BERITA UTAMA
12 Agustus 2012
PKS Tinggalkan Jokowi
- Pilgub DKI Bukan Perang Ideologi
JAKARTA- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akhirnya memilih meninggalkan Joko Widodo pada putaran kedua Pilgub DKI Jakarta.
Sabtu (11/8), PKS mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara).
Politikus PKS, Hidayat Nur Wahid mengaku kecewa dengan sikap Joko Widodo, Wali Kota Solo yang kini mencalonkan diri sebagai calon gubernur DKI Jakarta. “Suara rakyat harus dihormati. Kalau rakyat sudah memilih sampai 2017, saya harus berkomitmen untuk itu, karena godaannya banyak.
Misalnya dicalonkan Menteri dan sebagainya.
Foke memberi kepastian akan berada diposisi ini sampai 2017,” kata Hidayat di DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Sabtu (11/8).
Hidayat mengaku hingga kini masih menginginkan Jokowi sebagai wali kota Solo.
“Karena saya tahu waktu dukung dia adalah untuk jadi wali kota untuk lima tahun. Bukan untuk kemudian di tengah jalan pindah. Saya kira warga Solo juga memilih untuk lima tahun dan dia pun disumpah untuk menjabat lima tahun,” paparnya.
Kemarin, pernyataan dukungan PKS itu dituangkan dalam bentuk kontrak politik yang ditandatangani pihak DPW PKS DKI Jakarta dan tim pemenangan Foke-Nara. Deklarasi kontrak politik dibacakan oleh Selamat Nurdin, Ketua DPW PKS DKI Jakarta.
Selamat berdalih, dukungan diberikan kepada Foke-Nara karena pasangan tersebut mau mengintegrasikan program-program yang sebelumnya diusung pasangan dukungan PKS, Hidayat-Didik.
“Bersama PKS dengan usaha sungguh-sungguh bekerja melanjutkan pembangunan Jakarta dengan mengintegrasikan visi, misi, serta program-program ‘Ayo Beresin Jakarta’(slogan Hidayat-Didik),” kata Selamat membacakan kontrak politik.
Foke menegaskan keyakinannya dengan menjelaskan makna namanya. “Nama saya Fauzi. Tadi Pak Ustad menjelaskan dan mengingatkan kepada saya, nama saya (Fauzi) artinya kemenangan,” kata Fauzi Bowo sambil melirik ke arah Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq.
Foke juga mengaku siap memadukan program yang diusungnya dengan masukan yang diterima dari PKS.“Saya siap mengintegrasikan program-program yang diusung oleh Pak Hidayat dan Pak Didik sebelumnya demi pembangunan Jakarta kita,” katanya.
Apa tanggapan Jokowi terhadap dukungan PKS tersebut?
“Ya nggak apa-apa. Mereka punya hak untuk memilih,” ujar Jokowi di sela-sela acara silaturahiM dengan para pedagang Pasar Tanah Abang, Jakarta.
Jokowi sendiri mengaku ingin berkoalisi dengan semua elemen baik dari parpol dan masyarakat. Namun dia juga mengakui bahwa banyak parpol yang lebih banyak mendukung pasangan incumbent tersebut. “Saya sebetulnya ingin koalisi dengan siapapun, rakyat dan partai. Tapi partainya ke sana semua,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Fraksi Gerindra MPR RI, Martin Hutabara berharap pasangan yang bertarung di putaran kedua pilgub lebih mengedepankan soal program. Mulai dari mengatasi macet, menimbulkan rasa aman serta mengatasi pengangguran.
“Bukan malah mengangkat angkat masalah SARA. Masalah SARAadalah masalah sensitif bagi masyarakat Jakarta yang heterogen,” jelas Martin yang mengusung Jokowi-Ahok.
Ia pun enggan bila pertarungan pilgub ini dikaitkan sebagai perang ideologi.
”Bukan perang ideologi, tapi pertarungan antara yang ingin mempertahankan status quo dan yang ingin melakukan perubahan dan pemberantasan korupsi,” katanya.
Sebagai catatan, pilgub DKI ini dinilai sebagai sesuatu yang fenomenal. Hasil pilgub putaran pertama mampu menjungkirbalikkan banyak prediksi. Petahana Fauzi Bowo unggul dalam setiap survei pilgub. Nyatanya, Jokowi yang berasal dari daerah mampu mematahkan survei itu.
Sementara itu, keberadaan PKS dinilai memiliki posisi tawar cukup tinggi karena salah satunya memiliki massa solid berbasis kader. Pada putaran pertama, PKS gagal meloloskan pasangan cagub-cawagubnya, Hidayat Nurwahid dan Didik J Rachbini. Pasangan itu menempati urutan ketiga dengan memperoleh 11 persen suara.
Partai ini pun sempat menjadi rebutan untuk pasangan yang lolos ke putaran kedua, yaitu Foke-Nara dan Joko Widodo-Basuki Tjahaja purnama (Jokowi-Ahok). Bahkan, seusai coblosan putaran pertama dan dipastikan lolos putaran kedua melalui penghitungan cepat, Jokowi melakukan langkah politik dengan menemui Hidayat Nurwahid. (D3,dtc-77) |