|
|
|
|
| |
|
|
|
LINTAS MURIA
22 Maret 2008
Pemprov Dukung Kampanye Lingkungan
PATI - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng menyambut baik dan mendukung gerakan kampanye pelestarian lingkungan di kawasan Pegunungan Kedeng. Sebab, daerah tersebut menyimpan 80 mata air yang selama ini dimanfaatkan sekitar 86.000 jiwa di sekitarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Jateng Ali Mufiz dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Dinas Kehutanan Sri Puryono, Rabu (19/3) saat diundang dalam aksi bersama selamatkan Gunung Kendeng. Aksi damai yang dimotori Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) itu berlangusung di Bumi Perkemahan Sonokeling, Desa Gadudero, Kecamatan Sukolilo, Pati. Melibatkan sejumlah elemen masyarakat.
Selain masyarakat lokal yang merasa terancam terhadap rencana eksploitasi besar-besaran oleh PT Semen Gresik, sejumlah kelompok masyarakat seperti Pemuda Tani Indonesia, Ikatan Pecinta Alam Pati (IPAP), juga menyatakan sama. Sejumlah seniman dan budayawan seperti Emha Ainun Najib (Cak Nun), Sosiawan Leak, dan Anis Sholeh Ba’asyin turut hadir.
Bahkan, masyarakat adat Sedulur Sikep Sukolilo dan sekitarnya, terlihat ambil bagian dalam acara tersebut. Puluhan wong samin, begitu mereka akrab disebut, dengan pakaian adatnya berbaur dengan ratusan warga lainnya menolak pembangunan pabrik semen yang karena dianggap merusak lingkungan.
Seorang warga Tuban, Jawa Timur Edi Toyibi yang menjadi korban polusi dan dampak lingkungan PT Semen Gresik hadir pula di tengah-tengah ratusan massa. Pentolan Masyarakat Reksa Bumi (Marem) Dr Lilo Sunaryo yang getol meneriakkan penolakan PLTN Jepara pun tak ketinggalan mendukung aksi tersebut.
Cukup Memprihatinkan
Sri Puryono mengatakan, kondisi Pegunungan Kendeng yang menjadi kawasan hutan lindung saat ini cukup memprihatinkan sehingga perlu diselamatkan. Karenanya, perlu gerakan bersama mengembalikan daya guna potensi kawasan itu. “Harus ada langkah nyata dengan penanaman kembali. Pohon-pohon jati yang sudah hilang bisa digantikan dengan tanaman lainnya yang cepat tumbuh dan bisa dimanfaatkan,” ujar dia.
Dalam hal ini, pemprov meminta bupati Pati turut ambil bagian dalam penghijauan gunung tersebut. Salah satunya dengan memfasilitasi penanaman kembali. Seusai turun panggung, Seti Puryono membubuhkan tanda tangan di spanduk penolakan pabrik semen yang dibentangkan di sekitar lokasi aksi. Dia menyatakan, turut tanda tangan untuk mendukung gerakan pelestarian hutan, bukan merupakan sikap penolakan atas pabrik semen.
Ditanya mengenai rencana penambangan berskala besar di Pegunungan Kendeng yang merupakan kawasan hutan lindung, Puryono mengatakan, tidak semudah yang dibayangkan. “Prosedurnya harus dipenuhi dulu, di antaranya urusan pinjam pakai kawasan, dan amdal (analisa mengenai dampak lingkungan).”
Hal tersebut senada dengan pernyataan sikap tertulis yang dirilis JMPPK. Di dalamnya disebutkan, jika benar pabrik semen jadi didirikan di kawasan Sukolilo berarti melanggar rencana tata ruang dan rencana wilayah (RTRW) Kabupaten Pati 2006-2011.
Dalam RTRW itu, kata Koordinator JMPPK Suhardi SH, Kecamatan Sukolilo merupakan wilayah pengembangan pertanian bukan industri. Dan yang meresahkan lagi, lanjutnya, PT Semen Gresik selama belum memiliki dokumen amdal ataupun UKL-UPL, namun sudah melakukan sosialisasi dan pematokan tanah warga. (H49-54) |
|
|
|
|
|
© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved |
|
|