|
|
|
|
| |
|
|
|
HIBURAN & SENI
06 September 2008
Menarikan Sindiran pada Kebergantungan
BOTOL-BOTOL air minum dalam kemasan ditata berjajar-jajar memenuhi arena pertunjukan. Dengan sapuan tata cahaya minimalis, botol-botol plastik itu terlihat serupa deretan batu nisan di pemakaman.
Lantas, dari kegelapan muncul sesosok tubuh dalam gerak pelan. Tubuh itu bertudung jas hujan, laiknya tukang sihir atau cenayang. Adakah dia hendak berziarah di pemakaman itu?
Tidak, komposisi tari berjudul “So Close Cyclus” yang dimainkan Independent Expression dari Solo di Kampung Seni Lerep, Ungaran, baru-baru ini, sama sekali tak berkisah tentang pemakaman.
Karya tari Bobby Ari Setiawan itu menguarkan kegelisahan tentang air, yang kian hari kian terkangkangi oleh kapitalisme. Pada pementasan itu, Bobby tampil bersama dua kawannya, Dedy Setya Amijaya dan Agus Margiyanto, yang sama-sama berangkat dari ISI Surakarta.
Sosok yang terbungkus mantel itu merupakan simbolisasi masyarakat yang kian sulit memperoleh air bersih, padahal mereka tinggal di wilayah yang hujan turun hampir tiap hari. Untuk sekadar menawarkan dahaga, mereka harus air mengeluarkan sejumlah uang dengan membeli air minum dalam kemasan.
Tak cukup itu, koreografer juga menampilkan sosok yang terbungkus plastik. Sosok itu menggeliat, bergerak, dan berupaya sekuat tenaga untuk lepas dari ”kondom raksasa” tersebut, sebagai penggambaran usaha manusia untuk lepas dari jerat kapitalisme.
Pemasangan botol-botol air minum memenuhi arena pertunjukan, juga memberikan penegasan serupa. Serbuan kapitalisme, yang disimbolkan air minum dalam kemasan, datang dari semua segi kehidupan manusia. Tak cuma memenuhi arena pertunjukan, Bobby dengan cerdik juga menggunakan botol air minum sebagai kostum, pada diri penari ketiga yang sekaligus menjadi ”tokoh utama” komposisi tersebut. Kostum itu memberikan kesan cengkeraman kapitalisme terasa begitu dekat, begitu melekat.
Presentasi Ketiga
Pentas di Kampung Seni Lerep merupakan presentasi ketiga bagi Independent Expression, untuk komposisi ”So Close Cyclus”. Sebelumnya, komposisi itu dimainkan di Solo dan Pekanbaru (Riau).
”Ide menggunakan botol bekas air kemasan muncul dari para penari saya, yang selalu menyediakan air minum dalam kemasan untuk menghilangkan rasa haus saat latihan,” aku Bobby, pada diskusi seusai pertunjukan.
Bobby berkisah, komposisi tersebut mulai digarapnya pada 2005. Hingga tiga tahun kemudian, ketika dipentaskan di Kampung Seni Lerep, komposisi itu telah mengalami metamorfosis sejalan dengan proses yang dilakukannya.
Pada pementasan di Solo, Bobby menjelaskan, dirinya lebih banyak mengeksplorasi mantel atau jas hujan. Ketika itu dia didampingi sejumlah penari, yang mengenakan kostum jas hujan warna-warni.
Ketika tampil di Pekanbaru, Bobby berkolaborasi dengan penari setempat karena dia harus berangkat sendiri. Sebelumnya, dia mengirimkan CD pementasan dan menawarkan pada para penari Riau untuk bergabung. ”Hasilnya, ada unsur gerak Melayu pesisiran yang memberi warna pada pementasan di Pekanbaru tersebut.”
Lepas dari kurang optimalnya tata cahaya dan artistik, pementasan ”So Close Cyclus” memberikan suguhan yang cukup memantik apresiasi penonton. Setidaknya, itu terlihat dari keteguhan puluhan penonton yang bertahan hingga menjelang tengah malam. Di tengah embusan udara dingin Lerep, yang kadang-kadang terasa mengerat tulang. (45) |
|
|
|
|
|
© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved |
|
|