13 September 2017 | Wacana

TAJUK RENCANA

Geliat Properti Sinyal Perbaikan Ekonomi

Sinyal-sinyal positif ke arah pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi mulai terlihat walaupun sebagian besar pengusaha masih bersikap wait and see untuk melakukan ekspansi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membawa kabar baik yakni adanya kecenderungan meningkatnya penjualan di sektor properti yang dalam satu dua tahun terakhir agak melemah. Hal itu antara lain dipicu oleh penurunan suku bunga bank. Sektor properti menjadi salah satu andalan karena mempunyai multiplier effect.

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam rapat dengan Komisi XI DPR memberikan sinyal yang sama yakni perbaikan dari sisi pertumbuhan investasi maupun konsumsi. Di Indonesia laju pertumbuhan ekonomi dipicu oleh konsumsi rumah tangga di samping investasi. Target pertumbuhan tahun 2018 sebesar 5,4 persen akan ditopang oleh investasi dan konsumsi seperti rumus dasar dalam ekonomi makro. Untuk mencapai target itu, maka investasi harus meningkat 6,3 persen dan konsumsi naik 5,1 persen.

Peningkatan konsumsi di sektor properti pastilah dibarengi dengan investasi. Geliat di sektor properti menjadi indikator penting bagi pertumbuhan karena ada backward linkage maupun foreward linkage. Pemasaran megaproyek properti kota baru Meikarta di Kerawang, Jawa Barat adalah salah satu contoh masih tingginya minat investasi masyarakat di properti. Dan kita tahu sektor ini padat karya, sehingga menyerap banyak tenaga kerja serta bisa menjadi lokomotif bagi penjualan barang dan jasa lainnya.

Penurunan bunga bank berpengaruh bagi peningkatan kredit baik untuk investasi maupun konsumsi. Namun harus diakui sikap menunggu dunia usaha juga perlu dicermati karena menghambat laju peningkatan investasi dan pertumbuhan. Stabilitas ekonomi ditunjukkan oleh beberapa indikator seperti kurs rupiah, indeks harga saham gabungan, dan rendahnya laju inflasi. Namun rupanya belum cukup mampu meyakinkan pengusaha. Kemungkinan ada faktor nonekonomi dan situasi global.

Harus diakui belasan paket kebijakan di bidang ekonomi belum banyak berpengaruh karena berbagai faktor. Iklim investasi dan usaha banyak terkendala banyak aspek di lapangan. Hambatan peraturan dan birokrasi yang mendorong ekonomi biaya tinggi masih saja dirasakan. Maka setelah bunga turun, kendala teknis mulai perizinan hingga berbagai kerumitan di pelabuhan perlu diatasi. Dalam praktik hal-hal seperti itu justru lebih sulit diatasi dibanding menjaga stabilitas ekonomi.

Baik pemerintah maupun DPR optimistis melihat ekonomi ke depan. Apalagi sudah ditandai oleh geliat di sektor properti dan investasi lainnya. Bahkan sudah bisa digambarkan kita akan kembali mencapai laju pertumbuhan 6 persen pada tahun 2019. Penopangnya tetap investasi dan konsumsi. Maka menjadi penting untuk selalu menjaga iklim usaha dan meningkatkan daya beli masyarakat. Kita berharap dinamika politik tahun depan menjelang pemilu dan pilpres tidak sampai mengganggu ekonomi.