|
|
|
|
| |
|
|
|
PENDIDIKAN
23 Maret 2009
Pembelajaran di Korsel 15 Jam/Hari
LAMA pembelajaran para murid di sekolah Korea Selatan (Korsel), rata-rata berlangsung selama 15 jam/hari. Jam pelajaran di sekolah diberlakukan mulai pukul 07.00 dan berakhir sampai pukul 22.00 dan setiap kelas muridnya hanya berjumlah 25 anak. Itu pun masih dikelompokkan menjadi dua grup, masing-masing berjumlah 12 dan 13 anak.
Kepala SMK Negeri 2 Wonogiri Ir Drs H Dikin mengungkapkan hal itu setelah baru-baru ini melakukan studi banding tentang pembejalaran di sejumlah sekolah bertaraf internasional (SBI).
Studi banding ke Korsel, berlangsung selama lima hari. Dari Provinsi Jateng, yang berangkat adalah perwakilan dari Kabupaten Wonogiri, Kebumen, Karanganyar, Wonosobo, Jepara, Pekalongan, dan Kota Solo. Kunjungan itu, ungkap Dikin, khusus melakukan studi banding ke sejumlah SBI dan kunjungan ke beberapa industri besar nasional.
''Satu hal yang menarik, sekolah-sekolah yang mempunyai nama di Korea, justru didirikan oleh perusahaan-perusahaan industri terkenal seperti Hyundai, Samsung, dan LG. Pemerintah tinggal mendukung subsidi pendanaannya.''
Sistem pembelajaran seperti itu, lanjut dia, memudahkan para lulusannya, yang jelas-jelas cerdas dan menguasai keterampilan, dapat direkrut menjadi tenaga kerja di perusahaan yang bersangkutan.
Nasionalisme
Kiat pembentukan karakter dan sikap juga ikut dikedepankan. Penanaman kepribadian yang ulet, jiwa yang tangguh, dan semangat tak kenal menyerah, ikut masuk menjadi kurikulum pembelajaran sekolah di Negeri Gingseng itu. Nasionalisme bangsa Korea begitu tinggi. Mereka secara besar-besaran mengekspor aneka produk industrinya ke pasar dunia, tapi bangsanya juga setia memakai produk dalam negerinya sendiri. Demikian halnya dengan kesetiaan pemakaian bahasa nasionalnya. Hampir semua buku-buku di perpustakaan memakai bahasa Korea. "Sepertinya, Korea menginginkan bahasa nasionalnya berkembang menjadi bahasa internasional layaknya bahasa Inggris,'' tutur Dikin.
Mengenai kondisi alamnya, imbuh Dikin, sebenarnya lebih buruk dibandingkan dengan alam Wonogiri. Daerah Korea hampir didominasi perbukitan dan gunung batu serta tanah gersang. Tapi etos kerja dan semangat belajar orang Korea tinggi.
"Ini mungkin terbangun oleh situasi dan kondisi alamnya yang tidak subur itu, yang kompensasinya menjadikan aspek pendidikan dan keterampilan serta pembangunan kualitas SDM bangsa Korea mendapatkan prioritas."
Pamrihnya, lanjut dia, agar SDM-nya menjadi berkualitas dan unggul, tidak saja di lingkup negaranya sendiri tapi juga menonjol di percaturan internasional. (Bambang Pur-45) |
|
|
|
|
|
© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved |
|
|