SOLO METRO
29 Juli 2012
Memburu Peninggalan Samanhudi ke Belanda
SOSOK Kiai Haji Samanhudi, usaha batik, dan wilayah Kecamatan Laweyan, Solo, menjadi tiga hal yang sukar dipisahkan. Sejarah mencatat, pria bernama kecil Sudarno Nadi itu mengorganisasi perjuangan pengusaha batik di Laweyan untuk mendapatkan persamaan dan kesetaraan perlakuan dari pemerintah kolonial Hindia Belanda, yang memberikan sejumlah keistimewaan kepada pengusaha nonpribumi.
Melalui organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan tahun 1911, niat heroik Samanhudi tersebut bak menemukan wadah. Hal itu pula yang akhirnya mengantarkan pria, yang wafat tahun 1956, itu menyandang gelar Pahlawan Kemerdekaan. Pemberian gelar itu berdasar Surat Keputusan Presiden RI Nomor 590 Tahun 1961.
Ironisnya, tak banyak peninggalan Samanhudi yang kini tersisa. Bahkan di Laweyan pun yang menjadi tempat Samanhudi dibesarkan dan berjuang demi cita-cita luhurnya. Tak banyak peninggalan yang bisa diwariskan kepada generasi mendatang demi pembelajaran sejarah perkembangan masyarakat Indonesia, khususnya Solo.
Untung, upaya pelestarian peninggalan sekaligus pemikiran sang tokoh pejuang itu muncul kembali dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Solo, yang menginisiasi pendirian Museum Samanhudi. Upaya itu sekaligus menghidupkan kembali museum serupa yang sebelumnya diupayakan Yayasan Warna-warni, lembaga pelestari sejarah yang diketuai Nina Akbar Tandjung, di kawasan Kampung Batik Laweyan.
“Kami sadar Samanhudi adalah seorang tokoh besar dan pemikirannya masih layak dipelajari. Keberadaan museum ini tentu menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat, untuk lebih mengenal kiprah dia pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia,” tutur Ketua Pokdarwis Albicia Hamzah.
Sederhana
Keterbatasan dana yang dimiliki kelompok itu tidak menjadi penghalang. Sebuah ruangan seluas 12 x 4 meter di belakang kantor kelurahan pun dipilih sebagai lokasi penyimpanan puluhan koleksi, mulai foto kuno kehidupan Samanhudi, surat-surat kontrak bisnis dari SDI, dan pemberitaan media massa. Tak ketinggalan pula alat membatik tradisional untuk menggambarkan model produksi yang berlaku saat itu.
“Foto-foto ini adalah hasil reproduksi dari negatif foto yang saat ini justru banyak disimpan para kolektor di Belanda. Dibantu Yayasan Warna-warni, kami masih terus berupaya mencari negatif foto dan peninggalan lain, seperti jas dan tongkat,” ujar petugas hubungan masyarakat museum, Santi Handayani.
Perburuan peninggalan Samanhudi, imbuh Albicia, didasari pertimbangan betapa koleksi museum masih minim. Apalagi ke depan museum itu direncanakan dilengkapi perpustakaan yang menyediakan referensi berkait dengan kiprah sang tokoh. “Belum lama ini, beberapa ahli waris sudah bersedia menyumbangkan memorabilia Samanhudi ke museum ini. Kami juga sudah membentuk tim pengembangan yang bertugas melacak peninggalan Samanhudi. Kami berkoordinasi dengan berbagai pihak, terutama untuk mencari lagi benda yang kini tersimpan di luar negeri, termasuk Belanda,” katanya.
Yayasan Warna-warni pun berharap keberadaan Museum Samanhudi mampu memberi sumbangsih berharga kepada generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan yang dulu dirintis sang pahlawan. “Meski terbilang sederhana, museum ini diharapkan bisa melanjutkan kembali transformasi semangat nasionalisme dan kebangsaan yang diwariskan Samanhudi, khususnya kepada generasi muda,” tutur peneliti senior yayasan tersebut, Rahmad Bahari. (Agustinus Ariawan-51) |