10 September 2017 | Sehat

PAMOMONG

Bahasa Jawa dan Kaum Bersalah

  • Oleh Bandung Mawardi

Pada 1984 terbit buku Perkembangan Bahasa Jawa Sesudah Perang Dunia Kedua susunan tim beranggota Soedjiatno, Solchan TW, Imam Hanafi, Oscar Rusmaji, dan Mujianto. Buku dari kerja penelitian, sulit laris dan jarang menjadi referensi untuk memikirkan nasib bahasa Jawa sejak masa 1940-an sampai 1980-an. Buku itu terbitan pemerintah. Kita tentu mustahil melihat ada di toko buku.

Rumah bagi buku bercap pemerintah pasti perpustakaan sekolah dan daerah. Laporan tentang bahasa Jawa pun cuma memiliki sedikit pembaca dan sepi dari tanggapan. Pemerintah dan para peneliti mungkin mencukupkan pemahaman bahwa bahasa Jawa itu cetakan hasil penelitian. Penelitian bersumber dari puluhan majalah terbitan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Jakarta: Brahmawidya, Jaya Baya, Jaka Lodhang, Mekar Sari, Kumandhang, Kunthi, Panyebar Semangat, Waspada, Rahayu, Sabdapalon.

Kutipan dari Panyebar Semangat edisi 7 Juni 1980 jadi dalih mempertimbangkan nasib bahasa Jawa pada masa Orde Baru: “Bahasa Jawa telah mengarah sebagai bahasa pasar, bahasa yang telah kehilangan kebakuannya, lebih-lebih bahasa Jawa pada generasi muda.” Pilihan petikan itu mengesankan kaum muda bersalah dan tak bertanggung jawab memuliakan bahasa Jawa. Prihatin mengarah ke bahasa dalam jenjang halus dan tinggi, bukan bahasa ngoko keseharian.

Berita itu terpilih dalam pendahuluan dan penentuan rumusan masalah dalam penelitian. Pilihan menimbulkan dampak, bahasa Jawa lestari dan mulia pada kaum tua. Kesalahan ditimpakan pada kaum muda sebagai perusak atau pelupa bahasa Jawa. Tujuan terpenting dari penelitian adalah “ketersediaan bahan standarisasi pembinaan bahasa Jawa”.

Bahasa Jawa makin bersifat birokratis-politis. Bahasa itu sulit untuk dipelajari di sekolah atau digunakan dalam acara-acara resmi. Kaum muda gampang melarikan diri dari pembakuan bahasa Jawa. Konon, bahasa Jawa dituduh sulit dipelajari ketimbang bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kaum muda memilih mempelajari bahasa-bahasa yang sering diperlukan dalam raihan ilmu, pekerjaan, dan kehormatan. Bahasa Jawa agak ditinggalkan akibat rumit dan memberi kemungkinan sering jadi pengguna bersalah.

Gubahan Sastra

Situasi itu berbeda dari usaha mengajarkan bahasa Jawa pada awal abad XX. Kita tentu mengenang Ki Padmasusastra. Di mata JJ Ras (1985), Ki Padmasusastra sebagai tokoh utama dalam pengajaran bahasa Jawa awal abad XX. Warisan buku-buku kebahasaan berjudul Layang Parama Basa (1897), Serat Warnasaba (1900), dan Serat Pati Basa (1912) telah mengawali pengentengan belajar bahasa Jawa, sebelum mengalami pembakuan bercorak birokratis dan akademis.

Ki Padmasusastra tak cuma mengerjakan buku pelajaran, tetapi menerapkan bahasa itu ke gubahan sastra gampang terbaca, tak harus selalu berpatokan bahasa krama. Usaha itu tak bersambungan saat bahasa Jawa menapaki revolusi, pembangunan, reformasi, dan kemilenialan.

Pada masa 1980-an dan 1990- an, bahasa Jawa makin sulit dipelajari dan momok bagi murid dalam mengerjakan soal ujian. Nilai jelek dalam pelajaran bahasa Jawa sering dijadikan bukti ketiadaan tanggung jawab atas pelestarian bahasa Jawa. Salah ditimpakan lagi ditambahi tuduhan: murid di Jawa malah menggandrungi bahasa Indonesia, Inggris, Arab, dan pelbagai bahasa asing ketimbang bahasa Jawa. Barangkali takut dan sulit belajar bahasa Jawa tetap ditentukan dari pembakuan bahasa Jawa.

Kita simak sejenak buku Tata Bahasa Baku Bahasa Jawa (1991) susunan tim beranggota Edi Subroto, Soewito, Karno Eko Wardono, Sudaryanto, Syamsul Arifin, dan Sukandi. Buku itu teranggap panduan penting berbahasa Jawa demi kesuksesan pembangunan nasional melalui pembinaan dan pengembangan bahasa Jawa.

Pengerjaan tata bahasa baku mendapat pujian dari Ismail, gubernur Jawa Tengah masa itu. Pujian mengandung informasi basi. “Apresiasi terhadap bahasa Jawa bukan saja dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri tetapi bahkan dilakukan oleh bangsa Belanda. Maka tidak mengherankan jika banyak karya sastra dan karya-karya ilmiah tentang bahasa Jawa yang ditulis oleh orang-orang Belanda.”

Pujian mengajak kita mundur jauh ke masa sebelum Perang Dunia II saat bahasa Jawa dibina oleh para sarjana Belanda, ditopang misi pemerintah kolonial dan universitas. Sejak mula, tata bahasa baku dan sambutan pejabat pemerintah sering membuat takut dan jenuh. Kaum muda enggan menerima atau mempelajari tata bahasa baku Jawa pasti dianggap bersalah dan penolak pelestarian bahasa Jawa. (44)

-Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi (Solo)