SUARA KEDU
10 Juli 2012
LINTAS JATENG Waduk Sempor Ditutup Bertahap
KEBUMEN-Aliran irigasi Waduk Sempor mulai ditutup secara bertahap menyusul banyak area pertanian yang mulai panen pada musim tanam II ini. Rencananya jaringan irigasi Waduk Sempor akan ditutup total pada 16 Juli mendatang.
Kepala Bidang Irigasi pada Dinas Sumber Daya Air Energi Sumber Daya Mineral (SDA ESDM) Kebumen, Muchtarom SST mengatakan, saat ini dari total daerah irigasi Sempor seluas 6.478 hektare, untuk wilayah barat seperti Gombong dan Kuwarasan sudah ditutup. Sebab, di wilayah tersebut sebagian petani sudah mulai panen. Meskipun sebagian belum panen namun sudah tidak lagi membutuhkan pasokan air.
"Terakhir untuk wilayah Sruweng utamanya di Bendung Kejawang akan yang ditutup terakhir tanggal 16 Juli mendatang," ujarnya, Senin (9/7). Namun demikian, imbuh dia, manakala para petani masih membutuhkan air pihaknya akan mengalirkan kembali pada 23 Juli.
Maklum untuk daerah itu sebagian petani ada yang terlambat memulai tanam. Kebijakan penutupan secara bertahap tersebut lebih efisien dibandingkan dengan mengalirkan terus menerus hingga akhir Juli.
"Kebijakan tersebut sudah dirapatkan hal ini dengan lintas sektoral pada 20 Juni lalu," imbuhnya.
Sementara itu, aliran irigasi dari Waduk Wadaslintang dipastikan akan ditutup total pada 31 Juli mendatang. Namun demikian, dari luas daerah irigasi Wadaslintang Barat 21.402 hektare jika ada wilayah yang sudah tidak membutuhkan pasokan sub sistem terkait akan ditutup lebih dahulu.
Pada bagian lain, cadangan air di Waduk Sempor maupun Wadaslintang terus mengalami penyusutan. Data Dinas SDA ESDM Kebumen menunjukkan, hingga kemarin wolume efektif air Waduk Sempor tinggal 15,265 juta m3 dengan elevasi 59,90 meter dari kapasitas maksimal waduk yakni 38 juta m3. Jumlah tersebut turun drastis jika dibandingkan volume air pada akhir Mei yang masih 28 juta m3 dengan elevasi 67,2 meter. Adapun pengeluaran air sebanyak 2 m3/detik.(J19-45)
20 Persen Resapan Air Hilang
SLEMAN - Tingkat kerusakan lingkungan di wilayah Sleman kian parah. Hingga kini, sekitar 20 persen kawasan resapan air hilang. Kondisi ini diperparah polusi sampah yang semakin mengganggu.
"Pencemaran lingkungan sudah sangat buruk. Padahal Sleman adalah kawasan resapan air bagi daerah di bawahnya," ungkap Bupati Sri Purnomo kepada wartawan, Senin (9/7).
Pencemaran sampah yang paling parah, salah satunya terdapat di Sungai Gajah Wong. Nyaris seluruh bagian lereng sungai ini tertutup oleh limbah.
"Sungai-sungai di Sleman merupakan kelas satu. Tapi malah hampir semuanya tercemar," kata Sri.
Dipaparkan, polusi yang terjadi di kawasan atas masuk kategori berat, dan sungai bagian bawah tercemar level sedang. Kendati demikian, pemerintah mengklaim angka polusi sejumlah zat kimia masih di bawah ambang batas.
Di antaranya kandungan zat sulfur oksida, karbon monoksida, nitrogen, hidrokarbon, timah hitam, dan partikel debu.
"Dari hasil pemeriksaan 32 titik, kandungan zat-zat tersebut masih di bawah ambang batas. Ini berdasarkan PP No 41 tahun 1999, dan Keputusan Gubernur DIY No 153 tahun 2002," ujar Bupati.
Dia menilai, upaya mengembalikan fungsi kawasan resapan air tidak cukup hanya dengan gerakan penghijauan. Namun, harus disertai penghematan air dan perilaku ramah lingkungan. Di antaranya melalui pembuatan biopori dan sumur resapan air hujan.
"Tahun 2013, kami harus meraih Adipura. Mulai sekarang saya minta seluruh elemen bekerja keras mewujudkan Sleman sebagai kabupaten yang bersih dan nyaman," tandasnya. (J1-78)
Penambang Manual Usir Alat Berat
MAGELANG-Penambangan dengan menggunakan alat berat kembali ditolak oleh masyarakat. Kali ini warga Desa Srumbung, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang mengusir alat berat yang beroperasi di dekat sabodam Suropadan.
Warga yang menolak masuknya alat berat tersebut, merupakan penambang manual yang sering mencari pasir di sekitar Kali Putih. Dalam aksinya, mereka menggeruduk alat berat tersebut dan kemudian meminta operatornya untuk meninggalkan Kali Putih. Aksi ini dilakukan para penambang secara beramai-ramai.
Widodo seorang penambang mengatakan, sejak awal warga memang menolak alat berat menambang di Kali Putih. Karena itu, begitu ada alat berat beroperasi warga langsung menggelar demo. Pengusiran alat berat ini mendapatkan pengamanan dari Polsek dan Koramil Srumbung.
"Kami minta alat berat segera pergi. Siapa pun orang di baliknya, kami tidak takut. Kami tetap menolak alat berat menambang di daerah kami. Kalau mau menambang, ya harus manual seperti kami," tegas Widodo, Senin (9/7).
Menurut informasi warga penambangan alat berat ini melibatkan oknum perangkat desa Srumbung. Oknum tersebut bahkan sempat melarang warga untuk tidak melaporkan penambangan ini. Dia juga sempat menakut-nakuti warga agar tidak melapor ke aparat.
Camat Srumbung Agus Purgunanto menegaskan, masa normalisasi sungai sudah selesai sehingga tidak bisa lagi mengatasnamakan normalisasi sungai untuk melegalisasi penambangan. Dia pun meminta para penambang alat berat untuk tidak beraktivitas di wilayahnya.
Dijelaskan bahwa di wilayah Kecamatan Srumbung banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari menambang pasir secara manual. Setelah erupsi Merapi penghasilan warga tidak menentu karena salak belum panen. Karena itu, warga marah ketika sumber ekonomi mereka direbut penambang alat berat. H66-45) |