14 September 2017 | Semarang Metro

Pasar Yaik Dibongkar Akhir Tahun

  • Alun-Alun Perlu Dikembalikan

SEMARANG- Persiapan pembangunan kompleks Pasar Johar terus berjalan. Setelah pertokoan Pasar Kanjengan, Pasar Yaik Baru dan Yaik Permai menyusul akan dibongkar.

Rencananya, pembongkaran dilakukan pada Desember, saat tempat relokasi di lahan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) siap. Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto menjelaskan, lelang pembangunan lapak sementara di tempat relokasi sudah selesai. Dari Rp 19,3 miliar dana yang disiapkan, PT Uno Tanoh Seuramo menjadi pemenang lelang dengan tawaran Rp 16,196 miliar. ”Pembangunan tempat relokasi dimulai 8 September dan selesai pada 21 Desember. Akan dibangun 2.688 lapak dari total kebutuhan 3.000 lapak.

Untuk sisa pedagang, bisa memilih untuk menempati Pasar Dargo, dan Banjardowo yang masih kosong,” papar Fajar, kemarin. Dia menambahkan, sesuai dengan rencana awal, lahan di lokasi Pasar Yaik Baru dan Yaik Permai tersebut akan dibangun alun-alun Semarang.

Ini bagian dari revitaliasi Kompleks Pasar Johar. Selain alun-alun, juga ada rekonstruksi Pasar Johar Lama (Bangunan Cagar Budaya) dan pembangunan Pasar Johar Baru (eks Pertokoan Kanjengan). Adapun sosialisasi terkait dengan hal itu sudah dilakukan jauh-jauh hari. Namun, pada November mendatang, akan kembali dilakukan sosialisasi kepada para pedagang.

Harapannya, para pedagang dapat mendukung program ini demi perkembangan Kota Semarang. Pada 2018, Pasar Yaik akan ditutup dengan pagar seng. Sementara itu, Ngadino (56), salah satu pedagang makanan di Pasar Yaik, mendukung program pengembalian alun-alun. Namun, dia dan para pedagang lain meminta agar Pasar Johar Baru dan BCB diselesaikan dulu, baru membangun alunalun. ”Harapan kami, kalau alun-alun mau diwujudkan, Johar diselesaikan dulu. Pedagang Pasar Yaik nantinya langsung masuk ke Johar baru. Tidak harus ke relokasi dulu,” tandas dia.

Sosialisasi

Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Agus Riyanto mengatakan, Dinas Perdagangan sudah beberapa kali melakukan sosialisasi. Namun, bila masih dirasa perlu dilakukan lagi, tidak ada salahnya. Harapannya, seluruh pedagang mengetahui dan mau mendukung program pemerintah tersebut. ”Pengembalian alun-alun Semarang perlu didukung. Ini bagian dari sejarah perkembangan Kota Semarang, dan berkaitan dengan keberadaan Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman). Fungsinya juga sangat banyak, bisa dijadikan tempat wisata, dan lokasi acara dugderan yang selama ini digelar di jalan,” tambah Agus.

Dalam sejarahnya, imbuhnya, dulu kawasan Pasar Yaik berupa alun-alun yang berfungsi sebagai ruang terbuka. Mengakomodasi berbagai kegiatan di antaranya interaksi sosial, acara dugderan, dan pengajian. Kawasan ini sangat penting keberadaannya bagi masyarakat sejak 1480. Alun-alun tersebut, menjadi pusat kota seperti desain kota kebanyakan di Jateng.

Di sekelilingnya terdapat kanjengan atau kantor bupati dan Masjid Kauman sebagai ruang ibadah bagi masyarakat. Pada 1930, di bawah pemerintahan jajahan Belanda dibangun Pasar Johar yang bertujuan mengakomodasi perdagangan pada masa itu. Pasar Johar kemudian semakin berkembang dan menjadi pusat perekonomian. Pada 1970 dibangun Pasar Yaik di alun-alun kota untuk mengakomodasi kegiatan pedagang semakin tidak terkendali dan terakomodasi di kawasan ini. Sebelum dibangun pasar, dulu tempat tersebut sempat dijadikan terminal. ”Setelah jadi, para pedagang bisa kembali ke Kompeks Pasar Johar. Di bawah alun-alun yang akan dibangun, disiapkan basement yang bisa digunakan untuk tempat parkir dan berjualan. Setelah jadi, Pasar Johar Baru juga bisa menampung banyak pedagang,” jelas Agus.(K18, fri-57)