SEMARANG METRO
30 Agustus 2012
Ngisor Asem Becak Dua Hati Terbang ke Eropa
LALU lalang kendaraan roda dua melintas di gang selebar kurang dari tiga meter, tak mengurangi konsentrasi Kardono (55), menjalankan pekerjaannya.
Tumpukan lempengan besi dan beragam peralatan nampak berserakan. Keringat terus mengalir. Sesekali ia harus istirahat untuk meneguk es teh yang diletakkan di atas kursi plastik.
Beberapa becak nampak tertumpuk di depan rumah. Sementara itu, kerangka becak yang belum sempurna, dicek agar sang pemesan tidak kecewa. Itulah situasi yang Suara Merdeka jumpai saat berkunjung ke kediaman Kardono di Jalan Madukoro III RT 4 RW 1 Kelurahan Krobokan, Kecamatan Semarang Barat, Rabu (29/8) siang.
Halaman rumah yang disulap menjadi tempat produksi itu dilakukannya karena untuk menyewa tempat, butuh biaya yang tidak murah. Ayah tiga anak ini pun mulai berkisah tentang usaha yang telah digelutinya selama 15 tahun lebih.
”Modal awal dulu hanya Rp 10 juta, itu pun dari tabungan yang saya kumpulkan sejak bekerja di pabrik becak Satu Hati di Jalan MT Haryono. 15 tahun juga saya bekerja di sana, sebelum pabrik itu akhirnya tutup,” tutur lelaki kelahiran Welahan, Jepara itu.
Dengan modal itu, Kardono memulai usaha dengan membeli peralatan pokok. Seperti alat pemotong besi, palu, pembengkok plat, bor, lempengan besi beragam bentuk, kayu jati, terpal, pelek, dan ban.
Untuk satu becak yang dibuatnya, awalnya dia mematok harga Rp 2,5 juta. Seiring waktu berjalan dan harga bahan baku merayap naik, sebuah becak yang ia beri merek Dua Hati pun juga mengalami kenaikan harga. Untuk menyelesaikan satu unit becak, dia membutuhkan waktu seminggu.
”Sekarang harganya Rp 4 juta. Ada yang membeli kontan, ada pula yang membeli dengan sistem kredit, per bulan Rp 200 ribu selama tiga tahun,” jelas lelaki yang waktu kecil dulu memutuskan keluar dari bangku kelas 2 SD untuk bekerja, karena orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan.
Terus Terkenang
Dipilihnya merek atau nama Dua Hati itu, Kardono berharap, pabrik becak Satu Hati yang sebelumnya menjadi tempat ia belajar sekaligus bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya itu akan terus terkenang.
”Dari Satu Hati, menjadi Dua Hati dan membahagiakan banyak hati masyarakat yang masih terus menggunakan becak sebagai alat transportasi yang ramah lingkungan dan nyaman,” jelasnya.
Ketangguhan dan keawetan becak buatan Kardono pun diakui tidak hanya oleh konsumen maupun tukang becak yang menggunakan becak produksinya. Pengusaha asal Amerika, Jerman, Belanda, dan Jepang pun pernah membeli becak Dua Hati. ”Saya sudah mengirim 20 becak ke Belanda, 12 unit ke Amerika dan Jepang dua unit. Lainnya, merupakan pesanan dari Lombok, dan kota-kota di Jawa Tengah,” tandas suami dari Sukarni (45) itu.
Suparman (60), lelaki kelahiran Dusun Karangasem, Desa Sempu, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali yang telah 30 tahun lebih menjadi tukang becak di Kota Semarang pun mengakui jika becak buatan Kardono saat dikendarai maupun mengangkut penumpang terasa tenang dan kokoh.
”Alhamdulillah, dari berkah becak anak saya bisa kuliah di perguruan tinggi yang ada di Klaten,” kata Suparman yang biasa mangkal di Pasar Karangayu, kemarin. (Muhammad Syukron-69) |