14 September 2017 | Suara Kedu

Mahasiswa UGM Buat Lampu Alternatif

Dengan Kaleng Bekas Bisa Terangi Ruangan

TINGGINYAtarif listrik membuat rumah tangga harus berhemat menggunakan peralatan yang menggunakan listrik, salah satunya lampu. Kebiasaan mereka yang hidup di perkotaan, menyalakan semua lampu di malam dan siang hari, entah di ruangan yang digunakan maupun kosong. Akibatnya, tagihan listrik melonjak. Banyak cara dilakukan untuk menekan penggunaan listrik. Empat mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta melakukan penelitian dan berhasil mengembangkan lampu ramah lingkungan.

Lampu tersebut dibuat dengan memanfaatkan kaleng bekas dan cahaya matahari sebagai sumber cahaya. Aditya Ramdhona, Anggraini Puspitasari, Nesditira Sunu S dan Satrio Bayu Aji, menggagas lampu tanpa arus listrik yang hemat energi. Mereka meneliti dan menguji coba sejumlah penelitian hingga akhirnya berhasil mengembangkan lampu alternatif yang diberinama Solacan (Solar in a Can). Inovasi ini bermula dari keprihatinan mereka terhadap banyaknya sampah kaleng, bahkan cukup melimpah di Indonesia. Mereka terdorong mencari solusi untuk memanfaatkan limbah kaleng bekas menjadi barang yang bernilai guna.

Sinar Matahari

Di sisi lain mereka melihat konsumsi listrik khususnya penggunaan lampu yang cukup banyak di masing-masing rumah tangga. Padahal, potensi sinar matahari di luar ruangan jumlahnya tak terbatas.

Berangkat dari kondisi inilah mereka mengembangkan Solacan. Cara kerja alat ini cukup sederhana. Kaleng bekas digunakan untuk meneruskan cahaya matahari yang berada di luar ruang agar bisa masuk ke dalam ruangan. Caranya, cahaya dikumpulkan oleh light collector yang berbentuk cembung kemudian cahaya tersebut diteruskan ke tabung dan dipantulkan sehingga menuju ujung Solacan dan light diffuser akan menyebarkan cahaya ke seluruh ruangan.

Prinsip kerjanya sama dengan pemantulan cahaya. ’’Lampu alternatif ini tidak hanya mampu menghemat penggunaan energi listrik namun dengan pencahayaan alami melalui Slocan juga dapat menimbulkan efek fisiologis yang positif untuk kesehatan manusia. Selain itu mengurangi pencemaran lingkungan karena memanfaatkan limbah kaleng,’’’tutur Aditya.

Poduk ini dapat dikembangkan secara massal misalnya oleh pemulung sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga. Banyak sekali kaleng bekas yang dibuang dan menjadi limbah yang sulit teruraikan.(Agung PW-26)