14 September 2017 | Suara Pantura

Ratusan Siswa Blokade Tol

  • Ganti Rugi Sekolah Belum Dibayar

BATANG- Sebanyak 200 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darussalam, Desa Juragan, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang bersama para guru melancarkan aksi damai di sekitar lokasi proyek jalan tol di dekat sekolah mereka, Rabu (13/9).

Aksi tersebut sebagai wujud protes atas tuntutan pihak sekolah yang sampai saat ini belum juga dipenuhi antara lain ganti rugi tanah dan bangunan sekolah yang terkena proyek Rp 800 juta. Dalam aksi itu, ratusan siswa dan guru juga memblokade proyek tol yang ada di sekitar area sekolah. Mereka memasang papan kayu untuk menutup akses jalan sehingga kendaraan dan alat berat pendukung aktivitas proyek tidak dapat melintas.

Akibat aksi ini, aktivitas galian untuk tol di Desa Juragan juga terhenti. Para siswa dan guru dalam demo itu mengenakan masker penutup mulut, melampiaskan kekesalan mereka dengan menuliskan tuntutan mereka.

Seperti ” Bebaskan Kami dari Debu Polusi Udara, dari Asap Polusi Suara”, ” Kami Butuh Ketenangan dan Kenyamanan”, ” Terima Kasih PT Waskita telah Menjadikan Kami sebagai Mesin Penyedot Debu” dan ” Hey PPK Cairkan Hak-Hak Kami Cepat”. Kepala MI Darussalam Juragan Musyarofah mengatakan, aksi terpaksa digelar sebagai akumulasi kekecewaan karena sampai sekarang tuntutan mereka belum ada penyelesaian. ”Tanah dan bangunan sekolah kami terkena tol.

Tapi sampai sekarang belum ada pembayaran ganti rugi. Kami sudah melengkapi berbagai persyaratan yang diminta, namun belum juga direalisasikan pembayarannya,” tuturnya, kemarin. Dia menambahkan, dampak dari berlarut-larutnya pembayaran ganti rugi lahan dan bangunan sangat terasa. Pasalnya, siswa di sekolah tersebut harus belajar di tengah-tengah proses pembangunan konstruksi jalan tol. ”Setiap hari, siswa mengikuti proses belajar mengajar dengan debu yang beterbangan dan masuk ke dalam kelas,” tuturnya.

Akibat dari kondisi lingkungan yang buruk itu, dia menegaskan, banyak siswa yang mengalami sesak nafas dan kondisi sekolah menjadi kotor. Belum lagi mereka juga harus merasakan kebisingan karena adanya kendaraaan berat yang melintas. ”Sudah enam bulan ini, banyak siswa yang tidak masuk sekolah karena mengeluhkan kesehatannya, terutama karena gangguan pernafasan,” ucapnya.

Bersihkan Kelas

Tiap pagi, menurut Juragan Musyarofah, guru juga tidak langsung mengajar karena harus membersihkan kelas lebih dulu yang kotor karena debu. ”Dalam satu hari, bisa empat sampai lima kali pembersihan ruang kelas,” tuturnya. Tidak hanya itu, dia menuturkan, pemberian air bersih yang dijanjikan juga tidak sesuai kesepakatan.

Padahal air bersih sangat dibutuhkan siswa dan guru untuk minum, kebutuhan kamar mandi, toilet dan lainnya. ”Kami mohon agar pembayaran ganti rugi lahan dan bangunan MI bisa benar-benar secepatnya dilakukan. Kalau belum juga ada kejelasan kasihan siswa yang mengikuti proses belajar mengajar,” tegasnya.

Dia juga menuntut ada kompensasi kesehatan dari dampak tol, pekerjaan tol harus di luar jam belajar dan pemberian air bersih tepat pada waktunya. Dia menambahkan, bangunan sekolah semuanya terkena proyek jalan tol. Jika ganti rugi sudah dibayarkan, pihak sekolah segera mencari pengganti sekolah di lokasi lain.(H56-15)