SUARA BANYUMAS
12 September 2012
Giri Yuwono Raih Penghargaan Menteri
- Mampu Hijaukan Bukit Gersang
EMPAT tahun lalu, sejauh mata memandang hanya bukit gundul nan tandus yang tersaji di depan mata. Warga hanya mengenal tanaman singkong untuk mengisi lahannya. Karena itu setiap musim kemarau tiba, bisa dipastikan mereka akan kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
’’Kini semua sudah berubah. Air yang dulu sulit didapat saat kemarau, kini sudah tersedia. Warga yang dulu tidak punya MCK, kini sebagian besar sudah membuat. Anak-anak juga sudah banyak yang sekolah hingga SMP, SMA, bahkan ada yang kuliah,’’ kata Surinto, warga Dusun Banaran, Desa Duren, Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara, kemarin.
Perubahan yang dirasakan warga dusun tersebut tidak bisa lepas dari kiprah mereka yang tergabung dalam Kelompok Tani Penghijauan (KTP) Giri Yuwono. Kelompok tani yang didirikan sejak 3 Maret 2006 itu, akhirnya memberi sejumlah manfaat setelah sekian tahun berkegiatan.
’’Tepatnya pada 2008, ketika kami mulai mendapat pendampingan dari Forum Komunikasi Alumni ESQ 165 Korda Banjarnegara. Banyak hal positif yang ditularkan kepada kami, sehingga warga termotivasi untuk mengubah kebiasaan buruk menuju yang baik,’’ ungkap dia yang merupakan Sekretaris I KTP Giri Yuwono.
FKA, menurutnya, tekun mendampingi warga dari mulai bidang kerohanian, yakni melalui pengajian dan motivasi serta ajakan beribadah. Mereka juga memberi pengertian, bahwa menjaga kebersihan dengan tidak buang air besar di sembarang tempat, misalnya, akan memberikan banyak manfaat kesehatan.
MCK Massal
Untuk memfasilitasi warga dalam hal kebersihan, dibangun MCK massal sebanyak delapan unit yang tersebar di empat titik. Untuk mengubah kebiasaan lama tidak mudah, sehingga perlu difasilitasi MCK yang bersih.
Wakil Ketua Giri Yuwono, Mukhadam, menambahkan perubahan yang lebih drastis ketika mereka difasilitasi FKA ESQ untuk bertemu dengan PT Rimba Partikel Indonesia. Kemudian disepakati bekerja sama dalam bidang penghijauan. Nota kesepahaman diteken tahun 2008 dan penanaman dimulai tahun 2009.
’’Kami dibantu beberapa jenis bibit pohon, antara lain akasia mangium, gamelina juga eucalyptus. Saat ini hutan rakyat yang dikelola kelompok tani itu seluas 167,38 hektare. Awalnya memang sulit, karena tanah gersang. Namun dengan kerja keras semua anggota, akhirnya kini bukit yang gersang itu sudah hijau,’’ katanya.
Adapun pohon yang sudah ditanam akasia 314.658 batang, gamelina 59.136 batang, eucalyptus 44.672 batang, jati 8.403 batang, mahoni 3.859 batang, trembesi 250 batang, dan albasia 22.964 batang. Pohon itu kini usianya rata-rata empat tahun dan ada yang sudah siap ditebang untuk penjarangan.
Setelah warga mau menanami lahannya dengan kayu keras, kemudian timbul pemikiran agar warga tidak bingung mencukupi kebutuhannya. Kemudian FKA berinisiatif membantu beasiswa anak-anak untuk sekolah di SMP, SLTA, bahkan hingga kini ada tiga anak yang kuliah.
Ketua FKA ESQ 165 Korda Banjarnegara, Bambang Purwanto, menambahkan semangat atau motivasi masyarakat kini demikian tinggi untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Namun, mereka masih butuh banyak dukungan dari berbagai pihak agar bisa lebih baik lagi dari kondisi saat ini.(M Syarif SW-17,23) |