oktober 2009
Terobosan Baru Ternak Gurami Bisa Panen Tiap Bulan
KESADARAN masyarakat mengonsumsi ikan air laut ataupun tawar semakin tinggi terlihat dari berkembangnya kuliner dengan bahan pokok ikan.
Tentu saja hal itu membuat permintaan berbagai jenis ikan air tawar dan laut juga meningkat. Bagi sebagian orang, hal tersebut merupakan peluang untuk membuka usaha kuliner atau membudidayakan ikan demi menyediakan kebutuhan konsumen.
Salah satu yang sedang naik daun adalah gurami. Sayangnya, permintaan dan persediaan tidak seimbang. Seringkali terjadi kekosongan di pasaran. Peluang inilah yang membuat agribisnis perikanan gurami diminati banyak orang. Hanya saja, jangan sampai gegabah asal terjun begitu saja.
‘’Lebih selamat bekali dahulu dengan ilmu dan masuk dalam jaringan pasarnya supaya tidak ada kendala. Kalaupun muncul masalah, ada pihak yang mendampingi dan memberi solusi sehingga budi daya gurami bisa dilakukan lebih mudah dan tanpa rasa khawatir,’’ papar Sekjen Perhimpunan Masyarakat Perikanan Nusantara (Permina) Wiwied Usman, kemarin.
Berangkat dari kepedulian mendampingi mereka yang ingin menerjuni agribisnis perikanan gurami, pihaknya bekerja sama dengan Lembaga Pengkajian Agribisnis Strategis (LPAS) menggelar Diklat Gurami Sistem Guba, Minggu 18 Oktober di Kampung Gurami Jlamprang, Jambidan, Bantul.
Pemateri merupakan orang-orang yang memang sudah bertahun-tahun menerjuni dunia tersebut yakni Gosis Siswanto (pengusaha gurami, pemegang jaringan Jawa dan Kalimantan) dan Among Kurnia Ebo (konsultan agribisnis, penggagas teknik Guba hasil riset PPAU Ilmu Hayati ITB). Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi DIY Ir T Soegiharto MSi akan membuka sekaligus memberikan pengantar.
Lebih Maksimal
Wiwied menjelaskan, diklat akan membagikan secara tuntas cara budi daya gurami yang benar dan cepat baik dalam pembibitan maupun pembesaran, khususnya aplikasi teknik guba yang dua kali lipat hasilnya lebih menguntungkan dibandingkan dengan cara konvensional.
Pada prinsipnya, teknik guba adalah aplikasi probiotik untuk memacu keberhasilan budi daya ikan pada dasar kolam, pertumbuhan ikan, dan kualitas air kolam.
‘’Jika cara konvensional, 30 kg pelet hanya menjadi 22 kg daging, dengan sistem guba dimaksimalkan menjadi 28-30 kg. Ikan bisa lebih berbobot karena probiotik akan membuat pakan 90% menjadi daging, hanya 10% yang terbuang sebagai amoniak. Waktu panen juga lebih pendek, bisa dilakukan tiap bulan,’’ imbuhnya.(Agung PW-70) |
|
|
|
|
|
© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved |
|
|