image

SM/Antara TERIMA ULAMA: Presiden Joko Widodo menerima kedatangan para ulama Jawa Tengah di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/9/).(24)

14 September 2017 | Berita Utama

”Jangan Sampai Antartetangga Tidak Rukun”

  • Jelang Tahun Politik

JAKARTA- Presiden meminta agar para ulama dapat membantu menjaga kerukunan umat pada Tahun Politik 2018.”Kami ingin sedikit mengingatkan kita semuanya bahwa tahun depan sudah mulai tahun politik. Jadi kami mohon bantuan kepada seluruh pimpinan pondok pesantren, para ulama, kiai, pimpinan ormas (organisasi kemasyarakatan) semuanya agar pada tahun politik, baik tahun depan maupun tahun depannya lagi itu kita jaga bersama,” kata Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka Jakarta, Rabu (13/9).

Presiden Joko Widodo yang didampingi Menteri Sekretaris Kabinet Pratikno menemui sekitar 40 orang ulama dari Jawa Tengah. ”Karena di Jawa Tengah ada pemilihan gubernur, kemudian pada September tahun depan itu sudah penetapan. Saya juga baru sadar, sudah penetapan capres (calon presiden) dan cawapres (calon wakil presiden). Oleh sebab itu, kami mohon agar kondusivitas di daerah, kerukunan antar masyarakat antarumat betul-betul kita jaga bersama,” tambah Presiden.

Presiden Joko Widodo juga mengingatkan agar jangan sampai ada lagi usaha untuk memecah belah, mengadu domba dan penyebaran kabar-kabar yang berpotensi memecah belah. ”Padahal itu adalah perhelatan politik lima tahun sekali. Jangan sampai karena perhelatan politik antartetangga nantinya tidak rukun apalagi antarumat menjadi tidak kelihatan persaudaraannya kembali,” tegas presiden.

Presiden berharap agar ulama Jawa Tengah pun dapat menjaga persaudaraan sesama umat Islam dan persaudaraan dalam ikatan kebangsaan. ”Inilah saya kira yang ingin kami sampaikan agar persaudaraan itu, baik ukhuwah Islamiyah kita, ukhuwah wathaniyah kita betul-betul kita jaga bersama,” ungkap Presiden.

Pekerjaan Besar

Presiden kemarin juga menjelaskan Peraturan Presiden (Perpres) Penguatan Pendidikan Karakter atau yang juga sering disebut Perpres Full Day School (FDS). ”Perlu kami sampaikan mengenai Perpres Penguatan Pendidikan Karakter sudah kami tanda tangani dan insya Allah ini menjadi pekerjaan besar kita semuanya baik itu pekerjaan besar bagi ulama maupun pekerjaan besar untuk pemerintah sebagai umarah,” katanya.

Presiden Joko Widodo menandatangani perpres itu pada 6 September 2017 di Istana Merdeka dan dihadiri oleh sejumlah pimpinan organisasi massa Islam. Perpres Nomor 87 Tahun 2017 itu merupakan pengganti dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 Tentang Hari Sekolah. ”Perpres ini diharapkan bisa memberikan sebuah dasar dan fondasi bagi masyarakat kita, bagi santri-santri kita, bagi anakanak didik kita sehingga dapat membetengi mereka dari intervensi budaya luar, budaya yang kita khawatirkan bersama bisa menggerus budaya baik yang kita punyai baik yang berkaitan dengan kesopanan, kesantunan, integritas, kejujuran, hormat kepada ulama, para kyai, para ustaz, para guru,” tambah Presiden.

Menurut Presiden, karakterkarakter itu yang seharusnya dapat muncul dan dikuatkan melalui Perpres tersebut. ”Dengan perpres ini juga kita harapkan pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan kota bisa mempunyai payung hukum yang jelas untuk memberikan bantuan APBN, APBD kepada proses penguatan pendidikan karakter ini baik di sekolah, madrasah, dan di pesantren karena payung hukumnya sudah ada,” tegas Presiden.

Perpres itu menyebutkan bahwa tidak wajib bagi sekolah atau madrasah menyelenggarakan pendidikan selama 8 jam dalam 1 hari atau 5 hari seminggu tapi dalam Perpres hal itu sifatnya menjadi opsional, artinya bisa 6 hari atau 5 hari. Gus Ubed, panggilan Kiai Ubedulloh Shodaqoh, minta Presiden meskipun sudah menerbitkan Perpres tetap mengawal pelaksanaannya sampai daerah. ”Karena di daerah sudah banyak sekolah yang memberlakukan lima hari sekolah. Bahkan sudah banyak santri yang pamitan kepada kiainya tidak bisa masuk madin karena harus memenuhi kewajiban sekolah,” tegasnya sebagaimana dikutip Gus Yusuf Chudlori.

Para kiai yang diundang ke istana antara lain Rois Syuriyah PWNU Jateng KH Ubedulloh Shodaqoh SH, Wakil Rois Suriyah Drs H Moh Adnan MA, Ketua PWNU Dr H Abu Hapsin Umar MA, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Yusuf Chudlori, KH Mucharror Ali Blora dan lain-lain. Di antara mereka juga terdapat tokohtokoh Muhammadiyah, LDII, dan MUI. (B13,ant-67)