14 September 2017 | Internasional

Suu Kyi Janjikan Rekonsiliasi

  • Batal Hadiri Sidang Umum PBB

YANGON- Setelah lama bungkam, pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi berjanji akan buka suara soal krisis di Rakhine pada pekan depan. Juru bicara Suu Kyi, Zaw Htay, menyatakan peraih Nobel Perdamaian itu akan menyampaikan pidato nasional untuk ”menyerukan rekonsiliasi dan perdamaian” pada 19 September mendatang.

Dalam konferensi pers kemarin (13/9), Zaw Htay menyebutkan bahwa pidato itu akan disiarkan secara langsung oleh televisi setempat. Dia juga menyatakan Suu Kyi tidak akan hadir dalam Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat (AS) pekan depan.

Dia menyatakan, selain karena menangani krisis di dalam negeri, ketidakhadiran Suu Kyi juga disebabkan oleh ancaman keamanan yang ditimbulkan oleh para militan dan upaya-upanya untuk memulihkan stabilitas.

”Yang pertama adalah situasi terkini di Negara Bagian Rakhine. Kami mengalami serangan-serangan teroris dan di sana ada banyak pekerjaan terkait keamanan publik dan kemanusiaan,” kata Zaw Htay. ”Dan alasan yang kedua adalah kami telah menerima laporan kemungkinan serangan teroris di negara kami,” imbuhnya.

Kekerasan kembali marak di Rakhine sejak 25 Agustus lalu, ketika kelompok bersenjata Rohingya melancarkan serangan ke puluhan pos polisi dan pangkalan militer. Militer Myanmar merespons serangan tersebut dengan melancarkan operasi militer besar-besaran. Kepala Bidang Hak Asasi Manusia PBB, Zeid Ra'ad Al Hussein, menyatakan tindakan militer Myanmar ”sesuai dengan ciri-ciri pembersihan etnis”.

Pengungsi Melonjak

Sekitar 379 ribu etnis minoritas Rohingya telah menyelamatkan diri ke Bangladesh untuk menghindari operasi militer tersebut, setara dengan 20 ribu orang per hari. Juru bicara badan pengungsi PBB, Joseph Tripura, kemarin menyatakan jumlah tersebut meningkat 9.000 orang dalam 24 jam.

Otoritas Bangladesh saat ini tengah mendata warga yang baru datang serta membangung sebuah kamp baru untuk menampung lonjakan pengungsi. ”Kami telah memindahkan ribuan orang ke kamp ini, tempat kami membangun penampungan untuk mereka,” kata Ali Hossain, administrator pemerintah untuk Distrik Cox's Bazar, kemarin.

Suu Kyi menuai kritikan banyak pihak karena dianggap tidak berbuat banyak untuk menghentikan kekerasan terhadap warga muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine. Padahal dia dikenal sebagai pembela hak asasi manusia dan pemenang Nobel Perdamaian. Sejumlah pihak menduga Suu Kyi sengaja absen dalam Sidang Umum PBB untuk menghindari hujan kritik. Namun juru bicara Suu Kyi, Aung Shin, membantah hal itu. ”Dia tidak pernah takut menghadapi kritik atau menghadapi masalah.

Mungkin dia punya banyak masalah mendesak untuk diurus,” kata Aung Shin dalam sebuah pernyataan. Pada pidato pertamanya di Sidang Umum PBB 2016, Suu Kyi membela usaha pemerintahnya dalam menyelesaikan krisis mengenai perlakuan terhadap minoritas Muslim di Rakhine. Itu adalah pidato pertama ibu dua orang putra tersebut sebagai pemimpin Myanmar. Terkait Sidang Umum PBB, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan akan membawa isu Rohingya dalam pertemuan tersebut.

Ketua Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) itu ingin agar isu Rohingya dapat didengar langsung oleh para pemimpin dunia yang hadir. Sementara itu Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang tertutup untuk membahas krisis pengungsi Rohingya pada Rabu (13/9) waktu setempat.(afp,bbc,cnn-mn-53)