BERITA UTAMA
04 Agustus 2012
Fitrah Puasa 21 Jam Sehari
SETIAP Ramadan tiba, Burhanuddin Muhtadi MAPS MA teringat pengalaman penuh perjuangan di negeri orang. Burhan, peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI), pernah menjalani Ramadan yang berat saat menempuh pendidikan jenjang master di Australia National University (ANU) Canberra, lima tahun silam.
Menurut pria kelahiran Rembang, 15 Desember 1977 tersebut, berpuasa di Negeri Kanguru memberinya kesan tersendiri. Di Australia, pada kurun waktu tertentu, siang bisa lebih lama daripada malam. Ini karena posisi Australia yang berada di belahan bumi selatan.
“Puasa lebih panjang, 21 jam. Saat itu saya sedang sibuk dengan kuliah dan tugas-tugas. Ini menjadi perjuangan tersendiri. Kita tahu, waktu berpuasa tentu tubuh lemah,” kata pengajar di Program Studi Ilmu Politik Fisip Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu.
Namun di tengah kondisi tubuh yang lemah karena tidak makan dan minum selama 21 jam tersebut, Burhan justru mendapatkan kekuatan dan kedamaian, sehingga kuliah terasa lebih nyaman dan tenteram.
Dengan ikhtiar dan dukungan anak-istri yang ikut ke Australia, dia berhasil meraih dua gelar master sekaligus, yakni MA dan MAPS. Kekuatan dan kedamaian ini juga terkait dengan situasi dan kondisi Ramadan di Australia yang jauh dari keramaian, hiruk-pikuk berbelanja, serta berbagai aktivitas sosial menyiapkan Idul Fitri.
“Bila di Indonesia dapat dikatakan Ramadan adalah bulan spiritual dan juga festival, karena kesibukan kita berbelanja dan mudik agar bisa Lebaran di kampung halaman. Di Australia jauh berbeda. Di sana kita malah bisa lebih fokus studi dan beribadah,” kata lulusan Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus (MAN PK) Solo itu.
Kenangan Burhan yang lain, di tengah sepi Ramadan di Canberra, hubungan antara kaum muslim dari berbagai negara menjadi guyub. Entah itu mahasiswa muslim, pencari kerja, ataupun imigran yang telah menetap permanen, termasuk warga negara Australia yang mualaf.(Hartono Harimurti-43) |