|
|
|
|
| |
|
|
|
PENDIDIKAN
16 Mei 2009
Pembelajaran Multimedia Belum Didasari Analisis Kebutuhan
SEMARANG-Saat ini terjadi euforia pembelajaran dengan memanfaatkan multimedia. Banyak kalangan pendidik yang kurang tepat dalam menafsirkan dan mengaplikasikan sistem pembelajaran multimedia.
”Mendasari sistem pembelajaran multimedia dengan analisis kebutuhan dan desain instruksional yang tepat adalah mutlak. Tanpa kedua hal itu, yang menjadi korban adalah siswa.
Sebab, apa yang mereka dapatkan ternyata belum tentu sesuai dengan standar kompetensi lulusan (SKL),'' jelas Hamrowi SSi, Sekjen Klub Guru Jateng (KGJ) dan sekretaris Komunitas Multimedia Edukasi (Komed) Indonesia, baru-baru ini.
Menurut juara I lomba game edukasi tingkat nasional (tim) yang diselenggarakan BPKLN pada 2008 itu, salah satu tugas guru adalah menyusun atau memilih media pembelajaran yang tepat, termasuk media pembelajaran berbantuan komputer (multimedia).
Namun, lanjut dia, penyusunan media tersebut harus disesuaikan dengan analisis kebutuhan dan desain instruksional dari materi pembelajaran terkait.
''Untuk itu guru harus memiliki kemampuan untuk melakukan analisis terkait dengan pemilihan media pembelajaran. Harapannya, hal itu bisa membantu siswa dalam mengkonstruksi pemikirannya sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.”
Alternatif Terbaik
Hamrowi yang juga staf pengajar bidang sains, teknologi informasi, dan komunikasi SMP Hj Isriati Baiturrahman Semarang, menjelaskan bahwa analisis kebutuhan penggunaan media bukan hal yang mudah. Oleh sebab itu, sebelumnya guru diharapkan benar-benar melakukan penelitian dalam proses pembelajaran yang dilakukan.
”Diharapkan guru bisa mendapatkan alternatif terbaik dalam metode pembelajaran dan media pembelajaran yang digunakan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa,” ujarnya.
Lebih jauh juara I lomba Karya Tulis Inovatif Produktif Se-Jateng 2003 itu menegaskan, euforia pembelajaran dengan sarana multimedia terjadi karena banyak faktor. Antara lain dipicu oleh semakin murahnya peranti keras dan lunak komputer, tren gaya hidup, dan kemudahan akses informasi.
”Saat ini, di kelas banyak kita jumpai guru yang menggunakan laptop untuk membantu segala keperluannya. Ironisnya, sebagian guru menganggap semua bentuk materi pembelajaran dapat disajikan atau dipresentasikan dalam bentuk digital.”
Menurut dia, banyak guru yang mengaku telah mengembangkan multimedia, namun tidak lebih dari sekadar presentasi. Materi yang disampaikan tidak menggambarkan proses suatu gejala, akan tetapi hanya menampilkan jabaran-jabaran dari materi.
”Hal itu yang harus dibenahi,” tegas Hamrowi yang akan menjadi master training of trainer (ToT) yang diselenggarakan oleh KGJ dan Komed di SMK7 Semarang, 31 Mei mendatang. (D6-45) |
|
|
|
|
|
© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved |
|
|