Berita Aktual  SM Cetak  Suara Warga  Entertainmen  Gaya  Kejawen  Layar  Lelaki  Sehat  Sport  Wanita  Surat Pembaca
 
 
BERITA UTAMA

12 September 2012
Pendidik Berprestasi dari Jateng (1)
Dari Tabel Gurita hingga Industri di Sekolah

Sejumlah tenaga pendidik di Jawa Tengah menorehkan prestasi yang membanggakan di ajang Pemilihan Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah Berprestasi serta Guru PLB/PK Berdedikasi Tahun 2012. Mereka mampu menyisihkan ratusan peserta
se-Indonesia dalam kegiatan yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu. Bagaimana kiprah mereka? Berikut laporannya.  

JAM menunjukkan pukul 08.45. Puluhan siswa berseragam merah putih berbaris rapi di bawah tugu batas Kota Semarang-Demak, kemarin.  Wajah mereka memerah karena terbakar mentari.
’’Kami sedang menunggu Pak Slamet. Dia dalam perjalanan dari Semarang menuju Demak,’’ ungkap Roni (9), salah seorang siswa yang berdiri hampir 30 menit itu.

Ya, mereka tengah menyambut kedatangan Kepala SD 1 Kalisari, Kecamatan Sayung, Slamet.  Dia disambut secara khusus para siswa dan guru karena berhasil meraih prestasi membanggakan, menjadi kepala sekolah teladan tingkat nasional.

’’Pak Slamet mengikuti seleksi yang cukup panjang hingga bisa meraih penghargaan tingkat nasional itu. Tak salah, jika kami berkeinginan mengarak dia keliling kota kecamatan,’’ kata koordinator acara, Gigis M Afnan yang juga Kepala SMK 1 Sayung. 
Tak berselang lama, Slamet yang baru pulang dari Jakarta bertemu dengan Menteri Pendidikan Nasional M Nuh itu datang. 

Dia kemudian diberi kalung untaian bunga melati dan diarak keliling kota. 
Selama ini, Slamet dikenal sebagai guru yang bersahaja, murah senyum serta semanak pada semua orang. Dia juga mumpuni di bidangnya dan banyak makan asam garam di dunia pendidikan.
Betapa tidak? Pria yang menamatkan sarjana pendidikan di Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu awalnya mengajar di daerah yang sempat dilanda konflik, Maluku. 

Perbedaan cara mengajar karena berlainan budaya itu menjadikannya kaya pengalaman. Delapan tahun, dia mencurahkan segala kemampuannya mendidik warga setempat. Slamet lalu pulang ke tanah kelahiran, Demak pada 2002
Dengan sarana dan prasarana yang lebih memadai, membuatnya ingin menjadikan anak didiknya meraih prestasi yang maksimal.
Suami Nikmah itu terus berupaya menciptakan metode pembelajaran yang efektif.  Pada 2009, dia menggagas pembelajaran dengan cara mengajak peran aktif orang tua.

Gagasan itu merupakan awal dari penemuan metode yang dinamainya kontrak belajar guru dan orang tua (tabel gurita).  Metode ini memungkinkan guru dan orang tua berkomunikasi aktif merumuskan pembelajaran yang paling tepat bagi anak.

Dengan tabel itu sekaligus bisa merumuskan mata pelajaran, standar nilai, sikap hingga kemampuan ekstra kurikuler masing-masing siswa.
Untuk menjalankan tabel itu, orang tua siswa dan guru harus menandatangani kontrak pembelajaran pada setiap semester.  Ibarat sebuah kontrak pekerjaan, masing-masing pihak saling menghormati dan berupaya maksimal mendidik putra-putrinya. 
Meski belum diterapkan selama bertahun-tahun, namun cara itu memberikan dampak positif bagi siswa SD 1 Kalisari. Semangat siswa untuk belajar meningkat dari waktu ke waktu.
’’Selain itu, tidak ada guru yang mengeluh muridnya malas mengerjakan pekerjaan rumah (PR).  Sebab, dengan sistem itu orang tua di rumah lebih aktif memberikan pengawasan,’’ tutur ayah dari Syarif Hidayatulah dan  Yusuf Rahmat tersebut.

SMK 6 Semarang

Kreativitas juga diciptakan Kepala SMK 6 Semarang Ahmad Ishom. Dia menjadikan sekolah ibarat laboratorium keberhasilan anak di masa mendatang.
Sekolah tak hanya fokus pada sisi akademik, melainkan pengembangan industri sesuai dengan program kompetensi yang dipelajari.
Pria yang akrab dipanggil Ishom ini kemudian menuangkan idenya menjadi program best practise smart.  Program itu lah yang mengantarkan dia menjadi juara tingkat nasional sebagai kepala SMK terbaik se-Indonesia.
Di sekolah yang dia pimpin sejak 2009 itu, siswa ditekankan pada praktik industri. Selain menghasilkan poin penilaian akademik, mereka juga memperoleh uang.

Misalnya, siswa program kompetensi kecantikan rambut dan kulit bisa melayani konsumen. Sebab, sekolah tersebut memiliki salon yang dibuka untuk umum. Demikian juga dengan siswa program kompetensi akomodasi perhotelan.
“Pemasukannya cukup besar. Per bulan berbeda-beda, tapi bisa mencapai Rp 600 juta. Uangnya digunakan untuk modal pengembangan dan ada untuk siswa,” kata pria dari keluarga nelayan itu.

Teaching factory smart mengajarkan siswa untuk berwirausaha. Mengerti bidang usaha yang akan digeluti sedini mungkin, cara kerja, dan risikonya. Siswa juga diajari untuk menjalin kerja sama dengan pihak ketiga, karena dalam pengembangan hal itu sangat penting.
Harapannya, saat lulus siswa bisa berwirausaha, menciptakan lapangan pekerjaan, dan menyerap tenaga kerja. Bukan sebaliknya. Langkah itu sesuai dengan misi sekolah kejuruan yang menyiapkan lulusan menjadi tenaga terampil dan siap kerja.
SMK 6 juga memiliki program kompetensi jasa boga, patiseri, jasa butik. Adapun implementasi pembelajaran teaching factory smart  itu dilakukan dengan cara, siswa jurusan jasa boga harus mampu membuat perencanaan produksi makanan dengan modal yang sudah ditentukan hingga memasarkan dan menghitung laba.

Menurut dia, pendidikan di sekolah itu merupakan eskalator dan bukan tujuan. Melalui pendidikan, siswa diharapkan meraih impian. Dan, hal itu menjadi tugas guru untuk memberikan bekal. “Guru memiliki tugas untuk mendidik, mengajar, melatih dan mengevaluasi. Guru juga harus menjadi contoh baik di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Sementara itu, sebelum terpilih menjadi yang terbaik,  dia dan 30 kepala SMK lain yang berasal dari berbagai daerah harus melewati sejumlah ujian. Penilaian pada kompetisi kategori kepala sekolah berprestasi satuan pendidikan kejuruan itu, meliputi portofolio, tes tulis, presentasi, best practice, wawancara, dan psikotes.

Namun, yang terpenting dalam penilaian adalah implementasi yang dilakukan pihaknya selama mengabdi menjadi tampuk pimpinan di sekolah kejuruan tersebut.(Hari Santoso, Hanung Soekendro, Anggun Puspita-71)

© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved
Groups