Berita Aktual  SM Cetak  Suara Warga  Entertainmen  Gaya  Kejawen  Layar  Lelaki  Sehat  Sport  Wanita  Surat Pembaca
 
 
LINTAS MURIA

05 Maret 2009
Tebing Longsor, Lima Rumah Ambrol

BLORA - Lima rumah warga yang berada persis di pinggir Sungai Bengawan Solo di Kampung Semangat Kelurahan/Kecamatan Cepu Blora ambrol. Musibah itu terjadi karena fondasi rumah tidak kuat menahan kikisan arus Bengawan Solo.

Longsornya tebing sungai menyebabkan rumah yang berada di atasnya ambruk.
Beruntung, peristiwa yang terjadi Selasa (3/3) itu tidak menyebabkan korban jiwa. Sebab, sang pemilik rumah telah mengetahui longsornya tebing tersebut. Sebelum rumah ambruk, mereka telah mengungsi. 

Kerugian materi yang dialami para pemilik rumah mencapai sekitar Rp 60 juta. Lima rumah yang ambrol tersebut sebagian berdinding bambu, yakni milik Sugiyo (40), Sakirun (40), Kasimin (45), Sukar (40), dan  Purnomo (37).

Herman, salah seorang warga menuturkan, tanda-tanda tebing di bawah rumah warga tersebut bakal longsor mulai terlihat ketika banjir telah surut, Senin (2/3).

Namun yang longsor baru sebagian kecil. Keesokan harinya, tebing yang longsor semakin bertambah. Karena itu, pemilik rumah memutuskan untuk mengungsi.
“Para tetangga ikut membatu mengungsikan barang-barang berharga, termasuk melepas beberapa bagian rumah yang bisa diselamatkan,” kata Herman, kemarin.

Dia menuturkan, setelah kerja bakti selesai, tanah di bagian belakang rumah itu pun ambrol. Menurutnya, banjir luapan Bengawan Solo yang terjadi belum lama ini di Kecamatan Cepu, Blora menyisakan persoalan baru bagi warga yang bermukim persis di pinggir sungai. Pasalnya, fondasi rumah mereka terancam ambrol.

Khawatir

Derasnya arus air membuat kecemasan warga semakin menjadi-jadi. “Tentu saja warga cemas. Khawatir tebing longsor lagi,” tandasnya.  Kekhawatiran warga itu beralasan. Pasalnya, tanah longsor juga mengancam rumah warga di sekitar lokasi itu. Longsor bisa saja terjadi jika turun hujan deras dan debit air Bengawan Solo meningkat.

Sebagian warga yang bermukim di pinggiran Bengawan Solo adalah pedagang. Letak kampung yang tidak jauh dari Pasar Plasa Mustika Cepu itu membuat kawasan tersebut menjadi tempat bermukim warga yang pada umumnya berasal dari luar Cepu.

“Kalau boleh, warga berharap dibuat tanggul ataupun fondasi kuat untuk menahan air sungai yang datang supaya warga di sini bisa hidup tenang,” kata Purnomo, warga lainnya. (H18-71)
© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved
Groups