10 September 2017 | Sehat

Memahami Hamil Anggur

Anda mungkin pernah mendengar istilah hamil anggur. Istilah hamil anggur tentu saja merujuk pada kehamilan yang tidak normal. Apa itu? Bagaimana seorang wanita bisa mengalaminya?

Molahidatidosa atau hamil anggur merupakan kehamilan yang tidak berhasil, di mana plasenta dan janin tidak terbentuk dengan benar. Justru yang terbentuk adalah jaringan gelembung-gelembung berisi cairan yang bila dilihat melalui USG berbentuk seperti buah anggur. Bila sperma bertemu dengan sel telur, seharusnya dalam perkembangannya akan membentuk janin dan plasenta.

Nah pada kasus hamil anggur, hal ini tidak terjadi. Dr Very Great SpOG dari RSUP dr Kariadi Semarang menjelaskan, ada dua bentuk molahidatidosa, yakni complete (total) dan incomplete (parsial/ sebagian). Mola komplet bila jaringan plasenta dan janin tidak terbentuk sama sekali, semuanya berbentuk seperti anggur, massa sel abnormal seperti anggur.

Hal ini bisa menyebabkan kecacatan yang pada akhirnya bisa membuat janin meninggal. Adapun parsial atau sebagian, bila jaringan plasenta dan janin tumbuh abnormal dan disertai pertumbuhan anggur (mole). Dalam kondisi tersebut, janin tidak bisa berkembang menjadi bayi. Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami hamil anggur, bisa terlihat melalui pemeriksaan Ultrasonografi (USG).

“Permasalahan yang sering terjadi di Indonesia, hamil anggur terlambat diketahui. Ini biasanya karena pasien tidak ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kehamilannya pada trimester pertama. Pasien baru datang setelah kondisinya sudah parah,” papar Very. Padahal, semakin besar usia kehamilan, risiko komplikasinya lebih banyak.

Risiko Komplikasi

Secara fisik, wanita yang mengalami hamil anggur, perutnya terlihat lebih besar daripada usia kehamilannya. Ini karena ukuran rahim yang lebih besar dari yang seharusnya. Lalu, ia akan mengalami mual dan muntah berlebihan, yang mana frekuensi mual dan muntahnya lebih hebat daripada hamil normal. Bila usia kehamilan antara 4-5 bulan, bisa terjadi perdarahan, janin tidak bergerak, dan tidak terdengar detak jantungnya melalui pemeriksaan USG.

Bila dicek melalui laboratorium, akan terlihat hormon beta HcG yang tinggi. Seperti yang telah disebutkan Very sebelumnya, bila usia kehamilan sudah besar, risiko komplikasinya lebih banyak. Yang paling sering terjadi adalah hipertiroid atau kelenjar tiroid yang terlalu aktif. “Untuk menanganinya (melalui evakuasi ataupun pengangkatan rahim), hipertiroidnya harus dikelola atau disembuhkan terlebih dahulu, supaya tidak terjadi krisis tiroid (komplikasi hiper tiroid), karena ini sangat berbahaya,” papar Very.

Apa yang menyebabkan seseorang bisa mengalami hamil anggur? Yang paling umum karena kelainan kromosom, yang bisa dialami oleh siapa pun. Dengan kata lain, semua perempuan bisa berisiko. Bisa juga karena ibu hamil kekurangan asam folat. Selain itu, tentu saja ada faktor risiko.

Yakni jika perempuan hamil pada usia yang terlalu muda (usia di bawah 20 tahun) dan hamil terlalu tua (usia di atas 35 tahun). Jika seseorang memiliki bakat hamil anggur, bisa terpicu dari faktor luar, seperti gaya hidup yang tidak sehat seperti sering mengonsumsi minuman beralkohol atau makanan yang tidak sehat. Untuk menangani molahidatidosa, dilakukan dengan dua cara. Yakni evakuasi atau dikuret, dan pengangkatan rahim. Pada pasien yang dikuret atau dievakuasi, apakah masih bisa hamil? Tentu saja bisa, namun tidak langsung.

Setelah dilakukan evakuasi pada pasien, harus dipantau kondisinya, apakah masih ada penyakit yang menyertainya. Misalnya kadar beta HcG-nya, dalam kurun waktu dua minggu seharusnya sudah berkurang. Namun bisa terjadi kemungkinan kadarnya naik. “Biasanya dilakukan dua sampai tiga kali pemantauan. Kalau sudah pasti kondisinya membaik, pasien boleh hamil lagi. Ini biasanya dalam kurun waktu setahun. Hamil anggur terkesan sepele, namun bila penanganannya terlambat, bisa berbahaya,” ungkap Very. (Irma Mutiara Manggia-58)