 |
 |
|
|
|
|
|
| |
|
|
|
BERITA UTAMA
31 Januari 2009
Pers Kampus, si ''Anak Bengal''
JIKA dibanding dua kampus pelat merah lain di Semarang (Undip dan Unnes), IAIN sedikit berbeda. Tampilan mahasiswanya dicap banyak kalangan agak tidak modis. Konon jauh dari atribut modernitas dalam konteks penampilan.
Namun aktivitas intelektual di kampus itu berdenyut teramat kencang. Aktivitas diskusi, bedah buku, teater,dan seabrek aktivitas mahasiswa kerap diadakan.
Beberapa komunitas mahasiswa seperti persma (Amanat, Justisia, Misi, Idea, dan Edukasi) dan teater (Asa dan Beta) menjadi gerbong penarik lokomotif dinamisasi kampus. Belum lagi berbagai lembaga studi yang digerakkan jaringan alumni kampus itu.
Seorang aktivis Arif Mustofifin mengatakan, riuhnya pergulatan intelektual di IAIN lahir karena tuntutan keadaan. Sempitnya lowongan kerja bagi alumni kampus keagamaan memaksa mahasiswa menjadi kreatif mencari celah dan peluang. ’’Nah, kreativitas ini dibentuk melalui aktivitas kemahasiswaan.’’
Tak salah apa yang dikatakan mahasiswa jurusan al Ahwal al Syakhshiyyah itu. Prospek kerja alumni Unnes jelas, jadi guru. Alumni Undip bisa bekerja sesuai jurusan: kedokteran ya jadi dokter atau teknik sipil bisa jadi insinyur.
Tapi, mau “jadi apa” lulusan Prodi Perbandingan Agama, Jinayah Siyasah, atau Perbandingan Madzhab dan Hukum? Di “zaman sekuler” seperti sekarang sarjana agama kurang memeroleh tempat.
Sadar atau tidak hal ini menciptakan karakter mahasiswa IAIN yang khas: kreatif, mbeling, dan sedikit urakan. Berbeda dengan PTN lain yang cenderung mati dan beku.
Tolok ukurnya jelas, puluhan lembaga studi dan komunitas mahasiswa lahir di sini. Memang ada beberapa lembaga yang cuma gagah-gagahan tanpa aktivitas rutin. Namun, itupun telah menunjukkan mahasiswa memiliki minat untuk berbuat sesuatu selain kuliah.
Wajar saja banyak alumni kampus ini yang berhasil memangku jabatan publik. Sebut saja Hakim Junaedi (Ketua KPU Kota Semarang) atau Jabir Al Faruqi Faruqi (Sekjen KP2KKN Jateng).
Di antara sekian banyak komunitas, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Justisia layak disebut sebagai salah satu lokomotif paling kencang untuk mendorong dinamisasi di kampus santri itu. Mereka tak cuma menerbitkan media namun juga intens melakukan kajian ilmiah.
Kajian sore digelar rutin saban sore, nyaris tanpa jeda. Tengoklah markas mereka di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Fakultas Syariah yang selalu ramai. Seminggu sekali digelar acara “Bengkel Karya”, mengupas karya yang dimuat di media massa umum.
Ya, karya jurnalistik pegiat Justisia tersebar di berbagai media, seperti Suara Merdeka, Wawasan, Kompas dan berbagai majalah. Pada acara “Bengkel Karya”, aktivis yang tulisannya dimuat diminta membedah karyanya sekaligus “ditodong” traktir makan-makan.
Ideologi Dekonstruksi
Pemimpin Umum Justisia Hendi Diyanto mengatakan, kajian ilmiah merupakan agenda rutin selain menerbitkan media berupa majalah, jurnal, maupun buletin. Menurutnya, diskusi merupakan modal bagi pegiat persma untuk menerbitkan karya yang bermutu dan berbobot.
Justisia memiliki lima produk pers. Empat di antaranya cetak, yakni jurnal Justisia, buletin Just News, Majalah Lingkar Kajian Sastra Justisia (LiKSA) dan koran mahasiswa Just Paper. Adapun media online berada di lpmjustisia.blogspot.com.
Diyanto menceritakan, lazimnya pers mahasiswa lain, aktivitas Justisia juga mengalami pasang surut. Awal kelahirannya pada 1992 Justisia masih menjadi “anak manis”. Maklum saat itu rezim orde baru getol merepresi kegiatan mahasiswa yang dianggap kritis. Namun seiring waktu, “kenakalan” perlahan muncul. Sikap kritis Justisia semakin menjadi menjelang reformasi.
“Saat itu, teman-teman menjadikan Justisia untuk menyuarakan dekonstruksi. Nah, yang didekontruksi adalah rezim orde baru.” Dampaknya, para awak redaksi sering dikejar-kejar intel.
Setelah orde baru tumbang, semangat dekontruksi mereka tak surut. Hanya ’’sasaran tembaknya’’ saja yang diubah. Jika dulu mereka melawan orde baru, kini melawan “agama”.
Beberapa kali, majalah dan jurnal Justisia mengangkat tema yang kontroversial. Di antaranya Fiqh Progresif, Indahnya Kawin Sesama Jenis, Membongkar Teks Tuhan, Melawan Hegemoni Wahyu, Gelombang Neo Wahabisme, Membagi Ruang Agama dan Negara, Mistisme Jalan Alternatif Reformasi Agama, Mitos-mitos Kenabian dan Ekspedisi Islam Transnasional.
Yang paling kontroversial barangkali edisi Indahnya Kawin Sesama Jenis (tahun 2004). Beberapa kalangan menganggap kajian majalah itu sudah menyimpang.
Menanggapi hal itu, salah satu pegiatnya Arif Mustofifin mengatakan Justisia berusaha mengembangkan kebebasan berpikir. ’’Dengan berpijak acuan itu, kami memotret fakta dan fenomena di masyarakat.
Oleh sebagian orang, pendapat kami dianggap menyimpang. Namun sebenarnya telah melalui kajian yang ilmiah,’’ ujarnya.
Terlepas dari kontroversi itu, Justisia telah melahirkan banyak tokoh. Di antaranya Dr Rumadi (Pimred Justisia, kini Wakil Direktur The Wahid Institute Jakarta) dan Ibnu Thalhah (kartunis).
Segudang prestasi ini ditanggapi Diyanto dengan rendah hati. Menurutnya, Justisia bukanlah pabrik.
’’Justisia bukan pesulap yang bisa menyihir seseorang. Juga bukan Raja Midas bisa mengubah batu menjadi emas.”
Namun, dia meyakinkan Justisia mencoba membentuk pegiatnya menjadi manusia pembelajar.
’’Ruh pembelajar inilah yang akan mengantar seseorang untuk bertahan hidup dan berprestasi,’’ ujarnya. (Panji Satrio - 80) |
|
|
|
|
|
© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved |
|
|
|
|
|
 |
 |