14 September 2017 | Suara Muria

Rezeki dari Plastik Kemasan Ikan

PERUBAHANkapal penangkap ikan yang dulu menggunakan pancing sebagai alat tangkap dan kemudian digantikan jaring modern serta dilengkapi ruang pendingin, dicermati pengumpul barang bekas, khususnya plastik. Hal itu memberi peluang kepada mereka untuk mendapatkan penghasilan dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Unit I Juwana, Pati.

Tiap hari mereka menunggu di tepi Sungai Juwana, tempat kapalkapal dengan alat tangkap pancing membongkar hasil tangkapan. Hal itu untuk mengumpulkan lembar demi lembar kemasan plastik. Plastik itu harus dilepas sebelum ikan beku tersebut ditimbang untk dilelang.

Di tangan bakul, ikan-ikan itu akan diolah lebih dulu. Hal itu mengingat jenisnya jika harus dimasak tidak bisa dilakukan secara utuh. Ikan-ikan itu seperti pari, mremang, manyung, tongkol, dan lainnya yang diolah menjadi ikan panggang. Jadi, plastik pembungkus ikan itu harus dilepas agar es yang membalut ikan tersebut mencair. Pelepasan pastik tersebut harus dilakukan mengingat penimbangan berat sebelum ikan itu dilelang tidak termasuk plastiknya.

Adapun pengemasan ikan itu dengan plastik dimaksudkan agar ikan tersebut tetap awet disimpan di lemari pendingin di kapal penangkap ikan selama sebulan lebih. ”Hal tersebut sekaligus sebagai persiapan lelang ikan dengan kualitas baik jika nanti fasilitas bangunan untuk keperluan tersebut selesai dibangun,” kata petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislautkan) Kabupaten Pati, Moh Soleh. Karena plastik bekas kemasan ikan tersebut tidak terpakai, kata salah seorang pengumpul, Parmi, warga Desa Growong Lor, Kecamatan Juwana, Pati, dia mengambil plastik bekas yang diturunkan dari kapal.

Tentang berapa besar banyaknya plastik yang dibayar, dia sama sekali tidak tahu karena yang mengurus salah seorang putranya. Diberi imbalan berapa saja, para ABK tidak masalah karena biasanya hanya sebagai pengganti jerih payah. Jika melihat yang dilakukan pengumpul lainnya, pengganti jerih payah tersebut terlihat sekadarnya karena jika dibuang begitu saja, justru menjadi sampah yang mengotori Sungai Juwana.

Tiap hari Parmi bertugas mencuci plastik bekas kemasan ikan tersebut, dan memilihnya sebelum dikeringkan di areal penjemuran. Jika sudah benar-benar kering, plastik itu dikemas, lalu disetorkan ke pengepul. Baginya, kegiatan tersebut merupakan kesibukan baru ketimbang menganggur di rumah.

Seharian ia bisa menunggu di tepi sungai untuk mendapatkan plastik bekas kemasan ikan. Ia memilih menunggu di tempat itu daripada pulang ke rumah yang jaraknya relatif jauh. ”Harga plastik bekas itu Rp 2 ribu per kilogram,” kata dia yang mengaku sehari kadang bisa mendapat 20 kilogram plastik bekas. (Alman ED-14)