14 September 2017 | Suara Pantura

Tembak Burung Hantu Kena Denda Rp 5 Juta

PEMALANG- Populasi burung hantu (tytoalba) di Kabupaten Pemalang semakin bertambah. Pertambahan ini menurut Kepala Desa Penggarit, Kecamatan Taman, Imam Wibowo lantaran keberhasilan dalam penangkaran dan perlindungan terhadap satwa pemangsa tersebut. ”Di desa Penggarit populasi burung hantu sudah mencapai ratusan ekor, mereka hidup di alam bebas,” ucapnya, Rabu (13/9).

Untuk mendukung kehidupan burung tersebut, menurut dia, para petani bersama pemerintah desa dan lembaga yang terkait membangun rubuhan (rumah burung hantu) sebanyak lebih kurang 40 buah. Burung hantu ini, Imam menambahkan, menjadi sahabat petani dalam membasmi hama tikus, sehingga mereka bisa leluasa bercocok tanam tanpa khawatir serangan hama tikus. Karena itu pemerintah desa mengeluarkan peraturan untuk melindungi burung hantu di alam bebas desanya.

Tak Boleh Menembak

”Siapa pun tidak boleh menembak burung hantu, apabila ketahuan dan tertangkap akan kami denda Rp 5 juta,” kata Imam. Sosialisasi larangan berburu burung hantu ini dilakukan di berbagai kesempatan. Bahkan di pintu masuk Desa Penggarit juga dipasang banner bertuliskan larangan masuk bagi pemburu.

Sementara itu dengan berkembang biak burung hantu di sana, banyak petani dari tetangga desa dan daerah lain berbondong- bondong datang untuk belajar. Di antara tamu-tamu tersebut ada pula yang datang dari luar Jawa. Adapun saat ini, menurut Imam, kandang penangkaran yang biasa dijadikan objek studi banding sudah tidak dihuni burung hantu.

”Semua burung hantu sudah kami lepas ke alam bebas, kalau ada studi banding, maka kami ajak ke sawah, langsung ke rubuhan,” ucapnya. Desa Penggarit ini letaknya di tepi hutan Perhutani KPH Slarang. Pertaniannya mengandalkan pengairan dari saluran Simangu, Bendung Sungapan. Meskipun berada di tepi hutan namun warganya optimistis bisa melindungi burung-burung hantunya dari para pemburu.(K40-15)