SOLO METRO
10 Juli 2012
Ditolak, Revisi Permenakertrans 17/2005
SOLO - Puluhan buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 1992 Solo berdemonstrasi di kawasan Gladag, Solo, Senin (9/7).
Dalam aksi tersebut, para buruh menegaskan penolakan mereka terhadap revisi Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Permenakertrans) Nomor 17/2005 tentang Komponen dan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak, yang digagas pemerintah. "Revisi itu sama sekali tidak memihak buruh, bahkan cenderung menghina kami. Betapa tidak, 46 komponen yang ada dalam Permenakertrans ternyata hanya ditambah empat komponen. Parahnya, komponen tambahan itu tetap tidak bisa menunjang hidup layak bagi buruh," tegas Ketua DPC SBSI 1992 Solo, Suharno.
Dijelaskan, empat komponen tersebut adalah kaus kaki, ikat pinggang, setrika dan deodorant.
"Memangnya buruh sudah dianggap sejahtera jika hanya ditambah harga empat komponen itu. Semestinya pemerintah mengadakan kajian ulang terkait mekanisme penghitungan upah layak bagi buruh. Terutama untuk hal-hal substansial, seperti pendidikan dan kesehatan."
Dicabut
Berdasar hal itulah pengunjuk rasa menyatakan penolakannya, terhadap Permenakertrans berikut upaya revisi yang rencananya digelar pertengahan Juli tersebut. "Produk hukum itu adalah bentuk legitimasi pemerintah terhadap upah murah bagi buruh, demi menarik dana investasi dari pihak asing. Semestinya Permenakertrans itu tidak direvisi, melainkan dicabut karena bakal menjadi acuan pengusaha dalam memberikan upah rendah bagi karyawannya," tandas Suharno.
Lebih jauh dikatakan, SBSI 1992 juga menyoroti minimnya informasi terkait hasil survei Komponen Hidup Layak (KHL), yang diselenggarakan pemerintah bersama sejumlah komponen terkait. Survei itu sendiri dilakukan setiap bulan, untuk meninjau besaran upah minimum setiap tahunnya. "Hasil survei itu sangat sulit diakses oleh publik, terutama buruh. Ada kesan hasil survei ini ditutup-tutupi," terang Suharno.
Demonstrasi itu sendiri berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan. Selain melakukan berbagai orasi, pendemo juga melakukan aksi teatrikal sebagai gambaran perlawanan buruh terhadap para pengusaha yang menindas mereka. (H73-50) |