Berita Aktual  SM Cetak  Suara Warga  Entertainmen  Gaya  Kejawen  Layar  Lelaki  Sehat  Sport  Wanita  Surat Pembaca
 
 
KESEHATAN

06 Agustus 2009
Penyakit Perjalanan dan Pencegahannya

  • Oleh Anies : Bagian Pertama dari Dua Tulisan

Salah satu problem kesehatan masyarakat saat melakukan perjalanan adalah timbulnya penyakit atau gangguan kesehatan tertentu, yang dikenal dengan istlah penyakit perjalanan. Penyakit ini seringkali ringan, tetapi bisa sangat fatal.

PENYAKIT
perjalanan (traveler’s disease) merupakan salah satu penyakit lingkungan yang kompleks, yang terdiri atas penyakit infeksi, noninfeksi, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya. Meski keselamatan perjalanan yang di bawah standar secara umum sangat berpengaruh terhadap sektor pariwisata, khususnya tujuan wisata terkait, namun yang tak kalah penting adalah aspek kesehatan masyarakat dari perjalanan.

Jika aspek keselamatan perjalanan lebih menyangkut masalah sistem transportasi, maka dalam aspek kesehatan masyarakat lebih menyangkut pengguna jasa transportasi. Keduanya terkait dengan keamanan dan kenyamanan dalam melakukan perjalanan.

Perjalanan darat, laut, maupun udara mempunyai berbagai problem kesehatan masyarakat yang umumnya serupa. Dengan adanya 400 juta lebih perjalanan internasional, maka aspek kesehatan masyarakat yang dihadapi para wisatawan merupakan faktor yang perlu diperhatikan.

Beberapa problem kesehatan itu dapat bersifat ringan seperti traveler’s diarrhea sampai yang lebih khas dan biasanya fatal adalah malaria, Japanese encephalitis, dan HIV.  Problem lain yang tidak berupa penyakit, tetapi sangat berarti dalam aspek kesehatan masyarakat, misalnya kehamilan dalam perjalanan, anak-anak di perjalanan, jet lag, dan mabuk perjalanan.   

Aspek kesehatan masyarakat yang dikemukakan dalam tulisan ini semata-mata bertujuan memberikan informasi beberapa problem kesehatan perjalanan yang diharapkan dapat melakukan upaya-upaya peningkatan (promotif) dan pencegahan (preventif), sehingga dapat meminimalkan problem tersebut. Hal ini lebih menyangkut perilaku orang-orang yang melakukan perjalanan. 

Banyak penyakit dan gangguan kesehatan yang dapat dialami para wisatawan, tetapi tulisan ini hanya akan membahas apa yang sering terjadi dan penting diketahui, serta beberapa upaya penanggulangannya.

Infeksi merupakan penyakit utama yang dihadapi wisatawan mancanegara. Dari berbagai penyakit infeksi, traveler’s diarrhea ringan dan malaria paling mendominasi, meski masih terdapat beberapa penyakit infeksi lain yang termasuk berat seperti hepatitis A, demam tifoid, kolera, dan disentri (Hudson, 1996;  Murtagh, 1998;  Grayson and McNeill, 1998;  Amichai, 1993;  Currie, 1996).

Traveler’s  Diarrhea

Traveler’s diarrhea merupakan masalah kesehatan masyarakat yang khusus bagi negara Meksiko, Nepal, India, Pakistan, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika Tengah. Penyakit ini juga pernah menggemparkan dunia pariwisata Indonesia, setelah ditemukannya beberapa wisatawan asing yang menderita kolera saat berkunjung ke Bali.

Penyakit ini memiliki beberapa nama lain yang menandai negara / wilayah ditemukannya, seperti Bali Belly, Gippy Tummy, Rangoon Runs, Tokyo Trots, dan Montezuma Revenge. 

Kasus terbanyak dari traveler’s diarrhea disebabkan oleh bakteri Escherichia coli (E. coli), bahkan sampai 75 persen dari kasus yang ditemukan. Penyakit ini berjangkit sekitar 6-12 jam setelah makan / minum sesuatu yang terinfeksi. Sakit biasanya ringan, hanya berlangsung 2-3 hari dan tidak lebih dari lima hari.

Gejala-gejala yang umum dijumpai antara lain diare yang sering (lebih dari tiga kali dengan konsistensi cair), muntah-muntah, serta kram perut. Obat antibiotika golongan ciprofloxacin dan sejenisnya, serta co-trimoxazole dan obat antidiare sering dibekalkan dokter kepada mereka yang hendak melakukan perjalanan wisata, untuk menanggulangi traveler’s diarrhea.

Tetapi ada sebagian kecil wisatawan yang menderita diare persisten, setelah mengunjungi beberapa negara seperti India dan China karena mendapat infeksi parasit.

