13 September 2017 | Wacana

TAJUK RENCANA

Antisipasi Dampak Kekeringan di Jateng

Hampir seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah mengalami kekeringan. Data yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, 1.254 desa di Jateng mengalami kekeringan. Luas perdesaan yang dilanda kekeringan itu tersebar di 275 kecamatan pada 30 kabupaten dan kota. Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, musim penghujan baru akan dimulai bulan Oktober-November mendatang.

Wilayah yang disebut BNPB mengalami kekeringan lebih awal, selain Jateng, adalah Nusa Tenggara dan Kulonprogo. Menurut rilis tersebut, meskipun musim kemarau berlangsung normal, daerah-daerah tersebut sudah lebih dulu dilanda kekeringan. Untuk menanggulangi dampaknya, BNPB memberikan bantuan berupa dana siap pakai dan menyuplai kebutuhan air bersih. Pemprov Jateng menyiapkan dana Rp 9 miliar untuk mengantisipasi bencana kekeringan.

Terdapat 1,42 juta jiwa di Jateng yang menurut BNPB terdampak kekeringan. Mereka membutuhkan bantuan air bersih untuk berbagai keperluan sehari-hari. Kebutuhan ini perlu segera ditanggulangi agar penduduk di daerahdaerah yang mengalami kekeringan terhindar dari berbagai dampak buruk. Misalnya, penyakit yang diakibatkan oleh penggunaan air yang tidak layak minum. Juga penyakit kulit karena warga harus mandi dari air kotor yang tersedia di lingkungannya.

Dampak lain berupa kekurangan air irigasi untuk pertanian. Meskipun di Jateng terdapat sejumlah waduk, biasanya saat musim kemarau elevasi air waduk menurun drastis. Kemampuan waduk untuk menyuplai kebutuhan air irigasi juga menurun. Agar produksi pertanian tidak terganggu, perlu diantisipasi penyediaan air irigasi melalui penjatahan sumber air embung dan sumur-sumur pantek. Petani perlu dibantu biaya dalam pembuatan sarana dan prasarana irigasi.

Secara teknis, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) biasanya sudah cukup mengetahui apa yang harus disiapkan dan ditangani dalam menghadapi bencana kekeringan ini. Mereka tentu sudah memetakan daerah mana saja yang harus diprioritaskan dalam penanganannya. Kita harapkan pemetaan itu segera ditindaklanjuti dengan kesiapan personel dan sarananya. Tenaga pelaksana harus siap dan mampu menjangkau daerah yang membutuhkan bantuan.

Selain prioritas untuk penduduk yang memerlukan bantuan karena faktor kemendesakan, BPBD tentu sudah mengetahui daerah-daerah mana di Jateng yang merupakan kantong-kantong kemiskinan. Daerah-daerah ini mutlak membutuhkan perhatian lebih dan perlu mendapatkan prioritas anggaran bencana. Jangan sampai kekeringan memaksa warga miskin mengeluarkan biaya lebih banyak untuk membeli air bersih. Di sinilah urgensi dana bantuan kekeringan.