10 September 2017 | Ekspresi Suara Remaja

Keasyikan Menyelam yang Aman dan Nyaman

Ibarat sopir yang harus memiliki surat izin mengemudi, demikian pula dengan para penyelam. Seorang penyelam terbilang legal jika memiliki sertifikat menyelam. Tak ubahnya SIM berkendara yang terdiri atas beberapa jenis, surat izin menyelam pun sama. Ada beberapa jenjang sertifikat, mulai dari Basic, Open Water, Advance, Rescue Diver, hingga Diver Master. Yang berhak mengeluarkan sertifikat tersebut ialah organisasi selam internasional.

Contohnya Professional Diving Instructor (PADI), Association of Diving School (ADS) International, Scuba School International (SSI), atau Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI). Begitu disampaikan anggota Unit Kegiatan Selam (Uksa- 387) Universitas Diponegoro, Angra Syafira Savana. Angra menambahkan, ada banyak keuntungan bagi penyelam yang telah tersertifikasi.

Selain legalitasnya tak perlu diragukan lagi, punya surat izin menyelam memberi kemudahan untuk menyelam tanpa batasan. “Di kedalaman dan kesulitan tertentu, menyelam hanya bisa dilakukan oleh penyelam yang bersertifikat. misalnya ingin menyelam dengan peralatan selam lengkap di kedalaman yang cukup dalam, maka hanya penyelam tersertifikasi yang legal melakukannya,” jelas Angra.

Tanpa lisensi, menyelam tetap bisa dilakukan. Namun, tentu harus berjalan sesuai prosedur, yakni didampingi instruktur selam atau hanya melakukan penyelaman dengan berjalan di dasar laut (sea walker). Perihal itu tak lain agar sang penyelam tetap aman mengingat aktivitas menyelam tak bisa dilakukan sembarangan. Melihat pentingnya penyelam mengantongi surat izin menyelam, Uksa-387 rutin mengadakan program sertifikasi tiap tahun.

Tahun ini, kegiatan bertajuk Diventure 2017 “The Great Certification” yang bekerja sama dengan POSSI tersebut berlangsung pada 24-31 Agustus. Selain anggota muda Uksa, masyarakat umum juga berhak ikut. “Kami ingin memasyarakatkan selam, sehingga per tahun membuka kesempatan sertifikasi bagi umum,” Angra yang sekaligus ketua Diventure 2017 itu beralasan. Tidak bahayakah masyarakat awam ikut mencicipi dunia bawah laut? Sejatinya tidak ada syarat khusus untuk mengikuti sertifikasi selam.

Bahkan, beberapa kali Uksa menerima peserta sertifikasi yang tidak bisa berenang. Soal itu pihak Uksa mengaku telah memiliki prosedur operasional. Pada hari pertama kegiatan sertifikasi, peserta mendapat Pendidikan Akademis Penyelaman (PAP). Di antaranya materi sejarah dan organisasi selam, macammacam peralatan, juga teknik, lingkungan, fisika, fisiologi, dan risiko penyelaman.

Agar tak sekadar belajar teori, pada 25-26 Agustus Uksa menyelenggarakan Latihan Keterampilan Kolam (LKK) di GOR Manunggal Jati Semarang. Selama dua hari peserta empat kali berlatih selam. Latihan pertama untuk percobaan, kedua dan tiga agar terbiasa, dan terakhir berlatih teknik menyelam dengan tepat. Dengan terus berlatih, penyelam bisa mengatur turbulensi yaitu kapan harus mengapung atau tenggelam, dapat mengatur napas, serta benar dalam memosisikan badan.

“Peserta yang belum bisa tidak perlu minder. Soalnya, kami bertanggung jawab melatih hingga si peserta bisa. Sedangkan bagi yang sudah bisa, terutama anggota muda Uksa yang juga jadi peserta sertifikasi, berhak ikut mengajari dan mendampingi (buddy system) saat latihan menyelam,” tutur Humas Uksa Meisa Aulia Rahma.

Biasakan Diri

Dalam beberapa kasus, ada peserta yang mengalami kendala. Biasanya itu terjadi karena peserta panik, posisi badan kurang tepat, atau belum nyaman dengan alat selam. Hal itu wajar, terutama bagi mereka yang belum terbiasa dengan dunia air.

Solusinya, peserta harus sering berlatih dan mulai membiasakan diri. Meski semula kagok, toh nyatanya peserta sertifikasi bisa melewati tiap tahap dengan sukses. Setelah LKK, selama 27-31 Agustus proses sertifikasi dilaksanakan di Pulau Sintok, Karimunjawa. Di sana para peserta diuji soal kemampuan renang, pengaturan napas, adaptasi dengan kedalaman air (equalizing), dan injak-injak air (water trap). Meisa menuturkan, menyelam di kolam berbeda dengan di laut.

Di laut terdapat kadar garam (salinitas) yang memudahkan proses mengapung, juga arus yang mengharuskan penyelam untuk lebih waspada. Meski terdengar ngeri, peserta tak perlu khawatir.

Pasalnya, mulai dari PAP, LKK, hingga proses uji tersebut peserta didampingi instruktur selam. Tahun ini Uksa menunjuk instruktur tersertifikasi B2 POSSI, Amiruddin, yang sekaligus alumni Uksa. “Memiliki lisensi selam adalah nilai plus, mengingat Indonesia merupakan negara maritim yang kekayaan lautnya tak perlu diragukan. Kecuali itu, di saat warga dunia berlomba-lomba ke Indonesia untuk melihat keindahan bawah laut, mengapa kita tidak melakukannya juga?,” tutup Angra. (43)

Sofie Dwi Rifayani