10 September 2017 | Serat

PUISI

Halaman Parkir

  • Farikhatul ’Ubudiyah

Halaman Parkir
tempat paling lengang tinggal di bawah pohon randu
ini orang-orang tidak ingin teduh?
di jalan, kota masih menyimpan deru kesangsian
mengantarmu sampai tempat kerja
separuh kenangan tersimpan di dadamu
selebihnya hilang di halaman parkir

adalah sarang pipit tempat berpulang embara
pada daunan kering yang telah menangkup
amin doa ibumu
di sembahyang paling tinggi

seketika aku ingin jadi pemohon yang baik
agar pohon randu di pinggir halaman parkir
menerbangkan singgah burung di tiap ranting
tetapi genggaman jemariku bukan getar takdir
di fatihah yang tidak kunjung witir

lalu kau memilih rindang pohon randu
berpulang ke pemohon yang rindu: aku
Purwokerto, 2016
 

Dari Kebun

perut dan bayi
seperti purut dipetik pagi
ia lahir, lalu masuklah ke dalam rahim
Purwokerto, 2016


Damar

aku menyanggul musim remaja di pembakaran damar
menebalkan jelaga di dinding kenang
pintunya pura-pura linglung
atapnya limbung

sebujur selendang kawung
adalah timang
di bentang kasih sayang

malamku kidung
tak lela lela lela ledung
pada rumah berpagar bambu
dan damar sibuk dengan liuknya sendiri
aku menjadi retakan yang ngeri
Purwokerto, 2016
 

Pohon Alpukat: ekapat

november telah menjatuhkan alpukat
dari pohon lamur sebelum subuh
melupakanmu sebagai penyapu kebun
dan gadis kecil pemesan buah
yang kocak saat dikocok

goresan sapu lidimu terlalu riuh
membangunkan daundaun lumpuh
sebelum nganga cikrakmu
menimbun kegelapan

ia sudah memanjangkan dahan
menambahkan ranting dan melepas
almanak sejak bijinya kering
meringsing segala musim

pohon alpukat itu masih tabah
memelihara tanah dijatuhi tahi ulat
demi rumah berrakaat salat
Purwokerto, 2016

Zhea

ada sebuah musim melarangku membuka jendela.
Tubuhmu demam. Aku menutup ventilasi dengan kertas
hias. Warnanya daun mawar yang tumbuh dari darah haid
pertama.

Tidurlah yang tenang, sayang. Di luar, angin mengembuskan
upas dan bulubulu ulat. Kita buka jendela saat
subuh sampai duha. Sebab tiap kepergian ada penjaganya.
Seperti suara loceng jam enam senja, kita masuki rumah
sandekala. Jendelanya buat menukar rindu dan haru. Jika
di luar udara penuh haru, kita tutup biar rindu tidak menempel
di daun waru yang berupas.
Purwokerto, 2017

Belajar Membaca

Wati membantu Ibu memasak di dapur
Budi bermain layang-layang


Katamu aku harus menjadi perempuan
Sudah kubawakan masakanku paling spesial
Kamu tarik-ulur senar yang layang-layangnya
Menukik di jantungku

Purwokerto, 2016

- Farikhatul ‘Ubudiyah, tinggal di Karangsari, Kembaran, Banyumas (44)