SUARA KEDU
12 September 2012
TAMU KITA Antara Bahasa Inggris dan Jawa
MENJADI satu keluarga dengan dua latar belakang budaya yang berbeda bagi pekerja seni berdarah Korea Jeannie Park, memang tidak mudah. Tetapi perbedaan itu menjadi unik, karena masing-masing budaya punya sisi positif masing-masing.
Seperti juga kesepakatan yang dilakukan Jeannie bersama suaminya Lantip Kuswaladaya. Jeannie yang lahir dan besar di Amerika ini sadar dirinya tumbuh dalam budaya Amerika dan berbahasa Inggris.
Karena itu, dia tetap berusaha menunjukkan kepada anaknya, bahwa ia mempunyai bahasa ibu yang berbeda dengan Lantip. Meski begitu, bahasa Jawa, baik krama inggil, alus maupun ngoko pun juga diterapkan di rumahnya.
"Suami sering mengajak komunikasi anak-anak dengan bahasa Jawa. Pembantu saya juga. Tapi kalau saya ya tetap pakai bahasa Inggris sebagai bahasa ibu saya," kata Direktur Eskekutif Yayasan Seni Bagong Kusudiardjo itu.
Kesepakatan itu seperti mengalir begitu saja, sehingga dua putra mereka yang masih duduk di sekolah dasar secara otomatis akan menggunakan bahasa Jawa untuk bapaknya dan Inggris untuk ibunya.
Meski mengakui bahasa Jawa punya kelebihan, Jeannie tidak memaksakan anak-anaknya untuk belajar bahasa secara kaku. Ia lebih ingin anak-anak mempelajarinya secara alamiah. "Padahal mereka ya sering tanya macam-macam. Tapi ini proses biar mereka mengerti secara alami," ujar perempuan yang jatuh cinta pada tari Jawa klasik.
Ia ingin memposisikan anak-anaknya seperti ketika dirinya dulu memahami bahasa Jawa. "Mengapa ada bahasa krama? Karena sejengkel-jengkelnya orang Jawa marah dengan krama masih halus, masih ada rasa hormat pada yang dimarahi. Mungkin itu alasan bahasa krama diciptakan," ucapnya. (Sony Wibisono-78) |