Berita Aktual  SM Cetak  Suara Warga  Entertainmen  Gaya  Kejawen  Layar  Lelaki  Sehat  Sport  Wanita  Surat Pembaca
 
 
BERITA UTAMA

12 Agustus 2012
Laporan Gunawan Permadi dari London
KEJUTAN MEKSIKO, KUTUKAN BRASIL

LONDON- Meksiko membukukan sejarah sepak bola Olimpiade dengan tinta emas. Tim U-23 Negeri Sombrero itu merebut medali emas Olimpiade London 2012 di Wembley, kemarin.

Mereka menjungkirbalikkan prediksi dengan menumbangkan tim favorit Brasil 2-1. Kejutan El Tri itu sekaligus menandai penampilan antiklimaks Selecao yang digadang-gadang menjadi kampiun.

Gol kilat Oribe Peralta 28 detik setelah kickoff memanfaatkan blunder Rafael da Silva membuka keunggulan tim asuhan Luis Fernando Tena. Peralta kembali mencetak gol menit 75 melalui sundulan.

Satu-satunya gol balasan Brasil dicetak pemain pengganti Hulk pada masa injury time. Sesaat menjelang peluit akhir ditiup, Leandro Damiao membuang peluang emas dari umpan Hulk lantaran sundulannya melambung di atas gawang kiper Jose Corona.

“Kami membuktikan diri sebagai yang terbaik. Sekarang sepak bola Meksiko tak akan diremehkan lagi,” tutur Peralta kepada televisi usai pertandingan.

Dengan kekalahan itu, kutukan bagi tim Samba di ajang Olimpiade belum terhapus. Mereka mengoleksi lima titel Piala Dunia, lima trofi Copa America, dan tiga gelar Piala Konfederasi, tapi selalu gagal menjadi yang terbaik di pesta olahraga dunia.

Perak dari Thiago Silva dkk membuat Brasil total meraih tiga perak dan dua perunggu sejak ikut serta dalam cabang sepak bola di Olimpiade. Selecao sebelumnya takluk di final Los Angeles 1984 dari Prancis dan Seoul 1988 dari Uni Soviet.

Prestasi pelatih Brasil Mario Menezes memang lebih baik dari pencapaian Mario Zagallo di Atlanta 1996, Vanderlei Luxemburgo di Sdyney 2000, dan Dunga di Beijing 2008. Namun, dia tetap tak bisa memperbaiki capaian Jair di Los Angeles dan Ricardo Gomes di Seoul.

Sebaliknya, Meksiko sukses menjadi yang terbaik setelah sebelumnya mengemas prestasi tertinggi di Olimpiade Mexico City 1968 sebagai peringkat keempat. Ketika itu, mereka takluk dari Jepang dalam perebutan perunggu di negeri sendiri. 

Di atas lapangan, El Tri memang kerap menjadi batu sandungan bagi Selecao. Dalam 12 pertemuan terakhir mereka, Negeri Sombrero memenangi enam di antaranya, termasuk di final Piala Konfederasi 1999. Sisanya, Meksiko kalah empat kali dan dua kali bermain imbang.

Sebelum final di London, pasukan Fernando Tena pernah menghadapi anak-anak asuhan Menezes di Amerika Serikat, beberapa bulan lalu. Saat itu, El Tri juga mengalahkan Brasil dengan skor 2-0.

Meski tak diperkuat pemain terbaiknya, Giovani Dos Santos, yang dihantam cedera hamstring, Jose Corona cs bermain solid. Keunggulan cepat di awal pertandingan tak membuat  Tena menginstruksikan bertahan total.

Tanpa Dos Santos, El Tri tak kehilangan taji. Mereka terus berupaya menekan pertahanan Selecao yang digalang Thiago Silva. Setelah anak-anak asuhannya tertinggal, Menezes berupaya mengubah strategi dengan melakukan pergantian pemain. Masuknya Hulk, Alexandre Pato, dan Lucas Moura memang meningkatkan intensitas serangan Samba, tapi mereka tetap gagal menyamai kedudukan. Ambisi Brasil membawa pulang emas pertama pun pupus sudah. (*-65)

 

© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved
Groups