Misalnya penyakit amubiasis dan giardiasis. Obat-obat dari golongan metronidazole dan tinidazole biasanya akan dibekalkan dokter keluarga kepada pasiennya yang hendak berwisata ke tujuan wisata yang berisiko.

Hal utama dalam traveler’s diarrhea adalah upaya pencegahan. Pencegahan terutama terhadap kontaminasi air dan makanan.  Sangat dianjurkan menggunakan air minum dalam kemasan yang terjamin kualitasnya. Dapat pula dengan mensterilkan air dengan merebusnya sampai mendidih selama 10 menit. 

Minum air hangat, apabila memungkinkan, sangat dianjurkan. Tak dianjurkan menggunakan es yang diperoleh di sembarang tempat.  Hindari salad segar atau sayur mentah, karena seringkali dicuci dengan air yang terkontaminasi.
Sebaliknya, pisang dan buah-buahan yang berkulit dan dikupas kulitnya saat makan aman dikonsumsi. Dianjurkan pula menggunakan handuk disposable untuk melap tangan.

Malaria

Hampir seluruh wisatawan dengan tujuan negara tropis berisiko tertular malaria. Penyakit ini endemis sekurangnya di 102 negara, dan 2,3 miliar orang berisiko terkena. Risiko terendah di kota-kota besar Amerika Tengah, Amerika Selatan, serta Asia Tenggara. Sedangkan risiko tertinggi di kota-kota di berbagai negara Afrika.

Peningkatan risiko terkena penyakit malaria bagi wisatawan terutama jika berada di daerah endemis malaria, khususnya di musim hujan. Tinggal di daerah endemis malaria dalam jangka waktu lama, khususnya di pedesaan/kota kecil, berisiko sekali menderita malaria.

Kondisi ini makin diperburuk jika tidur di ruangan terbuka tanpa kelambu, memakai pakaian gelap dengan lengan pendek dan celana pendek, serta menggunakan obat pencegahan malaria secara tidak tepat.

Untuk mencegahnya, wisatawan hendaknya mematuhi dua aturan sederhana. Pertama, hindari gigitan nyamuk. Kedua, gunakan obat antimalaria secara teratur.

Dalam mencegah gigitan nyamuk, wisatawan hendaknya menjauhi daerah pedesaan setelah gelap, tidur di ruangan tertutup atau di ruang yang menggunakan AC, tempat tidur berkelambu, menggunakan insektisida di malam hari, menggunakan pakaian berwarna terang, baju lengan panjang dan celana panjang, serta menghindari penggunaan parfum, cologne, maupun after shave yang dapat menarik serangga.

Japanese Encephalitis

Penyakit yang merupakan infeks serius ini ditandai dengan keluhan nyeri kepala, demam, lemah, mendahului gejala neurologik seperti delirium dan koma.

Infeksi oleh virus yang ditularkan melalui nyamuk merupakan dilema bagi wisatawan maupun dokter. Tingkat kematiannya tinggi, 20-40 persen, terutama di daerah endemis.

Penyakit ini muncul pada musim pa-nas, terutama di Nepal, Myanmar, Korea, Vietnam, China, Rusia Timur, dan dataran rendah India. Daerah pertanian, terutama padi dan peternakan babi, merupakan tempat-tempat yang berisiko.
Pencegahan secara umum adalah menghindari gigitan nyamuk, serta meningkatkan daya tahan tubuh dengan makanan bergizi serta istirahat yang cukup.

Yang perlu diwaspadai pula adalah penyakit hepatitis A, demam tifoid, kolera, dan disentri. Ini merupakan penyakit-penyakit tropis yang masih menjadi problem kesehatan masyarakat yang terkait dengan perjalanan.

Hepatitis A banyak dijumpai terutama di daerah pedesaan di negara berkembang. Terdapat penurunan tingkat antibodi terhadap hepatitis A di negara berkembang dan orang dewasa yang mempunyai risiko tertentu. Sehingga dianjurkan untuk vaksinasi hepatitis A.

Pencegahan penyakit ini dengan cara menghindari kontaminasi virus hepatitis A. Tidak mengkonsumsi makanan dan minuman dari penjaja makanan yang tidak higienis.

Sedangkan demam tifoid, kolera, dan disentri, masing-masing disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi, Vibrio cholerae, dan Shigella shigae. Ketiganya merupakan infeksi pada saluran pencernaan.

Pencegahan yang utama adalah menghindari makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri-bakteri tersebut. Dianjurkan minum air dalam kemasan yang terpercaya, tidak minum es dari sembarang tempat, maupun makan salad segar dan sayuran mentah yang tidak terjamin kebersihannya. (bersambung-32)

—Prof Dr dokter Anies MKes PKK, guru besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, ahli kedokteran lingkungan.
© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved
Groups