14 September 2017 | Fokus Jateng

Wayang Umur 200 Tahun Jadi Daya Tarik

  • Dipamerkan di Kompleks RSPD

KLATEN semakin meneguhkan eksistensinya di bidang perwayangan. Tidak hanya dikenal sebagai gudangnya dalang, tapi juga seniman dan perajin yang bergelut di dunia perwayangan. Untuk itulah, Klaten menggelar pameran wayang kulit, baru-baru ini. Sebuah pameran dan sarasehan wayang kulit tiga zaman digelar dengan memamerkan ratusan wayang kulit, di Gedung Sunan Pandanaran, kompleks RSPD Klaten, 11-12 September. Kegiatan itu bertujuan sebagai promosi khazanah seni budaya Klaten.

Menurut Ketua Seniman Muda Klaten Club (SMKC), Suluh Juliarsah, acara itu menunjukkan Klaten tak hanya maju dalam seni pedalangan saja, namun juga mempunyai potensi kerajinan wayang kulit yang hasilnya sudah diakui oleh rajaraja Keraton Surakarta dan Yogyakarta. ‘’Di Klaten banyak perajin wayang yang karyanya dipakai raja-raja Solo dan Yogyakarta. Sayangnya, saat ini perajin wayang sudah sangat minim, sehingga kami ingin menghidupkan kembali kejayaan kerajinan wayang kulit Klaten,’’ ujar Suluh.

Keunggulan

Wayang kulit buatan perajin Klaten punya keunggulan, yakni bentuk raut wajah tokoh wayang sangat detail seperti lubang mata, dan mulut, sehingga sangat berkarakter. Tak heran bila banyak kolektor wayang antik yang bersedia membayar dengan harga fantastis.

Di antara wayang-wayang yang dipajang dalam pameran, ada lima wayang yang berusia paling tua yakni lebih dari 200 tahun. Hebatnya, kondisi kelima wayang tersebut masih baik. Kelima wayang itu adalah tokoh Dasamuka, Anoman, Gatutkaca, dan Werkudara, semuanya dipajang di geber dekat pintu masuk.

Suluh Juliarsah menambahkan, wayang dipajang pada ‘’Pameran dan Sarasehan Wayang Kulit: Klaten Kota Wayang Masa Lampau, Masa Kini, dan Masa Depan’’itu merupakan koleksi dari para seniman, dalang, dan kolektor wayang lawas. ‘’Ada sekitar 200 wayang yang dipajang pada pameran kali ini. Yang paling tua umurnya mencapai 200 tahun, kalau paling baru dibuat tahun 1960-an,’’í kata dia.

Wayang kuno tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung pameran. Memang bila dilihat sekilas saja, wayangwayang tersebut sudah tampak berumur karena warna kulit sudah kecoklatan dan agak kusam. Wayang-wayang kuno tersebut dibuat seorang empu di Klaten di Zaman Keraton Kartosuro.(Merawati Sunantri-54)