|
|
|
|
| |
|
|
|
BERITA UTAMA
08 Maret 2009
Sejuta Lilin untuk Perdamaian Dunia
 | SM/Juli Nugroho
SEJUTA LILIN: Umat Buddha menyalakan lilin di pelataran Candi Borobudur, Sabtu (7/3). Acara tersebut mengambil tema Sejuta Lilin untuk perdamaian Dunia.
|
| MENDUNG menggelantung di atas nirwana Candi Borobudur di saat senja, disusul gerimis menetes di antara stupa. Sejuta lilin yang dijajar di pelataran batu berundak sebagian padam.
Suasana itu tak menyurutkan para biksu dan umat Buddha menggelar persembahan pelita dan puja doa aspirasi Marme-Monlam.
Paritra terus menggema, para biksu dan umat mengembangkan payung dan sebagian lagi mengenakan jas hujan untuk berlindung dari gerimis. Sesekali sangkakala, tambur, dan kerincingan mengumandang menjadikan prosesi itu bertambah sakral.
Setelah gerimis reda, samar-samar dari kejauhan sinar lilin melambai. Begitu eksotik, stupa-stupa yang disorot lampu dan lilin yang berjumlah hingga 1 juta buah. Kontemplasi yang dipimpin dipimpin oleh YM Zurmang Drukpa Rinpoche IV itu menjadi sebuah pengharapan perdamaian dunia di tahun 2009.
Ritual tahunan tersebut tak hanya diikuti para biksu dan umat Buddha dari Indonesia, tapi juga sejumlah negara di Asia, antara lain Singapura, China, Tibet, India, Butan, Nepal, dan Malaysia. Rangkaian doa perdamaian di Candi Borobudur yang diselenggarakan Yayasan Vajrayana Nusantara sejak Jumat (6/3) hingga Minggu (8/3), kemarin malam adalah puncaknya.
Koordinator Lapangan Doa Perdamaian Dunia Candi Borobudur 2009, Redi Nusantara, mengatakan doa khusus pada ritual kali ini untuk perdamaian umat manusia di seluruh dunia.
’’Setiap tahun, sejak delapan tahun berturut-turut ini kami melakukan doa perdamaian di Borobudur dan tahun ini kami kemas menjadi kegiatan besar dan bermakna,’’katanya.
Menurutnya, secara umum Monlam berarti aspirasi atau keinginan yang mendalam untuk memberikan kebahagiaan kepada makhluk lain dan pada saat yang bersamaan juga meningkatkan akar kebajikan diri sendiri.
’’Pengharapan dilimpahkan pahala kebajikan demi manfaat bagi semua makhluk samsara. Di masa lalu, Buddha Sakyamuni membuat aspirasi untuk mencapai pencerahan dan beliau mempersembahkan semangkuk sup,’’ katanya.
Dikatakan, semangkuk sup adalah hal yang tampaknya kecil, namun karena beliau mempersembahkannya dengan motivasi yang murni dengan aspirasi tertinggi untuk mencapai pencerahan, maka berkahnya menyelimuti seluruh ruang dan memberikan manfaat kepada semua makhluk samsara.(Sholahuddin al-Ahmed-62)
|
|
|
|
|
|
© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved |
|
|