SUARA MURIA
30 Agustus 2012
25 Mata Air Muria Mengering
- Berdampak ke Kawasan Bawah
KUDUS - Krisis air yang terjadi di sungai yang berhulu di lereng Gunung Muria (SM 29/8), sebenarnya bukan hal yang mengherankan.
Pasalnya, mata air di pegunungan itu juga sudah mulai berkurang, sehingga memengaruhi kondisi di kawasan bawah.
Ketua Paguyuban Pelestari Hutan Gunung Muria (PPHGM) yang juga tokoh masyarakat Desa Colo, Kecamatan Dawe, Garno Sunarno mengatakan hal itu kepada Suara Merdeka kemarin. Dia menyatakan di sekitar pegunungan Muria, khususnya yang berdekatan dengan wilayahnya, terdapat sekitar 25 mata air. Hingga kemarin, sumber di tempat itu sudah berkurang 50 persen.
''Sumber air lain, seperti Bunton sudah mengering beberapa waktu lalu. Akibatnya, air terjun Monthel juga sudah berkurang debitnya,'' katanya, Rabu (29/8).
Pengurangan volume air pada sumber di lereng Muria, jelas sangat berdampak pada pasokan ke warga setempat. Meski begitu, hingga kemarin warga masih mendapatkan air bersih dalam jumlah mencukupi.
''Hanya saja, jumlahnya sudah jauh berkurang saat ini,'' paparnya.
Menurut dia, kemarau panjang menjadi salah satu penyebab sumber air berkurang, bahkan mengering.
Beberapa bulan terakhir nyaris tidak ada hujan yang mengguyur kawasan atas sekitar Gunung Muria. Namun begitu, dia menyatakan kondisi saat ini belum separah dua tahun lalu.
''Ketika itu sumber air benar-benar sudah mengering. Kalau sekarang masih ada airnya, hanya jumlahnya berkurang,'' ungkapnya.
Ulah Manusia
Penyebab lain, yakni kerusakan hutan di sebagian kawasan hutan Gunung Muria. Kerusakan disebutnya selain merupakan gejala alam juga karena ulah manusia. Berbagai tindakan paska awal reformasi terhadap hutan di beberapa lokasi, hingga saat sekarang masih belum sepenuhnya dapat dibenahi.
''Kerusakan hutan juga menjadi pemicu kondisi seperti sekarang ini,'' ujarnya.
Bila vegetasi terjaga dengan baik, dia memastikan cadangan air di dalam tanah juga dapat dimaksimalkan. Kondisi seperti itu tentu tidak akan terjadi bila pohon-pohon di kawasan atas dibabat. Terkait hal tersebut, pihaknya dan juga puluhan relawan PPHGM, tetap akan memantau kondisi tersebut. ''Secara periodik, kami juga naik ke atas untuk melakukan reboisasi,'' imbuhnya.
Kepala Desa Colo, Dumung Falah, ketika dikonfirmasi juga membenarkan hal tersebut. Menurut dia, selain faktor alam, peran warga dalam menjaga hutan juga cukup penting.
Pihak desa dibantu relawan PPHGM memastikan akan tetap menjaga kawasan hutan di sekitarnya.
Khusus untuk Colo, kondisinya relatif cukup baik. Hanya saja, dia tidak memungkiri terjadi kerusakan di kawasan lainnya.
''Yang jelas, kondisi kemarau saat ini sumber air di Muria berkurang,'' imbuhnya. (H8,88) |