Berita Aktual  SM Cetak  Suara Warga  Entertainmen  Gaya  Kejawen  Layar  Lelaki  Sehat  Sport  Wanita  Surat Pembaca
 
 
BERITA UTAMA

27 Maret 2008
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (1)
Listrik Datang, Teplok Dibuang

  • Oleh Muhammad Burhan

SM/Muhammad Burhan TINJAU PLTMH: Gubernur Jateng Ali Mufiz meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Desa Depok, Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan, kemarin. (57)
Guna mencukupi pasokan listrik, Jateng membangun 11 Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), tujuh di antaranya di Kabupaten Pekalongan. Berikut kisah warga yang ”bercerai” dengan kegelapan setelah masuknya energi listrik.

GEMERICIK air di aliran Sungai Kumenyep, Lebakbarang kemarin (26/3) nyaris tertelan riuh ratusan warga Depok, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan yang berjejer di pintu masuk PLTMH.

Desa Depok memang sedang punya hajat. Bukan hanya karena sibuk menyambut kedatangan Gubernur Jateng Ali Mufiz, melainkan juga menunggu saat diresmikannya PLTMH.

Kedua hal itu punya arti istimewa bagi warga Depok. Sebab Ali Mufiz adalah Gubernur pertama yang menginjakkan kaki di desa yang yang dibelah oleh Sungai Kumenyep itu.

Sementara peresmian PLTMH kemarin adalah simbol sahnya ”perceraian” warga dengan kegelapan setelah masuknya aliran listrik.
Atmin (50), salah seorang warga Depok yang mengaku sudah berdiri  menunggu hampir empat jam untuk bersalaman dengan Gubernur, mengatakan peresmian pembangkit listrik itu merupakan berkah bagi warga. ”Kami sangat senang karena impian warga bisa agar bisa menikmati energi listrik sudah terwujud,” tuturnya.

Tenaga Kincir

Sebelum berdiri PLTMH, warga sudah ada yang menikmati listrik dengan memanfaatkan teknologi yang sederhana yaitu membuat kincir air jadi energi listrik, kemudian mengalirkannya dengan kabel seadanya.

”Sejak tahun 1990-an sudah ada yang membuat kincir air, tapi listriknya tidak stabil, sebentar nyala sebentar anjlok (padam-red),” ujarnya.

Namun beberapa bulan lalu sejak selesainya PLTMH dan langsung disalurkan, warga merasakan aliran listrik yang lebih stabil. ”Wah lumayan bisa nonton TV dan tidak sering anjlok,” tutur Mardi (25), warga lainnya.

Tun Zairi (50), penduduk setempat, jika malam kini rumahnya jauh lebih terang. Tiap bulan dia mengaku hanya ditarik bayaran Rp 11.000 dan mendapatkan listrik dengan daya 100 watt. ”Ya teploknya kini saya buang dan saya senang bisa nonton tv,” tutur ibu beranak lima itu.

Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan, Tri Tjahjo Lukito kepada Suara Merdeka menjelaskan, cara kerja PLTMH sangat sederhana yaitu dengan memanfaatkan aliran air yang debitnya stabil di Sungai Kumenyep dan diolah jadi energi lisrik dengan turbin. Setelah energi listrik dibangkitkan kemudian ditransmisikan di generator untuk menstabilkan dan menyimpan energi.

PLTMH di Depok bisa menghasilkan listrik 15 kwh. ”Dari generator itu, listrik disalurkan ke rumah warga dengan cara yang hampir sama seperti listrik konvensional,” tuturnya.

Di rumah warga yang menyalulrkan listrik itu juga dilengkapi instalasi dan sekering untuk pengaman. ”Jadi sejauh ini PLTMH sudah bisa mencukupi. Jika ada yang masih belum menikmatinya, maka harus dibangun pembangkit kedua,” tambah Kepala Distamben Jateng, Sudjarwanto Dwi Atmoko.
Kepala Desa Depok, Slamet menuturkan dari PLTMH itu, sebanyak 103 keluarga sudah menikmati listrik. ”Masih ada tujuh keluarga yang belum  terpenuhi,” tuturnya. (60)
© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved
Groups