|
|
|
|
| |
|
|
|
SOLO METRO
12 Agustus 2012
Sendanglebak, Pusat Penangkaran Jalak
MESKI berada di antara pegunungan kapur yang gersang, Dukuh Sendanglebak, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, sering dikunjungi penjual dan penggemar burung dari berbagai kota. Ya, kini, kawasan itu dikenal dengan sebutan Kampung Jalak.
Ya, kampung itu memang merupakan pusat penangkaran burung jalak. Sebutan tersebut tak berlebihan, karena 60 persen kepala keluarga di kampung itu adalah penangkar burung jalak suren atau uren (sturnus contra). Desa itu pun menjadi pemasok burung jalak suren ke berbagai kota, seperti Solo, Semarang, Jakarta, dan Bandung.
Perintis penangkaran burung jalak tersebut adalah Warsono (45). Dia menangkarkan burung ocehan itu mulai tahun 1998. Semula dia hanya gemar memelihara burung, karena suka mendengarkan kicauan hewan itu. Saat itu, dia hanya mempunyai tiga ekor burung jalak. Namun insting bisnisnya menyatakan menangkarkan burung jalak akan memperoleh hasil ganda. Selain bisa menikmati kicauan burung itu, dia juga bisa memperoleh tambahan penghasilan.
Modal Tiga Ekor Nah, bermodal tiga ekor burung itulah dia memulai penangkaran. Dan, hasilnya menggembirakan. Dia akhirnya mempunyai puluhan ekor burung jalak. Sekarang, 14 tahun sudah dia menjadi penangkar. Lalu, banyak tetangganya mengikuti jejak sebagai penangkar. Ya, 60 persen dari sekitar 100 kepala keluarga di Dukuh Sendanglebak menekuni usaha penangkaran burung jalak suren.
Ada beberapa penangkar cukup besar dengan puluhan indukan. Mereka antara lain Tri Handoyo, Sekretaris Desa Rahmanto, Kamil Sukri Qozali, dan Arif Mustofa. Dalam sebulan, para penangkar itu bisa menghasilkan ratusan ekor anakan jalak. Saat ini, mereka tak hanya menangkarkan burung jalak suren. Namun sudah berkembang dengan menangkarkan pula burung berkicau lain, seperti murai batu (Copsychus malabaricus), kacer (Copsychus saulari), cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus), dan jalak bali (Leucopsar rothschildi) yang mahal karena termasuk burung yang dilindungi.
Kampung Jalak digagas Warsono sejak setahun silam. Namun baru terwujud ketika ada mahasiswa kuliah kerja nyata dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. ”Saya dulu melontarkan gagasan Kampung Jalak. Potensi itulah yang saya kemukakan kepada mahasiswa KKN UGM. Gagasan itu akhirnya terealisasi. Sekarang, banyak orang dari berbagai kota datang mencari burung ke sini,” kata Warsono, yang juga Kepala Dusun Krakitan itu.
Usaha mereka meledak tahun 2005-2006. Saat itu, harga seekor burung jalak yang baru menetas (abangan) bisa menembus harga Rp 1 juta sepasang, berumur dua bulan Rp 3 juta sepasang, dan indukan Rp 12 juta. Kini, harga burung jalak tak setinggi itu. Namun harganya cenderung stabil. Burung jalak berusia tiga bulan yang sudah bisa makan dihargai Rp 300.000/ekor.
Adapun yang berumur setahun dan sudah mulai berkicau Rp 600.000/ekor dan indukan Rp 3 juta sepasang. Usaha penangkaran burung jalak juga ditekuni warga Dukuh Tobong, Jombor, Drajat, Krakitan, dan Jonayan, Desa Krakitan, serta Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes. Namun tak sebanyak para penangkar di Sendanglebak. (Merawati Sunantri-51) |
|
|
|
|
|
© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved |
|
|